Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Papa-Mama


halo semuanya, jumpa lg di episode kedua yg aku upload hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


...****************...


“Kalau kita lagi mau makan enak, jual saja salah satu baju ini.” balas Kapten.


...****************...


...****************...


Seusai membayar, Luven berjalan menghampiri Lindsey.


“Sekarang apalagi?!” tanya Lindsey.


“Tidak ada. Ayo, kita bertemu calon orangtuamu.” jawab Luven.


Jantung Lindsey berdetak menjadi lebih kencang saat Luven mengatakan mereka akan bertemu calon orangtuanya. Sepanjang perjalanan pun Lindsey jadi tidak banyak bicara. Dia memikirkan nasibnya di kemudian hari ketika sudah memiliki orangtua angkat yang berprofesi sebagai ketua hakim. Sudah pasti orangtua angkatnya tidak akan menyetujui pekerjaan Lindsey yang sesungguhnya.


Tibalah mereka di sebuah restoran fine dining dengan konsep restoran mewah yang bisa dilihat dari peralatan makan yang digunakan, menu, hingga pelayanan yang diberikan pada tamu.


Setibanya di sana Lindsey dan Luven disambut oleh pelayan dan diantarkan ke meja dimana sepasang suami-istri sudah tiba lebih dulu dari mereka.


“Pak William.” Luven memanggil seorang yang dia kenal. Sepasang suami-istri pun berdiri menyambut kedatangan Luven dan Lindsey. Luven mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan William


Berganti ke istrinya. “Bu William.” sebut Luven.


“Apa kabar, Luven? Tambah ganteng sekali kamu, ya.” balas bu William.


“Ah, bisa saja ibu. Oh, ya, kenalin. Ini Lindsey. Pengacara baru di GDP.” ucap Luven mengenalkan Lindsey.


“Oh, ya Tuhan.. nama yang cantik seperti wajahnya..” ucap bu William.


“Terima kasih. Salam kenal, aku Lindsey..” ucap Lindsey dan melemparkan senyuman.


“Eh, duduk dong. Tidak baik berdiri terus. Duduk, duduk.” sahut William.


Tidak lama kemudian, pelayan mengantarkan makanan untuk mereka berempat santap.


“Bagaimana rasanya bekerja di GDP, Lindsey? Pasti sulit sekali, kan? Tuntutan pekerjaannya pasti banyak.” tanya William.


Lindsey otomatis menengok ke arah Luven.


“Emm, Lindsey ini mssih dalam tahap penilaian. Jadi, dia belum menerima pekerjaan apapun.” jawab Luven.


“Wah, orang baru sudah kamu pacari, Luven? Bagaimana kalau Lindsey nanti tidak betah di GDP?” sahut bu William.


“Ah, orang Lindsey nya yang ngajak duluan, bu... Hahaha..” balas Luven.


“Luven..!!” pekik Lindsey.


“Hahaha iya.. bukan seperti itu. Kita hanya saling membantu saja. Mutualisme.” ucap Luven kemudian. Meluruskan candaannya tadi.


“Iya, kita mengerti, kok. Lindsey, kita sudah mendengar dari Luven. Dan saya rasa Luven juga sudah menjelaskannya ke kamu.” sahut William.


“Iya, hehehe... Lindsey, kamu kira-kira keberatan tidak kalau kita mengangkatmu sebagai anak? Kita memang ingin sekali memiliki anak perempuan, tapi di usia kita sekarang, sepertinya tidak bisa membesarkan seorang anak lagi... Anak-anak juga semuanya setuju, kok.” tambah bu William.


“Seharusnya saya yang bertanya.. apakah tidak apa-apa kalau saya menjadi anak angkat kalian..? Saya dibesarkan di panti asuhan dan sampai detik ini saya tidak tahu siapa orangtua saya.” ucap Lindsey.


Luven menatap ke arah Lindsey. Bagian ini, jelas Luven tidak mengetahuinya. Dia baru mendengar dari mulut Lindsey sendiri barusan.


“Tidak, tidak, kita tidak pernah melihat latar belakang seseorang. Yang penting, dia bukanlah seorang kriminal.” balas William.


Lindsey tertegun. Jelas dia pelaku kriminal. Hanya saja dia belum pernah tertangkap dan dijatuhi hukuman.


“Itu benar. Asal kamu tahu, Lindsey, tante kalau shopping itu selalu sendiri. Anak tante 6 orang laki-laki semua.” sahut bu William.


“Loh, kok ‘tante’? ‘Mama’ dong. Hehehe...” sahut Luven.


“Nah, iya! Benar, tuh! Kamu bisa panggil ‘papa-mama’ mulai sekarang. Kamu juga, Luven. Tidak usah panggil pakai ‘pak bu’ lagi.” balas William.


“Waduh.. saya harus panggil dengan sebutan apa untuk pak ketua hakim kita ini?” balas Luven.


“Hahaha.. hati-hati, Luven. Nanti kamu digetok pakai palu, loh!” sahut bu William.


“Hahaha.. ampun!” ucap Luven.


Betapa hangatnya suasana makan siang Lindsey kali ini. Lindsey menjadi bertanya-tanya, inikah yang dirasakan para anak di luar sana ketika makan bersama orangtuanya?


“Jadi, kamu akan melakukan apa untuk memberontak, Luven?” tanya bu William.


“Malam ini papa nyuruh datang makan malam dengan membawa Lindsey sih, tan.” jawab Luven.


“Sekarang Lindsey adalah anak om. Om tidak mau ya, kalau papa kamu menggores hatinya sedikiiiit saja.” balas William.


“Uh, tenang, om. Aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi.” ucap Luven.


“Lindsey, makanan apa yang kamu sukai?” tanya bu William.


“Lindsey mah pemakan segalanya, tan.” jawab Luven.


“Kok kamu jawabnya seolah-olah kamu pacarnya, sih?” balas bu William.


“Hahaha.. tapi itu benar, kok, tan. Aku tidak pemilih soal makanan. Tapi kalau yang paing aku sukai.. mungkin yang pedas dan berkuah. Aku juga menyukai dessert.” ucap Lindsey.


“Wah.. sama dong. Tapi kok manggilnya masih ‘tante’... Panggil ‘mama’ dong.” balas bu William.


“Tan, orang pacaran saja butuh pendekatan...” sahut Luven.


“Hehehe.. iya, ma...” ucap Lindsey.


“Nah, asyik. Gitu, dong. Coba giliran papa.” sahut William yang mengiri.


“Papa...?” ucap Lindsey.


“Anak pintar!” balas William.


Lindsey tidak menyangka bahwa mulutnya bisa memanggil seseorang dengan sebutan mama-papa. Rasa syukur bahagia sekaligus terharu bercampur di dalam dadanya.


“Ngomong-ngomong, Lindsey.. kamu sudah punya pacar?” tanya bu William.


“Hehehe.. Kebetulan Aku—” ucap Lindsey terputus begitu pandangannya mengarah ke ujung saat pertama kali dia memasuki resto.


Dia melihat Jarvis, Carlos, Katie masuk bergabung di restoran itu.


Matanya membulat dan hampir keluar. Dia menelan paksa salivanya.


Ke-kenapa.. mereka makan disini juga?! batin Lindsey.


Mata Katie pun juga tertuju pada Lindsey sebelum dia mendaratkan bok*ngnya di kursi. Meski duduk berjauhan, ujung ketemu ujung, tapi mereka berada di tempat yang sama. Mana pula restoran itu tidak ramai kalau siang hari. Banyak meja dan kursi yang kosong sehingga dalam sekali tengok pun Jarvis akan melihat Lindsey.


Katie pun ikut membulatkan matanya begitu melihat Lindsey.


Kamu ngapain disini? Katie menyiratkan kalimat tersebut dari gerak-gerik matanya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


halo semuanya, aku mau minta tips boleh? skrg ada fitur baru buat kalian yg mau kasih tips tp gapunya koin.. kalian bs lihat dan ikutin step-step di gambar berikut ini ya..


tips dr kalian sangat berharga buat penulis sprti aku yg perharinya ga dapat sampai 1000 pun.. terima kasih semuanya.. sampai brtemu di episode berikutnya yah ❤️❤️❤️☺️☺️🙏🏻🙏🏻