Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Sebuah Janji


Tumpukan emas yang tersusun rapi, tinggi dan juga lebar. Warna emas yang berkilauan seolah memanggil-manggil dirinya, meminta Lindsey untuk menghampiri tumpukan emas itu. Lindsey akhirnya berjalan menuruni tangga satu persatu dengan hati-hati dan menghampiri tumpukan emas.


Hey, salam kenal. Aku adalah calon majikanmu sebentar lagi. ucap Lindsey di dalam hati seolah menyapa para emas itu.


Lindsey mendaratkan jarinya di atas emas yang sedang tiduran berjajar rapi.


“Ada, kan, emasnya? Untuk apa aku membohongimu, Lindsey.” ucap Jarvis.


Setelah memastikan emas itu benar-benar ada, Lindsey dan Jarvis kembali keluar dari ruang bawah tanah. Tempat penyimpanan Jarvis memang selalu tidak terduga. Ruang bawah tanah di markas, dan di balik rak buku ruang kerja Jarvis.


“Anak buahmu tahu tentang ruang bawah tanahmu itu?” tanya Lindsey.


“Hanya aku dan Carlos saja yang tahu. Sekarang bertambah, kamu.” jawab Jarvis.


“Sekarang bagaimana? Pilih aku atau emasku?” tanya Jarvis.


“Maafkan aku, Jarvis. Aku rasa aku mencintai dirimu yang bukan seorang mafia, dan tidak membunuh siapapun.” jawab Lindsey.


“Lindsey.. aku akan tamat sekarang jika kamu tidak berpihak padaku, Linds.” ucap Jarvis.


“Akui perbuatanmu. Suruh Carlos juga. Aku akan membantu meringankan hukumanmu di persidangan nanti.” balas Lindsey.


“Tidak! Tidak bisa! Kamu menyuruhku apa? Mengakui perbuatan? Kalau begitu aku bukan seorang mafia!” ucap Jarvis.


“Tidak ada cinta tulus dariku untuk seorang mafia. Dan kamu juga salah.” ucap Lindsey.


Lindsey mengambil kembali sebatang emas yang dia buang ke lantai tadi.


“Aku membutuhkan ini. Lebih baik aku menerima ini, daripada cinta dari seorang pembunuh.”


“Aku lebih membutuhkan emas ini daripada cinta darimu. Jadi, begini saja, setiap perbuatanmu yang sampai ke telinga dan mataku, kamu harus membayarku dengan emas batang ini. Karena sekarang ini adalah yang pertama kalinya, kamu hanya memberikanku 1 batang. Untuk yang kedua kalinya, kamu harus memberikan 2 batang, yang ketiga kalinya, 3 batang dan seterusnya.” lanjut Lindsey.


Jarvis mendekatkan wajahnya dengan wajah Lindsey dan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Lindsey.


Cup. “Setuju, Sayang.”


Hati Jarvis mulai terasa ringan dan lega karena sudah berhasil membujuk Lindsey. Namun tidak lagi begitu Lindsey mengatakan hal yang mampu meruntuhkan dunianya.


“Dan aku juga tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pembunuh. Kita akhiri saja hubungan kita.” kata Lindsey.


“Lindsey, kalau soal itu bisakah kamu mempertimbangkannya lagi?” tanya Jarvis. Pijakan kakinya melemah. Dia merasa dunianya seakan runtuh begitu mendengar perkataan Lindsey barusan.


“Tidak, Jarvis. Maafkan aku.” ucap Lindsey.


“Linds—Kumohon.. Ini tidak adil bagiku. Mana bisa aku berpisah darimu? Aku mohon kamu pertimbangkan lagi, ya?” pinta Jarvis.


“Jawabanku hanya dan akan selalu; tidak. Kecuali satu hal,berjanjilah kamu tidak akan memberi perintah untuk membunuh seseorang lagi.” ucap Lindsey.


“Lindsey..”


“...aku ini seorang mafia.” ucap Jarvis dengan lirihnya.


“Dan aku seorang pengacara! Sampai kapan aku harus tutup mata dengan segala perbuatanmu?! Tidak sadarkah kamu kalau pekerjaan kita sangat bertolak belakang? Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.” balas Lindsey.


“Tidak. Tidak. Baiklah, ok. Ok, aku berjanji. Aku berjanji padamu.” Jarvis menyodorkan jari kelingkingnya.


“Aku berjanji.” ucapnya kemudian.


Sssh. Benar kata Kapten. Aku sudah menjadi kelemahan Jarvis. Ini tidak baik. Namun setidaknya, aku berhasil menghentikan Jarvis membunuh orang lagi. batin Lindsey.


Lindsey pun juga mengaitkan jari kelingkingnya namun tubuhnya terhentak maju ke depan karena ulah Jarvis yang menariknya melalui kelingking.


Jarak wajah keduanya sangat dekat. Lindsey menjadi gugup. Jantungnya memompa lebih cepat tanpa seizinnya.


“Aku memulai hubungan ini bukan untuk main-main.” tambah Jarvis.


“Aku juga bukan laki-laki yang suka menyicipi tubuh wanita, merenggut keperawanannya, dan meninggalkannya setelah aku bosan.” ucap Jarvis kemudian.


“Sekarang berjanjilah padaku. Kamu tidak akaan mengatakan hal seperti tadi lagi.” pinta Jarvis.


****. Aku tidak bisa berjanji. Aku harus meninggalkan Jarvis begitu misi ini selesai. batin Lindsey.


“Ayo, berjanji padaku. Sesulit itukah?” tanya Jarvis.


“Aku berjanji.” jawab Lindsey.


Maaf, Jarvis. Salahku karena sudah membuat janji yang pasti akan aku ingkar. Meskipun aku tahu aku mustahil untuk bisa menepati janji ini, entah mengapa aku tetap ingin berjanji. Kelak, di saat harinya telah tiba, aku harap kamu mau membukakan pintu maaf untukku. batin Lindsey.


Jarvis merangkum wajah Lindsey dan membawanya ke dekapannya, memeluknya dengan erat dan hangat karena berada di dekat api menyala.


Tidak dapat disangkal, berada di dalam dekapan Jarvis saat ini memberi kehangatan dan ketentraman di hati Lindsey saat ini. Rasanya dia ingin tetap seperti ini, tanpa memikirkan dan mengkhawatirkan apapun. Pelukan hangat itu lantas membuatnya berpikir lagi. Apakah benar yang sebenarnya aku butuhkan adalah cinta?


Namun, terasa naif sekali bagi Lindsey yang belum pernah merasakan cinta. Seseorang yang belum pernah merasakan cinta, akan sulit mengenali dirinya yang kala itu sedang jatuh cinta. Dan juga, apa itu cinta? Tidak ada di dalam kamus hidupnya. Isi di dalam kamus hidupnya adalah bermain-main, mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk dihamburkan demi kesenangan pribadi.


“Kita harus kembali.” ucap Lindsey yang membuyarkan suasana yang sudah tercipta dengan romantis.


Lindsey menjauhkan tubuhnya dan membuat Jarvis terpaksa harus melepaskan pelukannya. Lindsey berbalik, berjalan keluar dari tempat yang disebut sebagai markas Jarvis, meninggalkan Jarvis sendirian di sana.


Setelah memadamkan api, Jarvis menyusul Lindsey yang sudah menunggu di depan markas. Kemudian ia menutup pintu markas rapat-rapat sebelum keduanya masuk ke dalam mobil dan kembali ke kota.


“Ngomong-ngomong, 2 rekaman CCTV itu kamu dapatkan darimana?” tanya Jarvis di perjalanan.


“Aku juga tidak tahu. Anonim yang mengirimkan ke emailku.” jawab Lindsey.


Apa jangan-jangan paman yang mengirimnya? Dia berusaha menjatuhkan aku melalui Lindsey, orang terdekatku..? Hm. batin Jarvis.


Saat Jarvis terus mengendarai mobilnya, pandangan Lindsey lurus memandang ke luar jendela. Rupanya dia sedang memandangi sebuah ombak yang berkejar-kejaran menghampiri tepi pantai.


“Di masa depan, aku akan membawamu ke sana.” ucap Jarvis.


“Lalu kita akan menikmati senja.” balas Lindsey.


“Dengan sebotol anggur merah.” tambah Jarvis.


“Dan meminumnya langsung dari botol.” tambah Lindsey.


“Sempurna!”


“Tapi aku lebih menyukai sunrise.” ucap Jarvis.


“Aku tahu. Kita sudah memperdebatkannya di ruanganmu.” balas Lindsey.


“Setelah dipikir lagi, masih banyak hal yang belum aku ketahui tentangmu. Umur, tanggal lahir, golongan darah, hobi?” ucap Jarvis.


“Menanyakan hal seperti itu sangatlah kuno.” balas Lindsey.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih