
halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Hari H Sidang Perdana Kasus Roland Digelar.
Jam 7 pagi.
Apartemen.
Lindsey kini berdiri di depan kaca sambil memakai blazer hitam. Dia sudah siap menghadiri persidangan pertamanya sebagai pengacara pembela dengan mengenakan kemeja putih yang berbalut blazer hitam bercorak garis putih dan rok yang berwarna senada dengan blazer.
Seorang laki-laki dengan tubuh jangkung datang dan memeluk Lindsey dari belakang. Mengendus dan menciumi leher Lindsey yang sudah wangi akan parfum yang dipakai Lindsey.
“Rapi dan wangi sekali... Kamu ingin bersidang atau memikat hati hakimnya?” ucap Jarvis.
Jarvis juga sudah berpakaian rapi dan siap untuk bekerja. Tinggal sentuhan terakhir, yaitu dasi, yang sengaja belum ia pakai.
“Daripada memikat hati hakim, bagaimana kalau aku memikat hati kamu saja?” balas Lindsey.
Jarvis tersenyum hingga diam tidak bisa berkata-kata.
“Melihat mulutmu yang masih pagi sudah sepintar ini, aku yakin kamu akan memenangkan persidangan itu.” ucap Jarvis.
“Kalau tidak menang, aku akan menangis dan mengunci diri di kamar.” balas Lindsey.
“Tidak apa-apa. Kekalahan itu biasa. Aku akan ikut terkunci di dalam kamar. Bersamamu.” ucap Jarvis.
“Ngapain ikut? Aku mau sendirian.” balas Lindsey.
“Untuk menangis, kamu memerlukan bahu untuk bersandar dan tangan seseorang untuk menghapus air matamu.” ucap Jarvis.
“Jadi kamu akan menemaniku?” tanya Lindsey.
Jarvis mengangguk.
“Apakah kamu akan ikut nangis juga bersamaku? Kan pasangan itu harus senang bersama, sedih bersama juga.” ucap Lindsey.
Jarvis tersenyum lagi. Lindsey tampak menggemaskan di matanya.
“Aku yakin kamu tahu maksud dari kalimat itu tidak seperti itu. Maksudnya adalah pasangan itu harus tetap bersama dalam keadaan senang dan sedih. Bukan senang lalu tertawa bersama, sedih lalu nangis bersama. Bukan!” balas Jarvis.
“Aku gugup.” ucap Lindsey.
Jarvis melihat wajah Lindsey di kaca.
Karena itulah Lindsey berusaha menghibur dirinya sendiri. Tegang di wajahnya tidak dapat disembunyikan. batin Jarvis.
“Kamu pasti bisa. Jangankan persidangan kecil itu, kamu saja sudah berhasil menaklukkan hatiku. Menaklukkan dunia pasti sangat mudah bagimu. Sama seperti membalikkan telapak tangan.” ucap Jarvis.
Lindsey berbalik badan. Keduanya kini berdiri saling berhadapan. Jarvis merangkul mesra pinggul Lindsey.
“Hm.. bahan bakarku sudah full. Sudah, yuk.. aku takut terlambat.” ucap Lindsey.
“Hm? Kok tiba-tiba bahan bakar? Oh, ya. Aku, Carlos, Katie hari ini akan datang ke persidanganmu.” balas Jarvis.
“Eh? Ngapain?” tanya Lindsey.
“Aku ingin menyaksikan persidangan kekasihku. Memangnya tidak boleh?” balas Jarvis.
...****************...
Gedung Pengadilan.
Jam 08.30
Tak. tok. tak. tok. Lindsey menaiki tangga saat memasuki gedung pengadilan dengan suara khas sepatu heels-nya.
Lindsey memakai sepatu heels yang telapak kaki meninggi sehingga kelihatan lebih berwibawa dan otot kaki bagian bawah juga kelihatan lebih tegas.
Sudah siap pula setumpuk kertas yang akan menjadi tamengnya di persidangan nanti.
Di penghujung tangga, Lindsey berpapasan dengan Rivan, lawannya di persidangan nanti.
“Heyy, pengacara Lindsey.” sapa Rivan.
“Jangan menyapaku seolah kita ini teman. Kita ini musuh.” balas Lindsey.
“Tetap saja aku menganggap pengacara Lindsey adalah temanku. Kamu sudah membantuku menangkap 2 ikan besar. Sangat besar.” ucap Rivan.
“Woho..hoo.. hoo... Itu tidak menganggapmu teman. Kamu berutang banyak padaku.” balas Lindsey.
“Kita permudah saja, jaksa Rivan. Kamu pasti merasa keteteran sekali, kan, dalam mengurus ikan-ikan yang berhasil kamu tangkap berkat pancinganku. Aku bersedia mengurangi beban pekerjaanku. Bagaimana kalau kamu lepaskan saja ikan yang sekarang ini kita perebutkan?” sambung Lindsey.
“Oh, tidak. Aku tidak ingin menambah utangku padamu lagi.” balas Rivan.
“Kamu terlalu serakah, Rivan.” ucap Lindsey.
Kini Rivan dan Lindsey duduk berhadapan di persidangan. Rivan bersama satu bawahannya duduk di meja jaksa penuntut, sedangkan Lindsey bersama Roland duduk di meja terdakwa dan pengacara pembela.
Ada juga Katie, Jarvis, Carlos, mama William, William, mamanya Luven di bangku pengunjung dan sejumlah media dengan kamera yang sudah stand by di depan gedung.
Raut wajah Lindsey tidak bisa berbohong. Ketegangan dan kegugupan terus melanda. Jantungnya terus berdebar kencang sekali. Sesekali dia melihat ke tempat pengunjung. Katie, Jarvis, mama William tidak jarang menguatkannya dari kejauhan.
Lindsey dan Rivan yang duduk berhadapan saling melempar tatapan yang tajam. Mereka seperti musuh sungguhan sekarang.
“Hakim memasuki ruang sidang, hadirin mohon berdiri.”
Semua yang hadir dalam ruangan sidang tersebut, termasuk jaksa penuntut umum, pengacara dan pengunjung berdiri. Hakim dan majelis hakim memasuki ruangan sidang melalui pintu khusus, kemudian duduk di tempat duduknya masing masing. Hadirin dipersilahkan duduk kembali.
Hakim ketua membuka sidang. “Sidang pengadilan negeri kota XXX, yang memeriksa perkara pidana nomor XXX atas nama XXX pada hari XXX tanggal XX dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.” Di ikuti dengan ketokan palu sebanyak tiga kali.
Hakim ketua sidang meminta pada terdakwa untuk mendengarkan pembacaan surat dakwaan dan selanjutnya mempersilahkan jaksa untuk membacakan surat dakwan. Kemudian Jaksa membacakan surat dakwaan.
Hakim ketua menanyakan pada terdakwa atau penasehat hukumnya (pengacara), apakah mengajukan keberatan (eksepsi) terhadap dakwaan jaksa. Lindsey dengan percaya diri mengajukan eksepsi.
“Saya keberatan, Yang Mulia. Terdakwa tidak pernah terlibat dengan nark*ba.” ucap Lindsey.
“Bagaimana jaksa penuntut umum? Apakah ada tanggapan?” tanya hakim ketua kepada Rivan.
“Pada berkas kasus halaman 76, Kami menemukan 15 kilogram nark*ba jenis kok*in di dalam kamar terdakwa pasa saat kami menggeledah, Yang Mulia.” jawab Rivan.
“Bagaimana pengacara pembela? Apakah ada tanggapan?” tanya hakim ketua kepada Lindsey.
“Ya, ada, Yang Mulia. 15 kilogram nark*ba yang ditemukan di kamar kediaman terdakwa bukanlah milik terdakwa.” ucap Lindsey.
Terjadi kegaduhan dari tempat pengunjung.
“Apa? Bukan milik anggota dewan Roland?”
“Lalu milik siapa?”
“Kok bisa, sih?”
“Kenapa bisa ada di kediaman anggota dewan Roland?”
“Mohon tetap tenang.” ucap hakim ketua seraya mengetukkan palu.
“Pengacara pembela, silahkan lanjutkan.” ucap hakim ketua kemudian.
Lindsey bangkit berdiri. “Yang Mulia, sebelumnya saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada jaksa penuntut.” ucap Lindsey.
“Silahkan.” balas hakim ketua.
Lindsey berjalan mendekati meja jaksa penuntut. “Jaksa penuntut, sebelumnya saya ingin bertanya, di halaman 27 tertulis bahwa anda mendatangi kediaman terdakwa pada jam 1 pagi. Apakah itu benar?” tanya Lindsey.
“Ya, itu benar.” jawab Rivan.
“Untuk mendatangi kediaman seorang anggota dewan, di jam 1 pagi hari, pasti membutuhkan pertimbangan yang cukup. Apakah itu benar?” tanya Lindsey.
Rivan mengangkat tangan kanannya. “Yang Mulia, pertanyaan yang diajukan pengacara pembela tidak berkaitan dengan kepentingan kasus.” ucap Rivan.
“Keberatan diterima. Pengacara pembela, silahkan ajukan pertanyaan lain.” ucap hakim ketua.
Satu kosong. 1 vs 0
“Baik, Yang Mulia. Jaksa penuntut, 17 jam sebelum penangkapan terdakwa, anda sudah menangkap seorang pengedar yang menyembunyikan nark*ba di dalam guci putih. Dalam 17 jam tersebut, apa yang membuat anda menargetkan terdakwa?” tanya Lindsey.
“Kami menerima informasi bahwa terdakwa adalah pengedar nark*ba.” jawab Rivan.
“Apakah anda sudah memeriksa sumber informasi anda?” tanya Lindsey.
“Keberatan, Yang Mulia. Kami harus menyembunyikan identitas sumber kami.” ucap Rivan.
“Keberatan ditolak. Jaksa penuntut, pengacara pembela hanya menanyakan apakah anda sudah memeriksa sumber informasi anda, bukan menanyakan siapa sumber informasi.” ucap hakim.
Satu seri. 1 vs 1
“Ya, Yang Mulia. Kami sudah memeriksa sumber informasi kami.” ucap Rivan.
“Pengacara pembela, silahkan lanjutkan.” ucap hakim ketua.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih