Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Ngambek


“Lindsey, apa kamu tahu? Tatapan Carlos ke kamu itu seperti tatapan kamu ke Jarvis.” ucap Katie.


Lindsey mengernyitkan alisnya.


“Iya. Seperti perasaan yang selalu ditahan. Namun mata tidak bisa berbohong. Matamu selalu tersenyum saat melihat Jarvis.” ucap Katie.


“Jujur padaku. Kamu sudah memiliki perasaan dengan Jarvis, kan?” Katie menginterogasi Lindsey.


“Apa menurutmu aku adalah orang yang memiliki perasaan?” balas Lindsey.


“Kamu kan manusia! Pasti kamu memiliki perasaan, lah. Vampir, goblin, dan makhluk lainnya saja bisa jatuh cinta, dengan manusia pula.” ucap Katie.


“Entahlah. Aku sendiri juga tidak tahu aku memiliki perasaan atau tidak. Bagaimana cara mengetahuinya?” balas Lindsey.


“Kalau mau yang paling ampuh sih hanya ada satu cara; melihat Jarvis dengan wanita lain.” ucap Katie.


“Itu saja? Ampuh gimana? Bukankah itu hal yang biasa?” tanya Lindsey.


“Belum. Kamu belum melihatnya. Kalau kamu memiliki perasaan dengan Jarvis, setelah kamu lihat, aku jamin kamu pasti akan mencongkel mata Jarvis supaya dia tidak bisa melihat wanita lagi.” jawab Katie.


“Aku tidak sesadis itu.” ucap Lindsey.


“Beh... Rasanya itu buat kamu mendadak jadi emosian, tidak tahu juga kenapa. Bawaannya mau marah-marah melulu deh!” balas Katie.


“Kat..” ucap Lindsey.


“Kenapa?” tanya Katie.


Lindsey mengeluarkan ponselnya dan membuka file yang dikirim Piter tadi. Lindsey memberikan ponselnya ke Katie untuk memperlihatkan profil Luven.


“Wow.. tampan sekali. Siapa dia? Kamu ingin mengenalkannya padaku?” respon Katie begitu ceria saat melihat foto Luven di profilnya yang dikirimkan Piter.


“Dia mentorku. Menurutmu dia tampan?” tanya Lindsey.


“Banget.” jawab Katie.


“Tampanan mana dengan Jarvis?” tanya Lindsey.


“Kalau aku jawab mentormu, kita pasti berantem. Karena di matamu hanya Jarvis yang paling tampan. Ya, kan?” balas Katie.


“Eh, bukan begitu. Tapi bener deh, Luven tidak setampan itu. Tampannya ya biasa saja.” Lindsey membela diri.


“Eh, ternyata hanya beda 3 tahun darimu, Linds.” ucap Katie.


“Aku juga baru tahu tadi. Mulutnya lemes sekali. Tadi dia cerita kalau dia sebentar lagi mau menikah karena perjodohan.” balas Lindsey.


“Yah... Pupus deh harapanku. Baru saja aku mau minta dikenalkan.” ucap Katie.


“Masih ada harapan, kok. Dia tidak menginginkan pernikahan itu. Tadi aku membantu dia membatalkan perjodohan itu dengan berpura-pura menjadi kekasihnya.” balas Lindsey.


“Serius? Lindsey?! Kamu tidak takut? Bagaimana kalau ketahuan Jarvis?” tanya Katie.


“Tadinya aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi anggap saja ini misi rahasia. Kita harus bermain aman. Jarvis tidak boleh sampai tahu. Maka dari itu kalian harus membantuku.” jawab Lindsey.


“Memangnya kamu dibayar berapa, sih?” tanya Katie.


“Sangat besar. Aku akan kesulitan mendapatkannya kalau bukan dengan dia.” jawab Lindsey.


“Ya, sudah. Kalau ketahuan Jarvis, bilang saja kalau itu laki-laki yang dijodohkan denganku, tapi lagi-lagi kamu membantuku.” balas Katie.


“Ah, kamu memang sahabat terbaikku, Kat! Terima kasih, ya!” ucap Lindsey.


“Kat..” panggil Lindsey dengan agak memelankan suranya.


“Kenapa?”


“Kemarin...”


“Kenapa lagi???”


“Jarvis buang di dalam.”


“HAHHH?!!!” Katie bangkit berdiri saking terkejutnya.


“Suutt.. jangan kencang-kencang.” Lindsey menarik tangan Katie agar kembali duduk bersamanya di sofa.


“Seriusan?! Pantesan, ya, tuh orang hari ini beda sekali! Ceria sekali mukanya, tuh! Bahkan saat berjalan saja kakinya sambil menari-nari kecil! Habis cetak gol ternyata!” oceh Katie.


“Bagaimana kalau kamu hamil dan Jarvis tidak mau bertanggung jawab?” tanya Katie.


“Jarvis sangat br*ngs*k kalau begitu. Tapi, kadang aku merasa Jarvis tulus mencintaiku. Dari matanya, sikapnya, sentuhannya, kata-katanya.. selalu hampir membuatku goyah.” jawab Lindsey.


“ ‘Hampir’. Aku tahu, kamu selalu menahan perasaanmu sendiri agar tidak jatuh terlalu dalam. Karena kamu tahu kehadiranmu akan membuat luka di hidupnya.” balas Katie.


“Aku tidak bisa mengelak. Itu benar.” ucap Lindsey.


“Tapi, Lindsey.. kamu harus tahu kalau ada batasannya dalam menahan sesuatu. Ada kalanya kamu lelah dan tidak sanggup lagi menahan perasaanmu sendiri.” ucap Katie.


“Iya. Menuruttmu Jarvis benar tulus padaku?” tanya Lindsey.


“Sepenglihatanku Jarvis bukan tipe laki-laki yang mau berkomitmen. Dia mungkin takut kehilanganmu, tapi dia juga tidak berani berkomitmen.” ucap Katie.


“Benar. Jadi, kalau pun aku hamil, aku tidak bisa bergantung dan meminta pertanggungjawaban, kan?” tanya Lindsey.


“Tenang, Lindsey. Ada aku. Ada Kapten, Piter. Kamu tidak sendiri. Ada kita. Kita semua bisa membantumu membesarkan anakmu.” jawab Katie.


“Itulah sebabnya aku tidak merasa sedih jika Jarvis tidak mau bertanggung jawab.” balas Lindsey.


“Lebih baik kamu jangan bercinta dulu deh dengan Jarvis. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, kan.. Lagi pula sebentar lagi kita akan meninggalkan negara ini dan tidak berurusan lagi dengan Jarvis.” ucap Katie.


“Iya. Tinggal bagaimana caranya mengubah emas itu menjadi uang..” balas Lindsey.


Pintu ruangan Jarvis tiba-tiba terbuka lebar. “Sudah tidak ada lagi, kan, rapatnya?” tanya Jarvis sambil mengendurkan ikatan dasinya.


“Iya. Kamu mau aku antar—” Kalimat Carlos terputus saat melihat Lindsey di ruangan Jarvis sedang duduk di sofa bersama Katie.


Begitu juga dengan Jarvis yang langsung menghampiri Lindsey saat melihat keberadaan Lindsey di ruangannya.


Jarvis tidak dengar kalimat terakhirku, kan? tanya Lindsey dalam hati sambil menatap Katie.


Lindsey bangkit berdiri. “Sudah selesai rapatnya?” tanyanya.


“Iya. Aku akan pulang bersama Lindsey.” ucap Jarvis ke Carlos.


“Baiklah.” balas Carlos.


“Sudah selesai, kan, rapatnya? Akhirnya aku bisa pulang. Aku pulang duluan, ya!” ucap Katie lalu keluar dari ruangan Jarvis.


“Aku juga.” tambah Carlos dan ikut Katie keluar dari ruangan Jarvis. Menyisakan Jarvis dan Lindsey berdua di sana.


“Kita juga pergi, yuk. Aku sudah reserve tempat di sebuah restoran.” ajak Jarvis.


“Em!” Lindsey mengangguk setuju.


“Sebentar aku ambil ponselku dulu.” ucap Jarvis lalu berjalan menuju meja kerjanya.


Lindsey mengekori kemana Jarvis pergi. Padahal hanya berjarak beberapa meter dari sofa. Begitu Jarvis sudah mengambil ponselnya dan berbalik badan, Lindsey sudah berada di hadapannya dengan jarak yang begitu dekat. Hampir saja Jarvis menabrak tubuh Lindsey yang jauh lebih kecil darinya.


“Heyy, hampir saja nabrak.” ucap Jarvis.


“Yuk, pergi sekarang.” sambung Jarvis dan mengambil tangan Lindsey untuk ia genggam.


Namun Lindsey diam di tempat. Tubuhnya tidak mengikut saat Jarvis menggenggam tangannya. Membuat Jarvis terheran dan berbalik badan.


“Kamu kenapa?” tanya Jarvis.


“Apa materi rapat tadi sangat banyak dan penting?” balas Lindsey.


“Hm..?” Jarvis terheran. Tapi dua hal pasti yang dia ketahui bahwa: yang pertama, wanita cantik yang sedang berada di hadapannya saat ini sedang merajuk. Dan yang kedua, pasti dia habis melakukan kesalahan.


“Hm.. banyak sih.. Lumayan.. Kenapa, ya..?” ucap Jarvis dengan penuh kehati-hatian. Bagaimana tidak berhati-hati, salah penyebutan satu kata saja, wanita cantik yang sedang berada di hadapannya akan berubah menjadi singa buas dan siap melahapnya.


“Ooh... Pantas saja lupa.” balas Lindsey.


Waduh! Habislah aku! Apa yang sudah aku lupakan?! batin Jarvis dan selaras dengan otaknya yang langsung berputar, berpikir keras untuk mencari apa yang sudah dia lupakan.


“Sepertinya kamu sudah tidak menginginkannya lagi, ya? Ya, sudah. Ayo.” ucap Lindsey yang bergantian berjalan terlebih dahulu.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih