Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Menjadi Seorang Ayah


halo semuanya👋👋 jumpa lg di bab berikutnya.. hari ini aku rencananya up 3 episode tapi aku kasih 💙 bonus akhir bulan 💙 ya heheheeh jadi up 5 episode sekaligus.. jgn lupa kasih like di akhir episode yaaa 🫶🏻🫶🏻 love yu sekebon🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻🫰🏻


sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻


...****************...


“Aku ingin bertemu anakku. Mana Noah?” ucap Jarvis.


Kapten fokus kepada tangan Jarvis yang penuh dengan belanjaan.


Kapten pun mempersilahkan Jarvis masuk.


“Halo, Noah..” sapa Jarvis.


Noah terdiam melihat Jarvis. “Ini teman Daddy, Noah. Namanya om Jarvis.” sahut Kapten.


“Om Apis?” kata Noah.


“Iya. Kenalan dulu sama om Jarvis.” kata Lindsey.


Noah mengulurkan tangannya. “Nama aku Noah. Umur aku empat.” ucap Noah.


Jarvis berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan Noah. “Oh ya? Berarti Noah sudah mau sekolah, dong?” tanya Jarvis.


“Iya. Besok aku sekolah. Aku sudah beli tas sama sepatu sama kotak pensil—sama apalagi, Mi?” kata Noah yang mendadak lupa.


“Sama buku, Sayang.” jawab Lindsey.


“Oh Noah sudah beli? Yah, om juga membelikan perlengkapan sekolah untuk Noah... Ini, untuk Noah.” Jarvis memberikan belanjaannya ke Noah.


“Woaahh... Mobil!” seru Noah ketika melihat ada gambar mobil di tas yang dibelikan Jarvis.


“Warna apa itu mobilnya?” tanya Jarvis.


“Biru!” jawab Noah.


“Anak pintar.”


“Bilang apa sama om?” kata Kapten.


“Terima kasih, om.” ucap Noah lalu dia mencium pipi Jarvis. Sepersekian detik, semua yang ada di sana sedikit terkejut dengan aksi Noah.


Karena Jarvis berhasil mengambil hati Noah. Walaupun Noah anak yang ramah dan mudah didekati.


Noah pun penasaran dengan paperbag lain yang dibawa Jarvis.


“Kok tidak ada buah?” tanya Noah setelah memeriksa paperbag yang lain.


“Hm, Noah.. kan kita sudah beli banyak tadi..” ucap Lindsey.


“Noah suka buah? Besok om bawakan buah untuk Noah, ya..” sahut Jarvis.


“Apa di rumah om ada kebun?” tanya Noah.


“Rumah yang dimana dulu, nih? Rumah om Jarvis banyak. Yang ada kebunnya letaknya jauh.” jawab Jarvis.


Piter tertawa mendengar Jarvis.


“Beneran, om?!” tanya Noah.


“Iya!”


“Mommy, aku mau ke rumahnya om Apis!” ucap Noah.


“Rumahmu yang mansion itu, Jarvis?” tanya Lindsey.


“Iya, yang ada sumur dan isinya kalian ambil semua.” jawab Jarvis menyindir.


“Itu jauh sekali, Noah. Besok kan Noah harus sekolah. Bagaimana kalau akhir pekan nanti?” ucap Lindsey.


“Nanti akhir pekan Daddy antar ke rumahnya om Jarvis, ya..” sahut Kapten.


“Kalian sudah mencari sekolah untuk Noah?” tanya Jarvis.


“Sudah, kok.” jawab Lindsey.


“Dimana?” tanya Jarvis.


“Ada. Di dekat sini.” jawab Kapten.


“Baiklah. Noah, om pulang dulu, ya. Sampai ketemu lagi.” pamit Jarvis.


“Dadahhh, om!” Noah melambaikan tangan.


“Mommy, tapi Noah besok mau pakai tas buah. Noah lebih suka tas buah daripada tas mobil.” ucap Noah selepas kepergiaan Jarvis.


“Iya, tapi Noah tidak boleh bilang itu di depan om Jarvis, ya..” balas Lindsey.


“Ok, Mommy.”


“Oh ya, Piter. Kamu berniat berpindah kampus ke sini, ’kan?” tanya Kapten.


“Iya. Namun dalam beberapa hari lagi aku harus kembali ke LA untuk mengurus kepindahanku.” jawab Piter.


“Tolong bawakan semua surat-surat yang ada di brankas kita, ya. Untuk keperluan sekolah Noah.” ucap Kapten.


“Ok.”


Keesokan harinya.


Jarvis sampai di TK tempat Noah bersekolah. Saat itu Noah sedang bermain perosotan di halaman depan sekolah bersama teman barunya.


“Noah!” panggil Jarvis.


“Om Apis?” Noah berlari ke arah Jarvis.


“Hey!” Jarvis mengangkat Noah dan menggendongnya.


“Bagaimana sekolah pertamanya hari ini?” tanya Jarvis.


“Seru! Aku berkenalan dengan teman-teman baru. Hari ini aku juga mengenal nama buah-buah baru. Ada kedondong, manggis, rambutan, kelengkeng—oh ya, om. Om tahu buah kelengkeng itu seperti apa? Aku belum pernah lihat.” jawab Noah.


Kapten dan Lindsey kalah beberapa menit dari Jarvis.


“Noah, main sama teman dulu ya.” ucap Jarvis dan menurunkan Noah.


Noah kembali bersama teman-temannya bermain di halaman.


“Sedang apa kamu disini?” tanya Kapten.


“Aku hanya berperan sebagai ayahnya Noah.” jawab Jarvis.


“Sudah cukup 5 tahun kamu berperan menjadi ayahnya Noah. Kini biar aku yang meneruskan peran itu karena aku adalah ayah kandungnya.” sambung Jarvis.


“Yang Noah butuhkan bukan siapa ayah kandungnya dan siapa yang bukan ayah kandungnya. Yang dia butuhkan hanya seorang ayah. Dia sudah nyaman denganku dan sudah menganggap aku sebagai ayahnya.” balas Kapten.


“Itu karena kalian tidak jujur padanya sedari awal. Kalian membohonginya dengan mengatakan kamu adalah ayahnya. Kalian dengar baik-baik, aku akan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.” ucap Jarvis.


“Cukup, Jarvis. Aku senang kalau kamu berperan sebagai ayah Noah. Tapi, Noah masih terlalu kecil untuk mengerti ini semua. Dia akan bingung kalau tahu memiliki 2 ayah. Jangan egois, Jarvis..” sahut Lindsey.


“Jadi, kamu ingin memisahkan aku dengan anakku sendiri? Sekarang siapa yang egois?” balas Jarvis.


“Jarvis..”


“Bagaimana kalau kita tinggal bersama saja? Aku, Noah, kamu, dan orang ini.” ucap Jarvis.


“Apa?!”


Rumah Markas.


Ruang Tengah.


“Apa?!”


“Jarvis akan tinggal di sini? Bersama kita?” tanya Katie.


“Wah, tidak, tidak, tidak. Aku tidak bisa seatap dengan manusia ini.” ucap Piter.


“Om Apis mau tinggal di sini?” tanya Noah.


“Iya, Noah.” jawab Jarvis.


“YEEYY!! Rumah ini akan menjadi ramai!” seru Noah.


“Noah, mandi yuk. Kan habis pulang sekolah.” ucap Lindsey.


“Ok, Mommy!”


Lindsey dan Noah pun naik ke kamar Noah.


“Jarvis, kamu mau tinggal di sini? Aduh, bagaimana ya? Di sini sudah tidak ada kamar lagi. Dan seandainya ada juga, rumah kita ini bukan kos-kosan.” ucap Piter.


“Tidak apa-apa, aku bisa tidur di sofa.” ucap Jarvis lalu mendorong kopernya dan duduk di sofa.


“Woah...! Manusia itu..!”


Keesokan harinya...


Di pagi hari..


“Hoaamm..!! Eh!? Kemana manusia itu?!” Piter dan Luven baru saja bangun tidur dan turun ke bawah mendapati sofa kosong tidak ada Jarvis.


“Mungkin sudah berangkat kerja terlebih dahulu?” ucap Luven.


“Baguslah. Aku jadi tidak perlu melihat wajahnya lagi.” balas Piter.


“Sarapan sudah siap. Aku mau mengurus Noah dulu sebelum berangkat sekolah.” ucap Lindsey.


Setelah menghidangkan masakannya di dapur, Lindsey naik dan masuk ke kamar Noah. Ketika dia membuka pintu kamar Noah, Lindsey langsung diperlihatkan dengan pemandangan Jarvis yang menyisir rambut Noah. Noah sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya dengan lengkap dan rapi. Terlihat kemeja Jarvis yang kemarin dilipat setengah lengan penuh dengan cipratan air.


“Sudah ganteng anak papa!” ucap Jarvis.


Lindsey memelototi Jarvis.


“Anak papa Fabio maksudnya..” ucap Jarvis kemudian.


“Itu Daddy, ooomm...” balas Noah.


Noah dan Jarvis pun keluar dari kamar. Diikuti Lindsey. Kapten juga keluar dari kamar sebelah.


“Hey, selamat pagi.” sapa Kapten.


“Sudah mau siang.” balas Jarvis.


“Kenapa kamu keluar dari kamar Noah? Jangan bilang...?” ucap Piter.


“Iya, memangnya kenapa?” balas Jarvis.


Noah meminum susu dan cereal yang dibuatkan Lindsey.


“Habiskan ya, Sayang...” ucap Lindsey.


Jarvis mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap sisa susu di sekitar mulut Noah.


“Wah... Kamu sudah seperti—” ucap Piter terhenti sejenak saat seluruh mata memelototinya.


“Seperti baby sitternya Noah. Pagi-pagi memandikan Noah, mengelap mulutnya Noah, tidak sekalian nanti mengantar Noah ke sekolah?” sambung Piter.


“Oh memang rencananya seperti itu. Noah mau berangkat sekolah sama om?” balas Jarvis.


“Mommy?”


“Mommy juga ikut kalau Noah mau.” jawab Jarvis.


“Iya, Mommy ikut. Habiskan dulu sarapannya.” ucap Lindsey.


Setelah menghabiskan susu dan serealnya, Noah siap berangkat menuju sekolahnya. Di ujung pintu, Jarvis berjongkok memakaikan sepatu untuk Noah dengan tangan Noah yang bertumpu di bahu Jarvis. Semua mata menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Tidak disangka, masih pagi namun Jarvis telah melakukan banyak hal untuk Noah.


Dia membuktikan perkataannya yang ingin menjadi ayah sungguhan untuk Noah.


“Sudah! Let's go!” ucap Jarvis lalu membuka pintu dan keluar bersama Noah. Kemudian membukakan pintu mobil belakang untuk Noah dan menutupnya kembali.


Lindsey pun ikut keluar. Jarvs membuka pintu depannya untuk Lindsey.


“Sudah aku bilang aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.” ucap Jarvis.


Lindsey sempat tercengang sekian detik hingga Jarvis berkata: “Noah bisa terlambat ke sekolah.”


“Jarvis gercep juga.” Piter memulai pergibahan.


“Lama-lama Jarvis bisa menyingkirkan Kapten dari posisinya.” sahut Luven.


“Aku juga berangkat kerja, ya!” pamit Katie.


“Hati-hati.” balas Piter.


Lindsey masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan Jarvis. Kemudian barulah Jarvis masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya.


“Mommy, nanti jemputnya agak lama seperti kemarin, ya. Aku mau main dulu sama temanku.” ucap Noah.


“Kalau Noah pulangnya lama, kasihan ibu guru Noah. Mereka ’kan harus menunggu Noah dan teman-teman Noah pulang dulu baru mereka bisa pulang. Semakin lama Noah pulang, semakin lama ibu guru pulang dan bertemu keluarganya.” balas Jarvis.


“Oh, iya! Kalau begitu nanti Mommy jemput aku tepat setelah aku pulang ya, Mi!” ucap Noah.


Sesampainya mobil Jarvis di sekolah, begitu Lindsey membukakan pintu mobil untuk Noah, anak itu langsung turun dan berlari menghampiri guru TK Noah. Membuat Lindsey geleng-geleng kepala. Jarvis pun ikut turun mengantar Noah.


“Titip Noah ya, bu.” ucap Lindsey kepada guru TK Noah.


“Baik, bu. Noah, dadah dulu sama Mommy..” ucap guru TK Noah.


“Dadah Mommy..!” Noah melambaikan tangannya dan masuk ke ruangan kelasnya.


“Mengapa Noah bersemangat sekali sekolahnya? Aku baca di artikel, anak-anak cenderung menangis dan tidak mau ditinggal ibunya saat minggu pertamanya sekolah.” ucap Jarvis.


“Entahlah.” balas Lindsey lalu berjalan menuju ke mobil.


Jarvis dan Lindsey kembali ke rumah markas. Dimana Jarvis mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Sedangkan Luven, Piter, Kapten, dan Lindsey sedang berkumpul di ruang tengah.


“Klien yang satu ini sedikit cerewet dan banyak maunya. Tapi bayarannya cukup tinggi. Kita akan melakukan penyamaran di—” ucap Kapten terpotng karena Jarvis tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


Barulah mereka rasakan betapa tidak nyamannya dan tidak leluasa jika ada orang asing tinggal bersama mereka. Terlebih Jarvis tidak kunjung pergi. Dia mengikat dasi sambil berkaca di kaca yang terdapat di ruang tengah.


“Hey, bisakah kamu cepat sedikit?” protes Piter.


“Lindsey, jangan lupa menjemput Noah tepat waktu. Aku tidak bisa karena ada rapat.” ucap Jarvis.


“Iya.” balas Lindsey.


Jarvis akhirnya keluar dari rumah markas.


“Kalau kamu akan menjemput Noah, biar aku dan Luven saja yang turun ke lapangan. Kamu dan Piter memantau kita di rumah.” ucap Kapten.


“Baiklah.” balas Lindsey.


Setelah misi selesai, Lindsey pergi ke sekolah untuk menjemput Noah. Namun sesampainya di sekolah, Lindsey melihat Jarvis sudah ada di sana dan sedang menggendong Noah.


“Kamu terlambat 2 menit, Lindsey.” ucap Jarvis.


“Katamu kamu tidak bisa jemput karena ada rapat?” tanya Lindsey.


“Aku baru saja membatalkannya.” jawab Jarvis.


“Aku dan Noah mau ke supermarket. Mau ikut?” tanya Jarvis kemudian.


“Mau ngapain?” tanya Lindsey.


...---...


Lindsey, Jarvis, dan Noah duduk di meja depan supermarket.


Rupanya, ayah dan anak itu mengidamkan es krim. Lindsey mengamati bagaimana ayah dan anak itu membuka tutup cup es krim dan sama-sama menjilat tutup cup itu hingga bersih tidak ada es krim sebelum mencicipi es krimnya.


“Wah.. makan es krim terasa segar sekali di siang bolong seperti ini.” ucap Jarvis.


“Mommy tidak mau coba?” tanya Noah.


“Tidak, Noah. Untuk Noah saja.” jawab Lindsey.


“Noah hari ini belajar apa di sekolah?” tanya Jarvis.


“Belajar nama-nama hewan. Oh, ya. Tadi ada teman Noah yang muntah di kelas, Mommy.” jawab Noah.


“Oh, ya? Sepertinya dia sakit.” balas Lindsey.


“Lalu kenapa dia sekolah kalau dia sakit, Mommy?” tanya Noah.


“Mungkin dia ingin bertemu dengan teman-teman.” jawab Lindsey.


“Kalau sakit itu ke rumah sakit, bukan ke sekolah. Meskipun ingin bertemu teman atau belajar, kesehatan itu nomor satu.” sahut Jarvis.


“Om Apis suka buah tidak?” tanya Noah.


“Suka.” jawab Jarvis.


“Om Apis suka buah apa?” tanya Noah.


“Semuanya om suka.” jawab Jarvis.


“Sama dong aku juga suka semua buah.” balas Noah.


“Apalagi kalau buah yang sudah dipotong, kulit dan bijinya dibuang.” ucap Jarvis sambil menatap Lindsey.


Semoga kamu masih ingat, Lindsey... batin Jarvis sambil menatap mata Lindsey.


“Wah aku juga! Tapi kata Mommy, Noah pemalas dan banyak maunya.” ucap Noah.


“Bagaimana kalau tangan kita sedang sakit? Kita tidak bisa melakukannya sendiri?” tanya Jarvis yang masih menatap Lindsey.


“Yang tangannya baik-baik saja yang harus melakukannya!” jawab Noah.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih