
halo semuanya.. kembali lg di episode ketiga yg aku up hari ini.. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻
...****************...
Bukan gugup bertemu klien, tapi aku gugup bertemu dengan Jarvis! Hubungan kita juga sudah berakhir. Be-ra-khir! The End! Bagaimana jadinya kalau kita bertemu lagi?! batin Lindsey.
“Aduh.. Luven.. aku tidak bisa...” ucap Lindsey.
“Aku juga tidak bisa membantumu lagi. Nanti aku dianggap melakukan pelanggaran. Semangat, Lindsey. Yang pertama memang selalu membuat gugup.” balas Luven.
Ih, matilah aku! Bagaimana ini? batin Lindsey.
...****************...
Lindsey kembali ke ruangannya. Duduk di atas kursi dengan menatap setumpuk berkas di atas mejanya. Tangannya di atas pegangan kursi, menopang dagunya. Kakinya yang mengenakan heels stileto berwarna hitam, tidak bisa berhenti bergoyang sedaritadi. Otaknya berpikir keras apa yang harus dia lakukan saat bertemu Jarvis nanti. Semakin tinggi rasa penyesalan Lindsey setelah masuk menjadi pengacara di GDP.
“Ayo, Lindsey.. Berpikirlah..”
Lindsey sudah menjalani hidup dengan nyaman dan tenang, tanpa bertemu Jarvis selama 2 bulan belakangan ini. Dia merasa tenang karena tidak perlu membohongi Jarvis terus-menerus. Dan kini, tiba-tiba saja dia diharuskan berhadapan dengan Jarvis lagi.
“Ah, tidak tahulah! Aku juga pusing sekali ini. Kenapa, sih? Dari sekian banyak firma hukum, Jarvis dan Carlos memilih GDP yang sebenarnya dia tahu aku bekerja di sana?!” oceh Lindsey di telepon.
“Gila juga si Jarvis. Baru kita tinggal sebentar saja sudah nyangkut ke pernark*baan.” balas Piter.
“Eh, Aku juga baru tahu loh kalau Jarvis tersandung kasus nark*ba. Sebagai penyelundup, pula. Kalau pemakai saja kan bisa direhabilitasi untuk menghindari proses hukum.” balas Katie.
“Apa juga yang bisa aku lakukan sekarang? Aku kan bukan pengacara sungguhan?” balas Lindsey.
“Kapt, apakah kita bisa ke Las Vegas lagi? Aku kasihan dengan Lindsey.” sahut Piter.
“Mau makan pakai apa di Las Vegas?” balas Katie.
“Uang hasil judi. Kemarin Lindsey menang terus, tuh. Lumayan.” ucap Piter.
“Memangnya tidak ada pengacara lain lagi? Kenapa harus kamu yang menangani kasusnya Jarvis?” sahut Kapten.
“Tidak ada, Kapt. Ini bagian dari penilaianku. Penilaianku yang terakhir. Luven juga dinilai sebagai mentor. Aku kasihan juga sama Luven kalau aku memberi hasil yang buruk di penilaian kali ini. Tapi aku kan bukan pengacara sungguhan. Bagaimana ini, Kapt?” balas Lindsey.
“Eh, kamu kan pernah tuh akting sebagai pengacara. Anggap saja sekarang ini kamu sedang berakting.” ucap Piter.
“Di persidangan nanti, bagaimana?” tanya Lindsey.
“Loh, Lindsey? Seingat aku, tujuan kamu menjadi pengacara di GDP adalah untuk membela Jarvis. Kenapa sekarang kamu jadi ketakutan seperti itu? Ayo dong, maju. Tunjukkan kehebatanmu sebagai pengacara.” sahut Katie
“Loh iya! Kamu kan masuk ke GDP untuk menjadi pengacaranya Jarvis. Iya, aku baru ingat!” sahut Piter.
“Selamat, Lindsey. Cita-citamu tercapai. Tapi kamu tenang saja, kita bertiga pasti bantuin kamu, kok.” sahut Kapten.
“Eh, sudah dulu, ya. Aku harus menyusun agenda rapat Jarvis.” pamit Katie lalu meninggalkan panggilan grup.
“Aku juga harus memanjakan Mison. Sampai jumpa!” Piter juga ikut meninggalkan panggilan grup.
“Tuh, kan! Semuanya pada pergi!” balas Lindsey.
“Aku belum.” ucap Kapten.
“Sudah mau kan tapi?”
“Tidak.”
“Ya sudah. Aku lanjut bekerja dulu. Bye, Kapt.” pamit Lindsey sebelum meninggalkan panggilan grup.
“Eh, Lindsey! Tunggu duluuu..” panggil Kapten.
“Kenapa, Kapt?”
“Jadi, kamu akan menangani kasus Jarvis?”
“Aku tidak memiliki pilihan lain, Kapt.”
“Ehem..”
“Kita juga harus mencari emasnya Jarvis.”
“Aku tidak mau kamu terluka untuk yang kedua kalinya.”
“....”
“Jangan kamu tangani kasus itu hanya karena ingin mendekati Jarvis untuk yang kedua kalinya demi pencarian emas. Aku tidak ingin kamu memasuki lubang yang sama.” ucap Kapten.
“Tidak, Kapt. Bukan karena itu. Kalau ada pilihan untuk tidak menangani kasus itu, pasti sudah aku pilih.” balas Lindsey.
“Baiklah. Aku pasti dan akan selalu membantumu.” ucap Kapten.
...****************...
Rumah markas
Jam 20.00
“Hey, aku harus makan yang banyak! Kamu lupa aku akan kembali berhadapan dengan siapa?!” ucap Lindsey sambil menahan sepotong ayam asam manis dengan sendoknya.
“Hey, jari aku sering tremor saat memasukkan kode programmer. Itu pasti karena aku jarang makan daging. Jatahku selalu direbut kalian berdua!” balas Piter yang juga menahan sepotong ayam asam manis dengan sendoknya.
“Sudah.. daripada bertengkar, biar adil ini ayamnya buat aku saja.” sahut Katie yang sendoknya ikut nimbrung di tengah.
“Apaan, sih?! Minggir!” seru Lindsey.
Di tengah persaingan, Kapten mengambil sepotong ayam terakhir itu dan memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya tanpa dosa di depan ketiga anak gengnya.
“Kapten!” Ketiga anak gengnya meneriaki dirinya.
“Kan aku yang masak. Sekarang giliran kalian yang cuci.” balas Kapten lalu berjalan ke ruang tengah, menyalakan tv.
“Piter, cucikan piringku. Nanti aku kasih 10 ribu.” ucap Lindsey lalu berjalan naik ke atas.
“Cucikan juga piringku. Aku tambah jadi 20 ribu.” tambah Katie lalu berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa sambil menonton tv bergabung dengan Kapten.
“Dasar wanita-wanita pemalas. Aku doakan kalian akan mendapat mertua yang galak!” ucap Piter.
30 menit kemudian, Lindsey turun dengan membawa tas yang agak besar.
“Kapt, tas golf punyaku dan stiknya ada dimana ya?” tanya Lindsey.
“Coba cari di gudang.” jawab Kapten.
Lindsey berjalan memasuki gudang dan mencari tas golf kepunyaannya. “Dimana, Kapt? Tidak ada disini.” teriak Lindsey dari dalam gudang.
Kapten pun beranjak dari ruang sofa ke gudang untuk membantu mencari tas golf Lindsey.
“Ini?! Ini apa ini?! Cari tuh pakai mata.” ucap Kapten seraya menunjuk tas golf Lindsey di lantai gudang.
“Loh? Perasaan tadi tidak ada. Beneran, Kapt! Tadi tidak ada!” balas Lindsey.
“Segede gini tidak kelihatan?!” Kapten keluar dari gudang.
Disusul Lindsey dengan membawa keluar tas golfnya.
“Untuk apa tas golf? Mau kemana kamu?” tanya Katie.
“Orangtuaku mengajak bermain golf besok pagi. Mereka akan menjemputku. Aku balik ke apartemen, ya. Bye, all!” jawab Lindsey sekalian berpamitan.
“Eh, eh, eh! Lindsey, tunggu dulu!” Piter ngibrit dari dapur ke ruang tengah.
“Ada apa?” tanya Lindsey.
“10 ribuku mana? Kalau besok akan dikenakan denda. Kamu juga, Katie. Mana?” jawab Piter.
“Cih.. dasar!” Lindsey merogoh koceknya dan mengeluarkan uang 10 ribu.
“Nih! Sudah, ya!” Lindsey memberikan uang 10 ribu ke Piter.
“Aku balik dulu, ya, guys!” pamit Lindsey.
“Jangan begadang. Minum air yang banyak. Atur suhu AC di kamarku ke 20°.” Kapten memberikan pesan untuk Lindsey.
“Siap, Kapt!” balas Lindsey.
...****************...
Keesokan harinya.
Jam 08.30
Springville Golf Club
“Lindsey, akhirnya kamu datang.” sambut bu William.
Lindsey tiba dengan mengenakan pakaian khas golf, kaos polo berkerah, dipadukan dengan celana rok dan topi golf.
“Kenalin nak, ini anak papa yang kedua, ketiga, dan kelima. Yang kedua namanya Harry, yang ketiga namanya John, yang kelima namanya Ray.” William memperkenalkan anaknya.
“Salam kenal. Aku Lindsey.” ucap Lindsey.
“Welcome to the fam!”
“Akhirnya punya adik perempuan.. Abangmu ada 6 loh, Linds. Hati-hati, jangan ketuker, ya.. hahaha..”
“Selamat, karena sudah berhasil menaklukkan hati mama. Kamu tahu kenapa kita semua berenam masih betah melajang? Karena tidak ada wanita yang berhasil menaklukkan hati mama.”
“Semoga betah ya jadi anak orangtua kita, hahaha..”
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih