Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Kasus Pertama


halo semuanya.. jumpa lagi di episode kedua yg aku up hari ini .. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️terima kasih🙏🏻🙏🏻


“Makan yang banyak, ya, Sayang.” Bu William menaruh potongan lauk di atas piring nasi Lindsey.


Siang itu mereka kembali makan siang bersama sebagai keluarga. Pasangan suami istri itu selalu memberi perlakuan yang hangat untuk Lindsey. Sehingga membuat Lindsey merasa seperti anak yang sangat disayang oleh orangtuanya.


“Oh, ya. Selamat ya atas pencalonan papa sebagai presiden. Ini untuk papa.” Lindsey mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan memberikan untuk laki-laki yang berada di hadapannya.


“Apa ini, Lindsey?” tanya papanya seraya menerima kotak pemberian Lindsey.


“Buka saja.” jawab Lindsey.


“Ya ampun! Keren sekali ini! Ini untuk papa, Lindsey?!” ucap pak William setelah melihat sebuah dasi di dalam kotak.


“Wah! Mama juga dibeliin baju sama Lindsey tadi, pa!” sahut bu William.


“Pakai ini saat kampanye nanti. Aku akan mengawasi papa dari tv.” balas Lindsey.


“Terima kasih, ya, Lindsey. Bahkan anak-anak papa tidak ada yang seperhatian kamu..” ucap pak William.


“Aku berharap aku bisa membantu..” balas Lindsey.


“Tidak apa-apa, Lindsey. Papa berusaha keras menjauhkan kamu dari media agar tidak terekspos oleh publik.” ucap pak William.


“Oh ya, pa, orangtuanya Luven ingin bertemu kita dan Lindsey. Tapi mereka belum membatalkan perjodohan Luven. Apa papa tahu siapa orangtua dari anak yang dijodohkan dengan Luven?” sahut bu William.


“Tahu. Dia berasal dari partai yang sama dengan papa.” jawab pak William.


“Papanya Luven pasti mencari siapa yang terkuat.” balas bu William.


“Kita hanya perlu membatalkan perjodohan Luven saja, kan?” tanya Lindsey.


“Iya. Kamu tenang saja. Papa pastikan orangtuanya Luven tidak berani macam-macam denganmu.” jawab pak William.


Setelah makan siang bersama, Lindsey berpisah dengan orangtuanya yang pulang bersama sopir pribadi mereka.


“Lindsey, besok hari Sabtu. Kita main golf, yuk! Nanti sopir papa jemput jam 8 pagi.” ajak pak William.


“Oh? Boleh, pa. Sampai bertemu besok!” balas Lindsey.


“Kamu hati-hati bawa mobilnya, ya.” sahut bu William.


“Iya, ma.”


Mobil yang ditumpangi orangtua Lindsey pergi terlebih dahulu. Barulah Lindsey masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan tempat makan siangnya hari ini.


Sepeninggal mobil Lindsey, datanglah sebuah mobil yang berisikan 3 orang: Jarvis, Katie, dan Carlos. Mereka datang ke tempat itu karena klien meminta bertemu mereka untuk bernegoisasi masalah harga gedung.


Di tempat yang berbeda, lagi-lagi, Jarvis nyaris bertemu dengan Lindsey.


...****************...


“Selamat siang, bu. Ibu ditunggu pengacara Luven di ruangannya.” ucap sekretaris Luven melalui telepon setibanya Lindsey di ruangan dia sendiri. Padahal baru saja dia mendaratkan bok*ngnya di kursi.


Luven memang tahu cara merepotkanku. batin Lindsey mengeluh.


Lindsey pun terpaksa ke ruangan Luven yang berbeda lantai dengannya karena Luven adalah pengacara 1 tingkat lebih tinggi darinya.


“Pengacara Luven, ada apa memanggil saya?” tanya Lindsey setelah duduk di sofa ruangan Luven dengan menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangan di depan dada.


Luven meletakkan setumpuk berkas di atas meja sofa dan mendorongnya ke arah Lindsey, bermasuk untuk memberikannya. “Your first case.”


(Kasus pertamamu.)


Lindsey membulatkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri. “Hah? Aku?”


Luven mengangguk penuh.


“Yang benar kamu?! Ini bukan kasus kamu tapi kamu menyuruh aku yang mengerjakan, kan?” tanya Lindsey.


Lindsey menurunkan tangannya dan memajukan tubuhnya untuk mengambil setumpuk berkas itu.


Lindsey membalikkan halaman demi halaman.


“Kasus nark*ba. Seorang klien yang dituduh sebagai penyelundup. Yang harus kamu lakukan adalah membuktikan bahwa kejaksaan telah salah menuduh klienmu.” ucap Luven.


Tertuduh: Jarvis Morris.


Lindsey membulatkan matanya dengan besar saat membaca siapa klien yang akan dia tangani kasusnya. Dan di berkas itu tertera nama Jarvis.


Nark*ba? Jarvis terlibat dengan nark*ba?! Dan dia meminta bantuan dari GDP? Apa dia sengaja ingin bertemu denganku lagi? batin Lindsey. Lindsey menggelengkan kepalanya.


Bicara apa kamu ini? Jelas-jelas di saat terakhir Jarvis bilang tidak akan menemuiku, tidak akan mencariku lagi. Mungkin dia berharap akan mendapat pengacara yang lain. Pengacara di GDP kan banyak. Iya, pasti dia ingin bertemu pengacara yang lain. batin Lindsey kemudian mengangguk-angguk.


Luven mengamati Lindsey hingga kepalanya miring.


Lindsey meletakkan kembali berkas itu di atas meja. “Tidak. Aku tidak bisa menerima klien ini.”


Luven mengerutkan dahinya. “Loh? Kenapa?”


“Katamu seorang pengacara harus mengikuti hati nuraninya dalam menerima klien. Hati nuraniku barusan bilang ‘jangan terima klien itu.’.” jawab Lindsey.


“Jujur saja padaku. Kamu malas bekerja, ‘kan? Kamu masih ingin berada di masa penilaian, ‘kan? Ah, aku mah sudah tahu, Lindsey.” balas Luven.


“Nah, tuh, sudah tahu!”


“Lindsey, sudah satu setengah bulan kamu lepas dari penilaianmu dan menjadi pengacara tetap tapi kamu tidak mau menerima kasus apapun. Padahal kamu sudah menikmati apartemen dan mobil.” balas Luven.


“Pengetahuanku masih kurang. Aku masih ingin berada dalam masa penilaian.” ucap Lindsey.


“Iya, ini juga bagian dari penilaianmu dan penilaianku sebagai mentor. Ini penilaianmu yang terakhir, Lindsey.” ucap Luven.


“Nah, itu dia. Aku tidak ingin masa penilaianku berakhir. Aku masih ingin dinilai.” Lindsey terus beralasan. Namun bukan itu alasannya mengapa dia tidak ingin menerima kasus itu.


“Hahaha.. ok. Tapi setelah itu, aku tidak tahu menahu ya kalau kamu bukan pengacara di GDP lagi. Apartemen dan mobilmu ditarik kembali—”


“Arghh.. baiklah, baiklah. Tapi memangnya tidak ada kasus yang lain? Kasus nark*ba ini terlalu besar untukku.” balas Lindsey.


Mulut Luven memang ahlinya mempengaruhi seseorang. Lindsey pun akhirnya terpengaruh. Karena dia sudah terlanjur sayang dengan apartemen dan juga mobilnya.


“Pengacara tingkat 2 di GDP tingkat kesusahan kasusnya memang seperti ini. Lagi pula sama seperti yang aku ajarkan, kamu hanya perlu cari kejanggalan dan mencari bukti sebanyak-banyaknya. Menemui klien—” ucap Luven terpotong.


“Apa?! Tidak! Tidak bisa. Aku tidak bisa.” ucap Lindsey.


“Atau kalau mau seperti ini saja, kamu yang pergi menemui klien, aku yang mencari bukti.” sambung Lindsey.


“Loh, kok kamu jadi bernegoisasi? Memangnya ini adalah proses jual-beli?” balas Luven.


“Oh, aku tahu. Pasti kamu gugup ya ingin bertemu klien pertamamu? Aku juga seperti itu dulu. Tapi kamu tenang saja, nanti kamu juga akan terbiasa kok.” sambung Luven.


Bukan gugup bertemu klien, tapi aku gugup bertemu dengan Jarvis! Hubungan kita juga sudah berakhir. Be-ra-khir! The End! Bagaimana jadinya kalau kita bertemu lagi?! batin Lindsey.


“Aduh.. Luven.. aku tidak bisa...” ucap Lindsey.


“Aku juga tidak bisa membantumu lagi. Nanti aku dianggap melakukan pelanggaran. Semangat, Lindsey. Yang pertama memang selalu membuat gugup.” balas Luven.


Ih, matilah aku! Bagaimana ini? batin Lindsey.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih


akan ada episode ketiga yg menyusul di up nantinya.. stay tune & jgn lupa likenya ya ☺️☺️🤗🤗🤗❤️❤️❤️