Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Melamar


“Rekaman CCTV-nya masih tidak ada, Piter?” tanya Lindsey.


“Iya. Aku juga bingung.” jawab Piter.


“Bagaimana kalau kita masuk ke ruang keamanan Grand Mansion? Seperti yang biasa kita lakukan, Lindsey. Menyusup.” sahut Katie.


“Wah, itu gila. Sama saja seperti masuk ke kandang singa. Jarvis kan pemilik Grand Mansion.” balas Piter.


“Hah iya?! Grand Mansion milik Jarvis??” tanya Katie yang terkejut.


“Iya. Sertifikat kepemilikannya ada di safety box.” jawab Piter.


“Bisa saja kita menyusup. Tapi Jarvis dan Carlos tidak boleh ada di sana.” sahut Lindsey.


“Iya, benar itu. Begini saja, seperti biasa, Lindsey menangani Jarvis, Katie menangani Carlos, aku yang akan menyusup ke dalam.” ucap Kapten.


“Tapi sepertinya tidak bisa pakai cara menyusup. Karena Jarvis sudah mengenali wajah Kapten. Kalau Kapten ketahuan kan kita semua berada dalam bahaya.” balas Katie.


“Benar juga. Atau, Lindsey dan Kapten yang masuk ke sana, menyamar sebagai sepasang kekasih. Ceritanya Kapten ingin melamar Lindsey dengan cara yang romantis, jadi kalian memesan sebuah kamar VVIP. Kalau takut wajah kalian akan dikenali, aku akan meretas CCTV dengan mengedit wajah kalian dan kalian tinggal mengubah penampilan kalian, dengan wig, kacamata, dan sebagainya supaya lebih aman.” Piter mengutarakan idenya.


“Sepasang kekasih? Kita? Aku dan Kapten?” tanya Lindsey sambil menunjuk dirinya dan Kapten.


“Kenapa? Kamu terlihat dewasa dan bisa menyeimbangi Kapten, kok.” jawab Piter.


“Lagi pula Kapten juga belum terlihat tua. Baru pertengahan 30-an.” sahut Katie.


“Berhenti meroasting-ku. Bagaimana kalau kamar VVIP sedang tidak tersedia karena ada kasus pembunuhan?” balas Kapten.


“Lindsey kan pintar akting. Atau kita sogok saja staf hotelnya.” ucap Piter.


“Wait. Kalau Lindsey pergi akting dengan Kapten, siapa yang menangani Jarvis?” sahut Katie.


“Siapa lagi? Ya, kamu lah! Memangnya Lindsey bisa membelah diri?” balas Piter.


“Kalau aku bisa membelah diri, akan aku belah jadi 3. Satu untuk Jarvis, satu untuk firma, satu lagi bersantai di rumah.” ucap Lindsey.


“Baiklah, begitu saja. Rencana kali ini akan didirect oleh Piter dari markas. Aku dan Lindsey ke hotel, Katie menangani Jarvis dan Carlos.” balas Kapten.


“Kalian harus memakai wig. Aku yang akan mendandani kalian.” ucap Katie kepada Kapten dan Lindsey.


Jeng.. jeng.. jeng..


Brrmm...


Sebuah mobil sedan mendarat sempurna di depan hotel Grand Mansion. Seorang petugas di sana membukakan pintu mobil Kapten dan Lindsey kemudian mengambil alih mobil untuk diparkirkan di tempat khusus. Lindsey mengenakan wig berwarna merah dengan model rambut bob berponi yang sama warnanya dengan lipstick yang dia gunakan yaitu warna merah merekah, ditambah lagi gaun hitam ketat selutut yang menampilkan lekuk tubuh beserta bok*ng dan dadanya yang berisi dan outer berbahan bulu berwarna putih. Tidak lupa dengan kacamata hitam untuk mempermulus penyamarannya.


Sedangkan Kapten sendiri memakai kemeja dan jas yang berwarna hitam, dasi kupu-kupu berwarna merah, wig dengan model rambut keriting, tidak lupa dengan kacamata. Kostum mereka memang berbeda 180° dari gaya berpakaian mereka aslinya, dan itu semua sengaja dipilihkan Katie dengan alasan untuk menyukseskan penyamaran. Tidak lupa dengan earbuds kecil yang terpasang di telinga mereka.


Lindsey dan Kapten tiba di hotel. Mereka memainkan peran sebagai pasangan yang dimana ceritanya Kapten akan melamar Lindsey di hotel. Begitu baru melangkahkan kaki memasuki hotel, pasangan itu sudah menjadi pusat perhatian orang yang sedang berlalu lalang. Kapten bergerak ke meja resepsionis, ingin memesan kamar VVIP namun staf hotel mengatakan bahwa ternyata kamar VVIP penuh, ada 2 yang tersisa di lantai yang sama dengan kamar Jarvis namun lantai itu ditutup sementara karena ada kasus pembunuhan.


Dengan gencarnya, karena ingin melamar dan harus memberikan effort lebih, Kapten memaksa staf hotel itu untuk memperbolehkan mereka memesan kamar VVIP di lantai yang sama dengan kamar Jarvis. Kapten juga memperlihatkan sebuah kotak berisi cincin yang berkilauan kepada salah satu staf hotel agar staf hotel itu meyakini setiap ucapan yang Kapten umpankan.


“Begini.. kekasih saya memang agak sensitif. Bagaimana mungkin saya melamarnya di kamar biasa saja? Dia pasti akan menolak saya.” ucap Kapten sambil menengok Lindsey di belakang. Staf hotel itu pun juga melihat ke arah Lindsey beserta penampilannya.


“Hanya satu jam saja. Begitu my honey sweetie girl menerima lamaranku, kita akan segera keluar dari kamar itu.” lanjut Kapten seraya memperlihatkan cincin. Mata staf hotel itu seketika berbinar begitu melihat cincin yang Kapten perlihatkan. Kapten mengedipkan sebelah matanya dan mengangguk-angguk kepada staf hotel tersebut yang kebetulan seorang wanita.


“Apa? My—my honey sweetie? Hooeekk..!” ucap Piter melalui earbuds.


Staf hotel itu pun akhirnya mengiyakan permintaan Kapten.


Naluri seorang wanita tidak pernah salah. Seorang wanita ingin sekali diperlakukan romantis oleh pasangannya, dan staf hotel wanita itu juga pada akhirnya mengerti.


”Tapi satu jam saja, ya, pak.” ucap staf hotel.


Staf hotel itu kemudian menggiring mereka ke kamar 3208. Dan benar saja apa yang dikatakan Piter, ternyata memang ada CCTV yang berukuran kecil di lorong. Letaknya di pojok dinding atas. Kalau asal berjalan memang tidak terlihat.


Kapten dan Lindsey masuk ke dalam kamar 3208. Staf hotel pun meninggalkan mereka. Bersama-sama mereka menjadi yakin bahwa ada yang disembunyikan Jarvis. Dengan melibatkan staf hotel lagi, Lindsey memainkan peran wanita manja yang baru saja kehilangan cincinnya. Kapten memanggil staf hotel yang sama. Pasangan tersebut terus memburu staf hotel, tanpa ragu Lindsey menyatakan ingin menelepon polisi dan menuntut pihak hotel atas hilangnya cincin tunangan miliknya yang sebenarnya tidak hilang melainkan Lindsey simpan di tasnya. Lindsey pun terus merengek.


“Oh My Godness! Oh no, baby! My so beautiful precious shining shimmering splendid ring was gone! Cincinku hilang. What’s wrong with this hotel?! Ada apa dengan hotel ini?! Apakah di hotel ini ada pencurinya?! Oh, no! No, no, no! Oh my God! There is a robber in this hotel! Oh my God, oh my God, oh my God! Should I call the police, baby?” Lindsey merengek dengan manja yang dengan jelas itu merupakan aktingnya.


“Hoooeekkk..!! Dari semua peran yang pernah kamu mainkan, peran ini yang paling menjijikan, Lindsey.” ucap Piter melalui earbuds.


“Jangan, bu. Jangan. Jangan menelepon polisi. Kami baru saja berurusan dengan polisi karena terjadi pembunuhan di hotel ini..” balas staf hotel.


“What?!?! A murder?! Pembunuhan?! Oh my God, oh my God, oh my God! Baby, bagaimana ini?” Lindsey menjatuhkan dirinya di atas sofa, berpura-pura lemas dan hampir mau pingsan.


Sementara Kapten membawa staf hotel agak jauh dari Lindsey.


“Sudah saya bilang, kekasih saya itu sangat sensitif dan agak rada-rada. Agak miring. Dia tidak akan berhenti sampai cincin itu ketemu.” ucap Kapten.


“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Cincinku sudah lepas begitu lama dari jariku ini. Aku akan menelepon polisi!” Lindsey terus merengek.


“Ehh ehhh, jangan bu. Jangan telepon polisi.” ucap staf hotel yang terpotong.


Kapten mengeluarkan sekiranya 20 lembar uang kertas berwarna merah. “Anda masih ingat bentuk cincinnya, kan? Harganya mencapai milyaran rupiah. Dan ini memang tidak seberapa dengan harga cincinnya, tapi saya akan langsung membawa kekasih saya pulang begitu cincinnya sudah ditemukan.” ucap Kapten.


“Hmm.. begini, pak.. sebenarnya ada CCTV di lantai VVIP. Kami diam-diam memasangnya untuk keamanan. Bagaimana kalau kita cek CCTV-nya saja?” Kapten berhasil menyogok staf hotel tersebut.


Kapten dan Lindsey saling bertatapan. CCTV itu memang ada dan menyala. Hotel diam-diam sengaja memasangnya. Tapi Jarvis mengaku ke Lindsey bahwa tidak ada CCTV di lantai VVIP. Kecurigaan Lindsey dan gengnya semakin kuat.


“Let's go, guys! Langsung ke ruang keamanan.” Piter memberi perintah melalui earbuds.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih