
“Kalau begitu aku akan menyempatkan waktu.” balas Lindsey.
Lindsey dan Jarvis berjalan keluar dari ruangan Jarvis. Mereka mendapati Katie yang sedang berdiri dengan jarak yang cukup dekat dengan ruangan Jarvis. Katie sedang berdiri dengan waswas sambil berjaga-jaga yang membuat Jarvis bingung.
“Katie?” panggil Jarvis.
Mata Lindsey membulat. Kenapa Katie yang berada di sini? Kemana Kapten?
“Huh?” Katie terkejut.
“Sedang apa disini?” tanya Jarvis.
“Ini.. aku lupa membuat jadwalmu besok. Aku ingin membuatnya sekarang.” jawab Katie.
“Oh... Nyalakan saja lampu, jangan lupa matikan sebelum turun.” balas Jarvis.
“Hm, Jarvis.. aku akan menemani Katie di sini. Kamu turun duluan saja.” sahut Lindsey.
“Hm, baiklah. Sampai jumpa di bawah.” ucap Jarvis.
Jarvis memasuki lift dan turun menuju aula.
“Dimana Kapten?” tanya Lindsey.
“Di dalam ruangan Jarvis.” jawab Katie.
Tidak lama kemudian, Kapten keluar dari ruangan Jarvis.
“Bagaimana, Kapt? Sertifikatnya ada?” tanya Katie.
“Tidak ada. Aku tidak menemukannya. Hey, Lindsey. Kamu bersama Jarvis tadi keluar darimana?” balas Kapten.
“Itu.. aku juga terkejut.. Di balik rak buku Jarvis terdapat sebuah kamar.” jawab Lindsey dengan gugup.
“Yang benar kamu?!” tanya Katie.
“Iya. Dan di dalamnya ada sebuah safety box. Firasatku Jarvis menyimpan benda penting di sana.” jawab Lindsey.
“Apa mungkin sertifikatnya ada di sana?” tanya Piter.
Piter mendengar percakapan mereka melalui earbuds.
“Pasti ada di sana. Dimana lagi kalau bukan?” balas Katie.
“Tapi hanya Jarvis yang bisa masuk ke sana. Kamar itu membutuhkan sensor retina mata Jarvis untuk memutar rak buku dan masuk ke dalam kamar.” ucap Lindsey.
“Tenang, ada Piter. Piter pasti bisa meretasnya. Dia saja pernah membobol pusat keamanan data milik negara dengan perlindungan yang berlapis-lapis.” balas Kapten.
“Jadi, maksud Kapten, kita akan membawa Piter ke ruangan Jarvis?” tanya Katie.
“Apa Kapten tidak tahu kalau itu akan membahayakan aku dan Katie?” tambah Lindsey.
“Kamu menjaga Jarvis dan Carlos di bawah, Katie menjaga di depan ruangan Jarvis, aku dan Piter yang akan masuk ke kamar itu. Itu tidak membahayakan.” ucap Kapten.
“Tidak. Aku mau masuk ke kamar. Aku yang menemukan kamar dan safety box itu.” balas Lindsey.
“Lau siapa yang menjaga Jarvis dan Carlos?” tanya Katie.
“Tidak tahu. Intinya aku mau masuk ke kamar itu.” jawab Lindsey.
“Ya, sudah. Kamu saja, Katie. Kamu menjaga Jarvis dan Carlos di aula. Aku, Lindsey dan Piter akan masuk ke kamar itu.” balas Kapten.
“Baiklah. Hati-hati ya kalian.” ucap Katie.
“Oh, ya. Bukakan akses lift untuk Piter ke sini. Piter, kamu mendengarnya? Bersiaplah datang ke ruangan Jarvis.” ucap Kapten.
“Baiklah. Aku akan memasuki gedung JM Buildings.” balas Piter melalui earbuds. Piter menyiapkan laptopnya dan keluar dari mobil van. Piter memasukkan ke dalam bajunya yang dilapisi dengan jaket. Dia menutup penuh resleting jaketnya hingga ke atas. Kemudian dia memasuki gedung melalui pintu belakang.
“Piter, sebelah sini.” panggil Katie dengan suara yang tidak kencang.
Piter mengikuti Katie yang membawanya ke sebuah lift khusus. Sesampainya di lift, Katie menempelkan kartu akses hingga lift terbuka.
“Ruangan Jarvis ada di lantai paling atas. Bawa kartu ini untuk berjaga-jaga.” ucap Katie.
“Baiklah. Terima kasih.” balas Piter. Pintu lift tertutup, dan lift membawa Piter ke lantai paling atas.
“Itu dia, Piter.” ucap Kapten.
“Lah? Bagaimana membuka ruangan Jarvis?” tanya Lindsey.
“Tadi aku memakai sidik jari Carlos.” ucap Kapten lalu mengeluarkan perekat lakban yang terdapat sidik jari Carlos yang Kapten ambil tadi. Namun perekat itu sudah tertekuk dan terlipat tidak beraturan.
Piter mengeluarkan laptop dari dalam bajunya dan memulai aksinya meretas sensor keamanan di ruangan Jarvis. Kapten dan Lindsey lega sedikit.
Setelah berkutat dengan laptopnya selama beberapa menit, alat sensor sidik jari di ruangan Jarvis mengeluarkan bunyi dan menampilkan tanda ceklis. Yang itu artinya Piter berhasil meretas keamanan di runagan Jarvis. Pintu ruangan Jarvis terbuka dengan sendirinya setelah itu.
Mereka bertiga masuk ke dalam dan menuju ke rak buku. Lindsey menggeser beberapa buku untuk menampilkan alat sensor yang menggunakan retina mata Jarvis. “Ini dia. Kamu bisa meretasnya?” tanya Lindsey.
“Tentu saja.” ucap Piter.
“Aku akan menjaga sekitar.” balas Kapten. Kapten berjalan ke jendela dan melihat ke bawah.
“Masih belum?” tanya Lindsey kepada Piter.
“Tunggu sebentar, Lindsey.” jawab Piter.
“Kapt, bagaimana dengan safety box-nya? Safety box nya pasti terkunci, kan?” tanya Lindsey.
“Itu mudah. Aku bisa menebak PIN hanya dengan melihat bekas sidik jarinya.” jawab Kapten.
“Baiklah. Bagaimana, Piter? Masih lama?” tanya Lindsey.
Lindsey tidak bisa menunggu dengan tenang. Karena dia sangat waswas kalau saja Jarvis akan kembali ke ruangannya.
“Sabar. Sebentar lagi.” jawab Piter.
Trit. Trit. Alat sensor tersebut mengeluarkan bunyi tanda berhasil. Perlahan rak buku itu berputar. Lindsey, Piter, dan Kapten masuk ke dalam. Lindsey mengarahkan ke kolong ranjang yang terdapat safety box di sana.
“Berat sekali. Bantu aku mengeluarkannya.” ucap Kapten.
Piter dan Lindsey membantu Kapten mengeluarkan safety box dari kolong ranjang. Butuh tenaga yang ekstra hingga bercucuran keringat, bahkan urat Piter dan Kapten sampai menonjol.
“Ini pasti isinya dosa-dosa Jarvis, nih!” ucap Piter yang masih sempat-sempatnya bercanda. Namun tidak bisa dibayangkan jika tidak ada Piter yang selalu bisa melucu meski keadaan sedang tegangm
Setelah mengerahkan seluruh tenaga, safety box akhirnya berhasil keluar. Kapten menyalakan senter dari ponselnya dan meneliti bekas sidik jari di kunci yang berupa angka di safety box itu.
“1306.” Kapten menekan angka 1306 di safety box tersebut. Dan lagi-lagi, mereka berhasil membukanya.
“Angka apa itu?” tanya Piter.
“Hari dimana orangtuanya meninggal.” jawab Kapten.
Safety box berhasil dibuka. Terdapat beberapa emas batangan yang beratnya 1000 gram yang tersusus berjajar rapi, beberapa gepokan uang dengan mata uang dollar amerika, euro, dan poundsterling, juga beberapa berkas dokumen yang merupakan sertifikat pendirian JM Buildings, mansion, hotel Grand Mansion dan villa. Semuanya tersusun rapi di dalam sana, apalagi emas dan gepokan uang.
Mereka bertiga pun terkejut hingga mulutnya menganga saat melihat isi safety box yang isinya emas berkilauan seperti bajak laut yang menemukan kotak harta karun.
Ternyata hotel Grand Mansion sebenarnya milik Jarvis toh.. batin Lindsey.
“Pantas saja berat. Isinya sebanyak ini.” ucap Piter.
“Satu, dua, tiga, empat, lima.. 15 batang berarti 15 kilo! Pantas saja rasanya seperti mengangkat karung beras!” sambung Piter.
“Beras di rumah 25 kilo, sih, Piter.” sahut Lindsey.
“15 kilo, tahu! Kapten mulai bulan ini membeli yang 15 kilo karena harganya sudah naik!” balas Piter.
“Oh iyakah, Kapt?” tanya Lindsey.
“Iya, benar. Toh, kamu sudah jarang pulang ke rumah markas.” jawab Kapten.
“Kenapa kita jadi mempeributkan masalah rumah tangga?” balas Piter.
“Iya. Tetap saja ini semua kalau dijumlahkan masih kurang dari 285 juta dolar amerika.” balas Kapten.
“Kira-kira dimana ya sisanya? Aku hampir frustasi..” ucap Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih