
“Itu sebuah kesalahan. Aku akui itu salahku karena telah mempercayai orang yang salah. Dan aku berani bertanggungjawab atas kesalahanku sendiri. Aku akan mengungkapkan semuanya ke kejaksaan.” Lindsey kembali bangkit berdiri dari kursinya.
“Duduk. Aku belum selesai bicara.” ucap Jarvis dengan dingin.
Namun Lindsey menghiraukan Jarvis dan malah berbalik badan.
“Carlos, sebenarnya aku dan Lindsey..” ucap Jarvis yang berhasil menghentikan kaki Lindsey. Jarvis berbicara sambil menatap tubuh Lindsey dari belakang, berharap Lindsey kembali duduk.
“..menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih.” Jarvis melanjutkan kalimatnya. Namun rupanya Jarvis salah. Kalimatnya tidak berhasil membuat Lindsey kembali duduk, malah Lindsey langsung berjalan meninggalkan restoran.
Jarvis mengejar Lindsey hingga keluar dari restoran dan menarik tangan Lindsey untuk menghentikannya.
“Mau kemana? Aku belum selesai bicara.” ucap Jarvis.
“Lepas!” Lindsey menghentakkan tangannya, tetapi itu tidak membuat Jarvis melepaskan tangannya. Tenaga Jarvis sangat kuat.
“Kamu mau ke kejaksaan dengan pakaian dan bibirmu yang seperti itu? Ingin menggoda jaksa di sana lalu membuat aku dan Carlos dipenjara? Lalu kamu bisa tidur dengannya karena aku sudah dipenjara, iya?” ucap Jarvis.
Plak! “Apakah selain memberi perintah untuk membunuh, mulutmu juga suka menyakiti hati wanita?!” balas Lindsey.
“Tidak ada yang bisa menggantikanku untuk memenuhi kebutuhan seksualmu, Lindsey..” ucap Jarvis seraya memegang dagu Lindsey.
“Bukankah katamu.. kita adalah pasangan kekasih? Kenapa membahas kebutuhan seksuall? Apa jangan-jangan kamu menjadikanku sebagai kekasihmu supaya kamu bisa memenuhi kebutuhan seksualmu? Kalau begitu apa bedanya dengan hubungan kita yang dulu?” balas Lindsey.
“Tidak bisa bicara di sini. Ikut denganku.” Jarvis menarik tangan Lindsey dan memasukkannya ke mobil meski beberapa kali Lindsey menolak. Jarvis mengendarai mobilnya menuju apartemen.
“Kamu meragukanku sebagai seorang kekasih?” tanya Jarvis sesampainya di apartemen.
Jarvis melepaskan jasnya, sementara Lindsey terus melangkah mundur.
“Apakah menurutmu aku menjadikanmu kekasih hanya untuk memuaskan nafsuku saja?” tanya Jarvis seraya melepas ikatan dasinya.
“Bukankah itu benar?” balas Lindsey.
Jarvis pergi ke arah dapur. Rupanya untuk mengambil botol ginseng yang tersisa setengah. Kemudian dia pergi ke arah Lindsey.
“Buka mulutmu. Akan aku buktikan apakah keraguanmu itu benar atau tidak.” Jarvis menyekoki ginseng tersebut ke mulut Lindsey meski Lindsey menolak.
“Telan terus. Bagus.”
Terus menolak namun tenaganya kalah dengan Jarvis, Lindsey akhirnya melempar botol ginseng itu ke lantai hingga pecah menjadi serpihan beling dan air ginseng berceceran di lantai.
Jarvis berdecak kesal.
“Efeknya sudah mulai terasa, kan?” tanya Jarvis.
Lindsey mendorong Jarvis agar menjauh darinya. Benar saja, di sekujur tubuh Lindsey mulai terasa hangat karena ginseng yang baru saja ditenggaknya. Jarvis kembali mendekati Lindsey, menggendongnya dan membawanya ke kamar.
Di sana Jarvis mulai menelusuri punggung Lindsey untuk mencari resleting dress yang dikenakan Lindsey. Begitu sudah menemukannya, ditariknyalah resleting itu hingga ke bawah. Bibir Jarvis kian menyambar leher Lindsey alih-alih bibirnya. Tangannya mulai menurunkan dress ketat yang dikenakan Lindsey dengan kasar.
Lindsey dapat merasakan dan melihat sisi “mafia”nya Jarvis yang kejam dan bengis. Sebuah pelajaran baru untuknya; jangan main-main dengan amarah seorang Jarvis.
Kini kedua berbaring di atas ranjang. Jarvis memposisikan dirinya berada di atas Lindsey sembari menggerakkan pinggulnya. Napasnya pun mulai tersengal-sengal setelah beberapa kali pelepasan yang dia lancarkan. Namun dengan melihat wajah Lindsey membuat semangatnya kembali penuh. Meski wajah itu seakan menunjukkan rasa tidak ingin dan kesalnya. Lindsey menempatkan kedua tangannya di dada bidang Jarvis.
“Kamu bilang aku menjadikanmu sebagai kekasihku hanya untuk memenuhi kebutuhan seksualku saja?” tanya Jarvis.
“Bagaimana dengan rela bangun subuh untuk membuatkanmu sarapan, meneleponmu seusai bekerja, menceritakan masa kecilku yang menakutkan, yang menjadi penyebab aku terbangun karena mimpi buruk setiap malam?”
“Jika benar hatiku dipenuhi nafsu saja, apa mungkin aku bisa melakukan itu semua padamu?”
“Katakan sesuatu, Lindsey. Jangan buat aku bingung.”
Jarvis mempercepat gerakannya. Tangannya meraih wajah Lindsey. Gerakannya semakin cepat, menghantam inti Lindsey. Lindsey merasakan otot tubuh Jarvis kian menegang. Lindsey menggelengkan kepalanya seakan bermaksud untuk jangan mengeluarkannya di dalam.
“Jarvis, jangan!”
“Kenapa..? Kamu ingin meninggalkanku? Setelah kamu tahu aku ini seorang mafia? Umm.. aahh.. umm.. aahh..” ucap Jarvis dengan napas yang terengah-engah.
“Jarvis, tidak! Aaahh..!!”
“Ergghh..!” Tubuh Jarvis berangsur lemas dan jatuh di atas Lindsey setelah menembakkan seluruhnya di dalam.
Untuk pertama kalinya Lindsey tidak menginginkan malam ini terjadi.
Seketika kepala Lindsey memutar kembali kalimat yang Jarvis ucapkan tadi sebelum pelepasan.
Jika benar hatiku dipenuhi nafsu saja, apa mungkin aku bisa melakukan itu semua padamu?
Tidak boleh. Jarvis tidak boleh mencintaiku. batin Lindsey.
Seusai membersihkan tubuhnya, Lindsey mengambil baju tidur yang berwarna pink dan mengenakannya. Lindsey keluar dari kamar mandi dan mendapati Jarvis sudah tertidur di atas ranjang.
Lindsey berjalan ke luar kamar dan mencari sesuatu di dalam tasnya. Sebuah pil yang berguna untuk mencegah kehamilan.
Aku tidak akan hamil setelah minum pil ini, kan? batin Lindsey saat menatap sebuah pil yang berada di tangannya.
Diminumnyalah satu tablet pil bersama air putih.
Setelah itu Lindsey mendapati pecahan beling botol ginseng yang berserakan di lantai dan air ginseng yang berceceran karena Lindsey melempar botolnya tadi. Lindsey mendekati area itu dan berjongkok, berniat untuk memunguti pecahan beling dan membereskannya.
Sebelum tangannya menyentuh serpihan beling itu, Jarvis lebih dulu menangkap tangannya. “Jangan sentuh itu.” ucap Jarvis dengan dingin.
Sejak kapan laki-laki itu keluar kamar?
Jarvis mengangkat tangan Lindsey dan membuat dia berdiri dari jongkoknya.
“Duduk di sana. Biar aku yang membereskannya.” ucap Jarvis dengan merujuk pada sofa.
Lindsey menurut dan duduk di sofa. Namun, matanya seakan tidak dapat berpaling dari Jarvis yang sedang memunguti pecahan botol ginseng satu persatu, kemudian membersihkan air ginseng di lantai.
Tidak boleh. Jarvis tidak boleh mencintaiku. Rasa cinta itu tidak boleh ada di antara kita. batin Lindsey.
Setelah selesai membereskannya, Jarvis mendekati Lindsey yang duduk anggun di sofa. Alih-alih duduk di sampingnya, Jarvis berlutut di lantai di hadapan Lindsey. Membuat Lindsey sendiri bingung. Saat ini perasaannya sedang kacau. Di satu sisi Lindsey sedang merasa tersentuh atas sikap Jarvis, namun di sisi lain, Jarvis hanyalah mafia kejam yang sudah merenggut nyawa om Lexis.
Jarvis meraih tangan Lindsey. “Maaf jika aku bersikap kasar dan menyakitimu tadi.”
Mata Jarvis menatap mata Lindsey yang sembab. Kedua tatapan mereka tampak sendu.
“Apa benar kamu seorang mafia?” tanya Lindsey.
Jarvis mengangguk pelan. “Aku takut kamu tidak bisa menerimaku.”
“Apa anak buahmu sangat banyak? Seperti di film-film?” tanya Lindsey.
“Um, ya. Sangat banyak.” jawab Jarvis.
“Apa mereka tersebar dimana-mana?” tanya Lindsey.
“Iya. Mereka tersebar di setiap tempat.” jawab Jarvis.
“Apa kamu memiliki markas? Seperti di film-film?” tanya Lindsey kemudian.
“Iya. Ada.” jawab Jarvis.
“Bawa aku ke sana.”
“Aku tidak bisa asal percaya lagi denganmu.” ucap Lindsey.
“Iya, nanti aku antar, ya.” balas Jarvis.
“Sekarang.”
“Aku mau ke sana sekarang.” ucap Lindsey.
“Tapi ini sudah jam 4 pagi.” balas Jarvis.
“Atau berikan saja alamatnya padaku.” ucap Lindsey.
“Baiklah. Aku antar sekarang.” balas Jarvis.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih