Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Keberuntungan


halo semuanya.. hari ini aku akan up banyak .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya likenya masih dikit nihh 😭😭☺️☺️☺️ terima kasihh 🙏🏻🙏🏻


...****************...


Selamat membaca 🤗


“Ayo, makan siang. Aku tidak mau kamu sakit.” ucap Jarvis lalu menarik tangan Lindsey untuk pergi bersamanya.


“Tunggu!” Raut wajah Lindsey berubah menjadi tertekuk.


“Ada apa, Sayang?” tanya Jarvis.


“Kamu tidak mau mengatakan apa-apa gitu ke aku?!” tanya Lindsey.


Gawat. Lindsey memaksa otak Jarvis untuk bekerja yang kesekian kalinya. Meskipun tidak ada laki-laki yang bisa membaca pikiran seorang wanita, sekeras apapun mereka berusaha.


Jarvis pun terdiam sembari otaknya bekerja keras di dalam. Memikirkan hal apa yang terlewatkan untuk dia ucapkan kepada Lindsey. Lindsey memang tidak seperti wanita pada umumnya yang manja, suka merajuk, cengeng dan lain-lain. Tetapi bagaimanapun juga Lindsey adalah seorang wanita.


Seorang wanita yang pada hakikatnya memiliki kode rahasia yang sulit dipecahkan oleh laki-laki.


“Tunggu. Berikan aku waktu untuk berpikir sebentar.” ucap Jarvis. Jarvis spontan menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba terasa gatal.


“Huh! Aku kecewa sekali denganmu.” ucap Lindsey dan melipatkan kedua tangannya di depan dada.


“Hm.. i love you..?” ucap Jarvis.


“Bukan itu.” balas Lindsey.


Percobaan 1: Gagal ❌


“Hmm.. kamu cantik sekali hari ini..?” ucap Jarvis.


“Oh, jadi, biasanya aku tidak cantik? Begitu?” balas Lindsey.


Percobaan kedua: Gagal ❌. Bahkan Jarvis memperparah situasi.


“Oh, bukan! Tentu saja kamu biasanya cantik, hari ini lebih cantik dan besok lebih cantik lagi. Kecantikanmu bertambah setiap hari!” ucap Jarvis berusaha memperbaiki situasi.


“Bukan itu, Jarvis! Kamu benar-benar tidak tahu?” balas Lindsey.


“Hm! Kasih aku clue! Aku pasti bisa menjawabnya! Kasih aku clue, satu saja!” ucap Jarvis mulai menyerah.


“Hmh! Tidak perlu! Aku langsung saja, kamu sudah dibebaskan dari tuduhan sebagai penyelundup nark*ba. Ini surat pernyataan resmi dari kejaksaan.” Lindsey mengeluarkan sebuah surat yang terlipat menjadi 3.


Jarvis pun membacanya.


“Kasusmu sudah dihentikan.” ucap Lindsey kemudian.


“Ini serius, Lindsey? Secepat ini? Wah!” Jarvis mengangkat tubuh Lindsey dan membawanya berputar saking bahagianya. Kemudian dia juga menghujani ribuan kecupan di seluruh wajah Lindsey.


“Aku tadi sudah lihat kamu tahu di televisi. Tapi aku pikir itu tidak ada hubungannya dengan kasusku. Keren sekali kamu, Sayang! Terima kasih, ya.” ucap Jarvis kemudian.


”Traktir aku.” balas Lindsey.


“Iya! Ayo!” Jarvis membawa Lindsey pergi ke sebuah restoran untuk makan siang.


Jarvis memesan banyak menu di restoran sushi hingga satu meja penuh dengan makanan. Mulut Lindsey menganga besar.


“Jarvis? Sebanyak ini siapa yang bisa habiskan?” tanya Lindsey.


“Kamu. Kamu harus makan banyak. Tubuhmu terlihat kurus sekali saat di televisi tadi.” jawab Jarvis.


“Bagus dong kalau aku terlihat kurus.” balas Lindsey.


“Tapi kamu terlihat seperti kekurangan gizi. Aku tidak suka. Makan yang banyak.” ucap Jarvis.


“Kamu tahu tidak, sih. Karena posisiku di persidangan selalu tidak menguntungkan, aku bahkan sudah mempersiapkan Carlos untuk menggantikanku di JM Buildings jika aku benar-benar di penjara. Tapi setelah aku pikir lagi, kenapa aku harus di penjara? Aku tidak berurusan dengan nark*ba, dan kotak jam tangan itu aku dapatkan dari orang lain.” ucap Jarvis sembari menemani Lindsey makan siang.


“Sebenarnya ada salah satu pengawalnya Lukman yang tidak sengaja menyembunyikan nark*ba di bawah kotak jam tangan itu. Dia tidak tahu kalau Lukman akan memberikan jam tangan itu untukmu. Oh, ya, sepertinya aku tidak bisa datang ke pamerannya Lukman nanti. Aku sudah mempermalukan dia tadi pagi. Dan berita itu sudah menyebar luas.” balas Lindsey.


“Kenapa?” tanya Lindsey.


“Karena kamu tidak bisa datang.” jawab Jarvis.


“Waahh.. entah mengapa aku merasa hidupku sangat beruntung dan lengkap sekali saat bertemu denganmu. Memang benar, ya. Keberuntungan seorang laki-laki itu ditentukan oleh wanita yang berada di sampingnya.” ucap Jarvis kemudian.


“Memangnya kalau tidak ada aku, hidupmu penuh dengan kemalangan?” tanya Lindsey.


“Iya. Buktinya aku bisa berubah menjadi penyelundup dalam semalam. Itu sesuatu yang mengerikan. Dan bahkan aku nyaris mendekam di penjara. Kurang malang apalagi coba?” jawab Jarvis.


“Uuu.. kasihan..!! Banyak-banyak berbuat baik deh denganku. Keberuntunganmu ada di tanganku. Ahahhahah..” ledek Lindsey.


Jarvis meraih tangan kanan Lindsey yang sedang memegang sumpit.


“Aku akan selalu berusaha menjadi lebih baik lagi setiap harinya untukmu.” ucap Jarvis.


“Oh, ya. Biasanya pengacara akan mengatakan ini pada kliennya saat masalah sudah selesai. ‘Saya senang dapat membantu anda dalam menghadapi masalah hukum. Namun saya harap kita tidak bertemu lagi.’.” ucap Lindsey.


“Oh, tidak. Jangan pernah mengatakan itu padaku.” balas Jarvis.


“Kenapa? Itu mempunyai makna yang berarti. Artinya semoga kamu tidak tersandung masalah hukum lagi.” ucap Lindsey.


“Tapi aku tidak mau tidak bertemu lagi denganmu.” balas Jarvis.


“Kita tidak akan bertemu lagi sebagai pengacara dan klien.” ucap Lindsey.


“Oh.. jadi.. kalau sebagai Jarvis dan Lindsey.. kita masih lanjut bertemu dong?” tanya Jarvis.


“Iya. Tapi tidak bisa sering. Klienku bertambah banyak sejak tadi pagi. Memikirkannya saja kepalaku mau pecah.” jawab Lindsey.


“Yahh... Berarti waktu kita hanya di malam hari saja, dong?” tanya Jarvis.


“Iya. Akan aku berikan seluruh malamku hanya untukmu.” jawab Lindsey.


“Wah.. aku tidak sabar menantikannya.” balas Jarvis.


Lindsey kembali ke firma setelah makan siang bersama Jarvis. Saat dia tiba di lantai ruangannya, dia melihat ke sekeliling ruangan pengacara lain yang sedang sibuk, entah sibuk bertelepon, dan sibuk melayani klien.


“Pengacara Lindsey, anda sudah datang..” ucap salah seorang wanita dari meja penerima tamu/klien yang berada di depan pintu masuk lantai tersebut. Sudah 2 kali wanita itu menegur Lindsey. Lindsey melihat nama yang terpasang di dada sebelah kanannya. “Anna”.


“Eh.. iya.” ucap Lindsey.


“Pengacara Lindsey, ada 3 klien yang sudah mendaftarkan diri ke jadwal bertemu dengan anda. Namun karena anda masih baru di sini dan saya tidak tahu mengenai jadwal anda, saya memberikan jadwal pengacara secara umum untuk dipilih oleh klien.” ucap Anna seraya memberikan clipboard untuk Lindsey.


Lindsey menerimanya dan membaca secara seksama.


“Dan ini berkas mengenai permasalahan klien yang sudah dibuatkan untuk anda.” ucap Anna lagi seraya memberikan 3 tumpuk berkas yang ditumpuk menjadi satu dan tinggi.


Bulu kuduk di sekujur tubuh Lindsey secara spontan berdiri melihat tumpukan berkas itu.


“Oh, ya. Terima kasih. Nanti saya kirimkan jadwal saya secara rinci.” balas Lindsey.


“Baik.” ucap Anna.


Lindsey membawa tumpukan berkas dan clipboard itu ke ruangan pribadinya. Kemudian dia duduk di kursi dan mulai membaca berkas itu satu persatu.


Baru saja sekitar 10 menit berjalan saat Lindsey duduk tenang sambil membaca, suara ketukan lembut terdengar dari luar ruangannya. Kali ini bukan Luven, karena ketukan Luven sangat barbar dan grasak grusuk.


Lindsey menekan sebuah tombol di meja kerjanya untuk membuka pintu ruangannya secara otomatis. Dan di balik pintu terdapatlah Anna dengan setumpuk berkas di lengannya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih