Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Noah Sakit


halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku akan up 3 episode sekaligus.. dan di episode kali ini 2,5x ❤️LEBIH PANJANG❤️ dari yg biasanya.. pelan-pelan ya bacanya... jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻


...****************...


Hingga di pagi hari, Lindsey dan yang lainnya bangun lebih awal untuk bersiap-siap. karena ada penerbangan pagi. Tidak hanya dirinya bersiap-siap, Lindsey juga harus mengurus Noah. Lindsey berjalan ke kamar dan membangunkan Noah yang masih tertidur. Dengan perlahan, Lindsey duduk di tepi ranjang samping Noah tertidur, mengusap keningnya sebelum meninggalkan kecupan di sana.


“Noah..” Lindsey memanggilnya. Dahi Lindsey mengerut karena merasa suhu tubuh Noah tidak seperti biasanya. Lindsey bergerak memegang tangan Noah, leher, dan dahinya. Suhu tubuh Noah agak panas dari yang biasanya.


“Noah.. Noah...” Lindsey membangunkan Noah. Hingga Noah membuka kedua matanya.


“Mom..” Noah segera memeluk Lindsey dan menangis.


Lindsey menggendong Noah dan membawanya keluar dari kamar. Lindsey pun turun ke bawah. Dia mendudukkan Noah di sofa dan membuka kopernya yang sudah rapi dikemas. Dia mencari plester kompres penurun panas.


Sementara itu Noah terus menangis karena ingin berada dalam gendongan Lindsey.


“Kenapa Lindsey?” tanya Kapten.


“Noah demam.” jawab Lindsey.


Kapten segera memegang dahi Noah dan memang panas.


Begitu Kapten ingin menggendongnya, Noah menolak. Dia hanya ingin digendong oleh Lindsey. Setelah menemukan plester penurun demam, Lindsey segera menempelkannya di dahi Noah. Noah terus merengek ingin digendong oleh Lindsey.


“Apakah masih ada waktu untuk aku membuatkan bubur? Noah harus minum obat juga.” tanya Lindsey kepada semuanya.


“Masih ada satu setengah jam.” jawab Luven.


“Baiklah. Aku akan membuatkan bubur untuk Noah. Noah, sama Daddy dulu, ya?” ucap Lindsey.


Namun dibalas oleh rengekan penolakan dari Noah.


“Atau mau sama om dulu?” tanya Lindsey.


Noah juga menolak. Bahkan rengekannya semakin kencang.


“Kalau begitu sama aunty, ya? Mau?” Katie bersiap mengambil Noah dari gendongan Lindsey namun Noah juga menolak.


“Ehm kalau seperti ini aku saja yang buat bubur untuk Noah. Kamu temani dia saja.” sahut Kapten.


“Baiklah.” ucap Lindsey.


Sembari menunggu bubur jadi, Lindsey berjalan menepi ke jendela sambil menggendong Noah, mengusap-usap bahu Noah, dan menunjuk burung-burung yang beterbangan di luar sana.


“Wiii.. ada burung Noah.. burungnya banyak, ya? Ada kupu-kupu juga.. warnanya cantik, ya? Noah suka?” Lindsey mengajak Noah berbicara.


Noah mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan darah keluar dari hidung Noah membuat Lindsey terkejut. Lindsey segera berjalan mengambil tisu untuk mengelap darah Noah.


“Kenapa? Noah mimisan?” tanya Piter.


Lindsey mengangguk.


“Apa masih ada waktu jika aku membawanya ke dokter?” tanya Lindsey.


“Kalau ke dokter, aku tidak yakin..” jawab Luven.


“Bagaimana kalau aku akan mengantar Lindsey dan Noah ke dokter? Namun jika jam 9 kita belum kembali, kalian langsung ke bandara saja. Lindsey dan Noah ikut penerbangan selanjutnya. Aku yang akan menanggung biayanya.” sahut Katie.


“Tidak. Biar aku saja yang mengantar. Jika jam 9 kita belum kembali, kalian langsung ke bandara saja.” sahut Kapten.


Kapten pun membawa ke Lindsey dan Noah ke rumah sakit besar yang mereka ketahui sebelum pergi selama 5 tahun. Sesampainya di rumah sakit, Noah diperiksa seorang dokter di UGD.


“Kami telah memberikan cairan penurun demam. Namun kami perlu melakukan tes darah dan mengambil sampel darah untuk mengetahui penyakit yang diderita pasien.” ucap dokter.


“Berapa lama kira-kira hasilnya keluar, dok?” tanya Kapten.


“Sekitar satu sampai satu setengah jam.” jawab dokter.


“Baiklah, dok.” ucap Kapten.


“Kita akan ikut penerbangan berikutnya.” ucap Kapten kepada Lindsey.


Sementara Noah terus menangis dan menjerit. Semakin kencang saat melihat jarum suntik saat dokter ingin mengambil sampel darah. Lindsey hanya dapat mendapat menenangkan Noah sementara suster dan Kapten memegangi tangan dan kaki Noah yang memberontak.


“Sakit! Sakit! Mommy!” jerit Noah sambil memangis.


“Sebentar saja, Noah.. tahan sebentar, ya...” ucap Lindsey.


“Mau pulang.. huuu... Mau pulang...!” rengek Noah.


“Mohon menunggu hingga hasilnya keluar.” ucap dokter setelah berhasil mengambil sampel darah Noah.


Dokter membawa sampel darah itu dan menyerahkannya kepada seseorang untuk dibawa ke laboratorium.


“Sabar ya, Noah.. Noah mau sembuh, kan? Kan Noah bilang ingin bersekolah.. Noah harus sembuh terlebih dahulu..” Lindsey berusaha menenangkan Noah, memberikan dekapan terhangatnya, dan belaian terlembut.


“Noah tidak mau sakit...” ucap Noah.


“Iya, Mommy juga tidak mau Noah sakit..” balas Lindsey.


Kapten datang membawa bubur yang dia beli di dekat rumah sakit untuk mengisi perut Noah. Meski sulit dan tidak mau, Lindsey terus memutar otaknga agar Noah mau makan dengan membawanya ke taman. Juga dengan Kapten yang menggendong Noah kemanapun.


1 jam kemudian...


Setelah 1 jam menunggu, Kapten, Lindsey, dan Noah dirujuk ke salah satu ruangan dokter hematologi.


“Kami sudah menerima hasil pemeriksaan darah terhadap pasien Noah Guerierro. Dari tes yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan Noah Guerierro memiliki kadar sel darah putih lebih banyak dari jumlah normal yang seharusnya.” ucap dokter.


Deg!


Tubuh Lindsey melemas ketika mendengarnya. Dunianya seakan runtuh mengetahui apa yang diderita anaknya.


“Namun untuk mendiagnosis leukemia anak serta mengetahui jenisnya, apakah ada sel bersifat kanker, mengetahui penyebaran sel kanker, kami akan melakukan serangkaian tes medis. Untuk itu diperlukan kesiapan mental bagi bapak dan ibu dalam mendampingi pengobatan Noah. Jika memang hal terburuknya ialah ada sel bersifat kanker, maka Noah harus menjalani serangkaian pengobatan kemoterapi, radioterapi, hingga transplantasi sumsum tulang. Sumsum tulang bisa mengalami kerusakan akibat kanker dan pengobatannya seperti kemoterapi dan radioterapi. Bila ini terjadi, produksi sel darah di dalam tubuh bisa terganggu. Sehingga diperlukan transplantasi sumsum tulang untuk memperbaiki kerusakannya. Untuk transplantasi sendiri ada 2; dengan melibatkan sel punca milik Noah sendiri dan melibatkan dari sel pendonor.” ucap dokter.


Kapten dan Lindsey terdiam. Mereka tidak mampu berkata-kata lagi. Sementara mata Lindsey sudah penuh dengan gumpalan air, sekujur tubuhnya merasa lemas. Dia teringat dengan perkataan Jarvis kemarin.


“Dan apa kamu tahu? Gen ayah kandungku memiliki riwayat penyakit leukimia. Mungkin aku bisa kena, atau anakku. Tapi syukurlah jika anakmu itu bukan anakku.”


“Namun jika melibatkan sel Noah sendiri, Noah harus memiliki sumsum tulang yang sehat. Jenis transplantasi ini tidak selalu ada. Sedangkan melibatkan sel dari pendonor, pendonor harus memiliki kecocokan genetik yang dekat. Seringkali, kecocokan genetik bisa dengan mudah ditemukan dari keluarga, seperti bapak atau ibu, bisa juga saudara atau jika tidak memiliki kecocokan dalam keluarga, maka donor akan ditemukan dari calon pendonor lainnya melalui pusat registrasi sumsum tulang internasional.” ucap dokter kemudian.


“Tapi itu semua jika terdapat sel bersifat kanker di tubuh Noah ’kan, dok?” tanya Kapten.


“Iya. Kami perlu melakukan tes sumsum tulang Noah untuk mengetahui apakah ada sel bersifat kanker atau tidak.” jawab dokter.


“Berapa lama hasil tes nya keluar, dok?” tanya Kapten.


“Empat sampai tujuh hari. Selain itu akan ada luka di punggung Noah, dan efek lainnya seperti mual, muntah, dan nyeri.” jawab dokter.


“Baiklah, dok. Sepertinya kami harus memikirkannya terlebih dahulu.” balas Kapten.


Kapten membawa keluar Lindsey dan Noah yang sedang digendongnya.


“Aku berpikir bahwa sebaiknya Noah menjalani pengobatan di LA saja. Aku yakin di sana memberikan pengobatan yang lebih baik.” ucap Kapten.


“Bagaimana kalau kita mengikuti tesnya dulu di sini, setelah hasilnya keluar baru kita menentukan dimana Noah akan menjalani pengobatan? Aku sungguh tidak tenang sekarang jika belum tahu apa penyakit yang diderita Noah.” balas Lindsey.


“Tapi hasilnya tidak langsung keluar, Lindsey. Butuh empat sampai tujuh hari.” ucap Kapten.


“Kita bisa membatalkan keberangkatan kita. Lebih cepat melakukan tes, hasilnya akan cepat keluar.” balas Lindsey.


“Baiklah, baiklah. Kita lakukan tesnya sekarang.” ucap Kapten.


Noah pun sedang berbaring miring di atas ranjang. Dokter akan membersihkan kulit yang akan diberi bius lokal menggunakan antiseptik sebelum akan menusukkan jarum ke dalam kulit hingga menembus tulang untuk mengambil sampel isi sumsum tulang.


Jarumnya yang berukuran besar itu membuat Lindsey merasa tidak tega jika harus disuntikkan ke Noah. Noah akan sedikit merasakan ketidaknyamanan ketika jarum ditekan, meskipun area tersebut sudah diberi bius lokal. Setelah sampel sumsum tulang diambil, dokter menutup kulit dengan perban steril.


“Noah, lihat Daddy.” panggil Kapten dan memainkan wajahnya, memperagakan wajah yang lucu agar perhatian Noah teralihkan.


“Sudah selesai. Anak pintar. Umur Noah berapa, sih?” tanya dokter.


Noah menunjukkan 4 jari sebagai jawabannya. Mulutnya terkatup rapat.


“Wah, pantas saja tidak menangis lagi!” ucap sang dokter.


“Aku sudah mau sekolah.” Akhirnya Noah membuka mulutnya dan berbicara.


“Oh, ya? Noah akan semakin pintar dong? Memangnya Noah ingin menjadi apa?” tanya dokter.


“Aku ingin memetik buah di kebun opa setiap hari.” jawab Noah.


“Oh, ya? Wah! Noah pasti akan sehat terus dong! Nanti bagi om dokter juga ya buahnya.” balas dokter.


Noah mengangguk.


“Baiklah. Saya kembali dulu. Harap tetap menjaga lukanya tetap kering selama 48 jam.” ucap dokter kepada Kapten dan Noah.


“Lakukan yang terbaik dok untuk anak saya.” balas Kapten.


Kapten, Lindsey, dan Noah pun pulang kembali ke rumah sambil menunggu hasilnya keluar. Rupanya Piter dan Luven tidak pergi ke bandara. Mereka membatalkan keberangkatannya agar bisa pergi bersama-sama.


“Noah...” panggil Katie saat mereka bertiga sampai di rumah.


Kapten mengisyaratkan untuk berbicara pelan karena Noah sedang tidur di gendongan Lindsey. Lindsey segera membawa Noah masuk ke kamar, membaringkannya di atas ranjang dengan ekstra hati-hati karena ada luka di belakangnya.


“Bagaimana keadaan Noah, Kapt?” tanya Piter, Luven, dan Katie kepada Kapten.


“Masih menunggu hasil.” jawab Kapten.


“Kapan hasilnya keluar?” tanya Luven.


“Empat sampai tujuh hari.” jawab Kapten.


“Hah lama sekali!?” protes Katie.


“Hah memangnya Noah sakit apa sampai dites lama begitu?” tanya Piter.


“Kadar sel darah putih Noah lebih banyak dari jumlah normal yang seharusnya.” jawab Kapten.


“Oh, Tuhan...” ucap Katie.


Sementara Piter dan Luven terdiam, menyandarkan bahunya di sofa. Tentu saja itu bukan hal yang menyenangkan untuk didengar. Mereka pun lemas mendengarnya. Bayangkan menjadi Lindsey. Hati seorang ibu manapun pasti akan hancur mendengarnya. Lemas dan tidak berdaya namun harus tetap kuat untuk anaknya sendiri.


“Lindsey meminta agar melakukan tes terlebih dahulu, setelah hasilnya keluar, baru kita akan memutuskan dimana Noah akan menjalani pengobatan. Di sini atau di LA.” ucap Kapten kemudian.


“Semoga hasilnya bukan seperti yang kita khawatirkan.” ucap Luven.


“Oh, ya, Kapt. Aku sudah memasak, kalian makanlah. Kalian belum makan sejak pagi. Biar aku yang gantian menjaga Noah.” sahut Katie.


“Baiklah. Aku akan memanggil Lindsey.” ucap Kapten.


Kapten berjalan naik ke kamar dan mengajak Lindsey untuk makan. Sedangkan Katie yang menjaga Noah.


“Aku yakin Noah akan baik-baik saja. Apa kamu lupa? Noah ’kan anak yang kuat.” ucap Luven memberi Lindsey semangat. Luven mengambilkan sepiring nasi untuk Lindsey.


“Betul itu. Dan sekarang kamu harus makan agar kamu memiliki tenaga untuk mendampingi Noah.” ucap Piter seraya menuangkan sop ke mangkuk untuk Lindsey.


“Terima kasih.” ucap Lindsey untuk dua laki-laki itu.


Lindsey berusaha menelan makanan yang masuk ke dalam mulutnya meski sulit, walau sudah mengunyah hingga halus. Namun dia tetap memaksakan diri untuk makan. Seperti apa yang Piter bilang, agar dia memiliki tenaga untuk mendampingi Noah selalu.


5 hari kemudian, Noah sudah tidak lagi demam. Dia kembali aktif, bawel dan ceria seperti sedia kala. Dan hasil tes sumsum tulang belakang Noah pun keluar. Lindsey, Kapten, dan Noah pergi bersama ke rumah sakit. Dokter memberikan hasil bahwa terdapat sel yang bersifat kanker di darah Noah. Noah didiagnosis mengidap leukimia.


Tangis Lindsey pun pecah. Dia sangat tidak bisa membayangkan bagaimana Noah merasa kesakitan di kemudian hari.


“Kami harus memberikan pengobatan untuk Noah segera. Dengan kemoterapi dan radioterapi—” ucap dokter yang terpotong.


“Untuk anak sekecil Noah?” Lindsey memotong kalimat dokter.


“Ya, bu. Dan untuk memperbaiki sumsum tulang yang rusak karena pengobatan kemoterapi dan radioterapi nanti, kami perlu melakukan tindakan transplantasi sumsum tulang.” ucap dokter.


“Apakah saya boleh menjadi pendonor untuk Noah? Saya ibu kandungnya.” balas Lindsey.


“Kami perlu melakukan pemeriksaan kecocokan antara ibu dan Noah.” ucap dokter.


Setelah melalui berbagai pemeriksaan, berhari-hari menunggu hasilnya keluar dengan terus berharap yang terbaik, hasilnya adalah tidak cocok. Kapten mengajukan diri untuk menjadi pendonor dan melakukan pemeriksaan kecocokan. Hasil pemeriksaan Kapte pun sama seperti Lindsey, tidak cocok.


“Kami akan memasukkan Noah ke daftar penerima donor internasional. Semoga saja secepatnya Noah akan mendapatkan pendonor. Kami akan memulai pengobatan kemoterapi untuk Noah 2 hari lagi. Diharapkan bapak dan ibu dapat memberi dukungan moril untuk Noah selama masa pengobatannya.” ucap dokter.


Mereka akhirnya kembali ke rumah.


“Mommy, kapan kita kembali ke rumah kita yang ada pantainya? Katanya kita akan pergi mencari sekolah untuk Noah?” tanya Noah.


“Sebentar lagi ya, Sayang.” jawab Lindsey.


Semuanya pun terdiam ketika duduk bersama di sofa ruang tengah.


“Bagaimana kalau kita melanjutkan pengobatan di LA saja?” usul Kapten.


“Daddy, aku tidak sabar ingin sekolah..” ucap Noah.


“Baiklah. Kita akan kembali ke LA. Dan mengenai transplantasi sumsum tulang, aku rasa aku tahu kepada siapa aku meminta bantuan.” ucap Lindsey.


“Aku harus meminta bantuan pada Jarvis.” ucap Lindsey.


“Menurutku juga seperti itu.” sahut Luven.


“Itu artinya kamu harus mengakui kalau Noah anaknya.” balas Kapten.


“Mau tidak mau.” ucap Lindsey.


“Noah masuk dalam daftar penerima donor secara internasional, Lindsey. Kamu tidak perlu cemas.” balas Kapten.


“Tapi sampai kapan? Sampai kapan aku harus menunggu sembari melihat Noah menderita karena efek samping kemoterapi? Aku tidak bisa, Kapt.” ucap Lindsey.


“Kita bisa tunggu perkembangannya dari dokter.” balas Kapten.


“Kapt, ini semua untuk Noah. Kapten pasti ingin memberikan yang terbaik untuk Noah, ’kan?” sahut Luven.


“Lagi pula apa salahnya meminta bantuan Jarvis? Jarvis kan ayahnya No—” ucap Katie terpotong karena semua memelototinya. Terutama Lindsey.


Karena ada Noah yang sedang bersama mereka. Tidak mungkin mengatakan bahwa ayah Noah sebenarnya adalah orang lain.


“Ya, begitu. Kalian mengerti maksudku.” ucap Katie kemudian.


“Kalian pikir, dengan meminta bantuan Jarvis, Jarvis akan bersedia membantu? ok katakanlah dia bersedia membantu, tapi apakah akan selesai begitu saja?” balas Kapten.


“Akan aku ikuti apapun kemauannya jika itu dapat menyembuhkan Noah.” ucap Lindsey.


“Mommy, aku sudah sembuh. Pegang dahiku, aku sudah tidak demam.” sahut Noah. Noah mengambil tangan Lindsey dan menempelkan ke dahinya sendiri.


“Kamu sadar apa yang telah kamu ucapkan?” tanya Kapten.


“Tentu saja. Aku akan menemui Jarvis sekarang. Noah, Mommy pergi menemui teman dulu, ya.” ucap Lindsey.


Noah mengangguk. “Nanti pulangnya belikan buah yang banyak, ya, Mommy.” balas Noah.


“Ok, Sayang..”


“Sini main sama om.” ucap Piter mengajak Noah bermain.


“Katie, aku pinjam mobil.” ucap Lindsey kemudian pergi.


Kapten duduk terdiam dan tidak mencegah Lindsey. Padahal dia sangat tidak setuju jika Lindsey pergi menemui Jarvis. Emosi dan kebencian berkecamuk di dalam dadanya. Namun dia tetap menahannya dan membiarkan Lindsey pergi.


...****************...


JM Buildings.


“Aku ingin bertemu dengan Jarvis.” ucap Lindsey yang dihadang Carlos saat hendak menaiki tangga menuju ke ruangan Jarvis.


“Menunggu giliran. Istrinya sedang datang membawakan makan siang.” balas Carlos.


Lindsey mengangguk. “Baiklah.”


Tepat setelah itu, pintu ruangan Jarvis terbuka lebar.


“Lindsey?”


Muncul seorang wanita yang diduga adalah istri Jarvis dari belakang Jarvis.


“Makan siang kalian sudah selesai? Lindsey ingin—” Kalimat Carlos terpotong.


“Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” kata Lindsey.


“Masuklah.” ucap Jarvis.


“Tapi aku belum selesai bicara denganmu, Jarvis.” ucap istri Jarvis.


“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jika pun ada, sampaikan kepada Carlos.” balas Jarvis.


“Tidak, aku akan sampaikan ke ayahku!” ucap istri Jarvis lalu berjalan pergi, melewati Carlos dan Lindsey.


“Lindsey, masuklah.” ajak Jarvis.


Lindsey masuk ke ruangan Jarvis.


Lindsey akhirnya mengakui bahwa Noah adalah anak kandung Jarvis karena terpaksa untuk transplantasi sumsum tulang.


“Tapi dengan satu syarat. Kemasi barang-barangmu dan Noah lalu pindah ke sini, tinggal bersamaku selamanya. Keluarga harus tinggal bersama, kan?” ucap Jarvis.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih