Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Ribuan Penyesalan


Selamat malam..


maaf telat lagi updatenya. sebelum baca, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️🙏🏻🙏🏻


“Sejak kapan kamu berkomplot dengan mereka dan membohongiku, Carlos?” tanya Jarvis.


“Eh?”


“Katakan dimana rumah sakitnya.” ucap Jarvis.


“Hah..?”


“Katakan padaku dimana Lindsey dirawat!” Jarvis mengulang kalimatnya.


Katie tidak memiliki pilihan lain. Dia terpaksa memberitahu dimana rumah sakit tempat Lindsey dirawat lengkap beserta kamar inapnya. Setidaknya Jarvis harus tahu kalau penyebab kondisi Lindsey drop adalah komplikasi keguguran dan janin yang telah gugur itu adalah anaknya.


Maafkan aku, Lindsey. Kurasa Jarvis berhak tahu soal ini.. batin Katie.


Jarvis langsung berlari secepat kilat menuju parkiran setelah mengetahui rumah sakit tempat Lindsey dirawat. Dia menancapkan gas mobil, mengemudi dengan kecepatan yang tinggi menuju rumah sakitt itu. Setelah dirinya sudah lama tidak mendengar kabar mengenai Lindsey, hari ini dia mendengar kabar yang tidak mengenakkan dari Lindsey. Dan menyangkut anaknya pula.


Rasa perih bak teriris pisau terasa di dadanya. Dia pikir semuanya akan baik-baik saja setelah dia meninggalkan dan berhenti menghubungi Lindsey. Namun ternyata tidak. Ribuan penyesalan kian menghantam dirinya sekarang. Penyesalan yang akan membuat seseorang mengatakan: “Andai waktu bisa diulang kembali....” atau: “Coba saja aku tidak melakukan itu, pasti ini tidak akan terjadi...”


Persetann dengan penyesalan, Jarvis hampir sana menabrak pengendara motor yang melaju dari arah kirinya. Nasib baik Jarvis masih sempat rem mendadak.


“Bawa mobil yang benar, dong!”


Jarvis tetap di dalam mobilnya, mengabaikan si pengendara motor dan membunyikan klakson dengan kencang. Kemudian dia lanjut mengemudi melewati motor tersebut. Dia bahkan tidak peduli jika pengendara motor itu terluka, atau bahkan meninggal dunia. Dia hanya ingin cepat-cepat menemui Lindsey.


Sesampainya di rumah sakit, Jarvis berlari sekencang mungkin ke kamar inap Lindsey. Namun ketika Jarvis membuka pintu kamar inap Lindsey, kamar itu kosong. Tidak ada siapapun. Padahal dia yakin sekali dia mendatangi kamar inap yang benar sesuai dengan yang Katie infokan.


Jarvis bergerak maju mendekati ranjang pasien. Lalu pandangannya terarah ke jendela di kamar inap itu. Dia melihat ke bawah melalui jendela, mendapati Lindsey sedang bermain di taman bersama 2 orang laki-laki yang tidak ia kenali. Jarvis langsung berlari turun ke bawah untuk menghampiri Lindsey.


“Piter, Kapten, izinkan aku untuk melakukan pencurian.” ucap Lindsey.


“Hah? Disini?” Kapten dan Piter bingung.


“Ini rumah sakit, Lindsey. Apa yang bisa kamu curi disini?” bisik Piter.


Lindsey berjongkok untuk memetik bunga di taman. “Ini. Bukankah ini termasuk pencurian? Mengambil benda yang bukan milik kita.” ucap Lindsey kemudian.


Lindsey menaruh bunga hasil petikannya di telinga Piter dan Kapten.


“Hahaha..! Boleh. Aku juga mau. Kapt, tolong jaga sekitar, ya. Aku mau mencuri.” ucap Piter.


“Baaaiikk... Siap!” balas Kapten.


Gantian Piter yang memetik bunga di taman dan menyelipkannya di telinga Lindsey.


“Bagaimana? Kecantikanku bertambah tidak?” tanya Lindsey.


“Ah, cantiknya..” jawab Piter.


“Akan lebih cantik lagi kalau kamu tersenyum.” sahut Kapten.


“Hahahaha... Bagaimana kalau bunga yang ini?” tanya Lindsey seraya memetik bunga lain yang berwarna putih.


Akhirnya Lindsey tersenyum kembali meski dengan bibirnya yang pucat. Kapten dan Piter pun senang melihat Lindsey kembali tersenyum.


“Lindsey!” Seseorang memanggil namanya dengan suara yang kencang. Membuat Lindsey menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


“Kapt, kapt, itu Jarvis, kapt!” seru Piter.


“Lindsey, Lindsey, ayo cepat kembali ke kamar!” Kapten mengajak Lindsey kembali ke kamar.


Namun Lindsey mengabaikan suara Kapten yang mengajaknya ke kamar. Fokusnya sudah terkunci pada seorang laki-laki yang berdiri jauh di depannya.


“Lindsey, ayo!” ajak Piter.


“Lindsey?” ajak Kapten.


“Kapt, ayo kita pergi, Kapt.” ajak Piter.


Kapten dan Piter pun pergi meninggalkan Lindsey di taman. Mereka kembali ke kamar inap Lindsey, mengamati Lindsey dan Jarvis dari jendela di atas.


Jarvis berlari dan memeluk Lindsey yang masih diam di tempat begitu melihat Jarvis. Bunga yang digenggamnya pun jatuh terlepas dari tangannya. Begitu pula yang terpasang cantik di telinganya. Kerinduan yang selama ini menghantui Jarvis, terbayar tuntas saat memeluk tubuh Lindsey yang terasa lemah. Wajahnya pun pucat, berbeda dengan wajah yang sebelumnya dia lihat. Jarvis mengeratkan pelukannya.


Rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Seharusnya dia tidak mengabaikan Lindsey. Ribuan penyesalan itu kembali datang.


“Kamu tidak apa-apa? Perut—perutmu.. apakah masih sakit?” tanya Jarvis.


Jarvis akhirnya datang. Meskipun terlambat. Tetapi dia datang. batin Lindsey.


Lindsey menatap Jarvis sebelum dia menundukan kepala, mengatakan “Maafkan aku..” dan air mata mulai berjatuhan. Lindsey menangis.


Jarvis kembali memeluknya, membiarkan Lindsey menangis kencang dalam dekapannya. Air matanya pun ikut menetes tanpa suara. Dia bisa merasakan penderitaan yang dirasakan Lindsey melalui suara tangisan Lindsey. Cukup lama Lindsey menangis dalam dekapan Jarvis. Membasahi kemeja yang terpasang rapi di tubuh Jarvis.


Hingga tangisannya mulai reda, Jarvis dan Lindsey duduk berdua di bangku taman. Namun duduknya menyerong ke arah Lindsey. Jarvis tidak bisa berhenti menatap Lindsey.


“Kenapa kamu tidak bilang padaku?” tanya Jarvis.


Pertanyaan yang Jarvis lontarkan membuat Lindsey termenung menundukkan kepalanya. Tangannya dengan erat meremass pakaiannya. Dia benar-benar merasa bersalah karena tidak dapat menjaga kedua janinnya dengan baik.


“Sebenci itukah kamu padaku? Sampai tidak ingin terlibat lagi denganku? Kamu hamil anakku pun kamu tidak bilang padaku?” tanya Jarvis kemudian.


Aku tidak benci padamu. Sama sekali tidak. Melainkan aku benci pada diriku sendiri... Diriku yang tidak bisa berkata jujur padamu. Dan pada akhirnya aku hanya meninggalkan luka... batin Lindsey.


“Aku minta maaf.”


Hanya 3 kata itu yang mampu Lindsey keluarkan. Setetes air mata pun mengalir jatuh ke tangan Lindsey yang kala itu dia menundukkan kepalanya.


Jarvis menyelipkan rambut Lindsey ke belakang telinganya karena dia tidak bisa melihat wajah Lindsey yang tertutup rambut saat sedang menunduk. Perlahan Jarvis mengusap air mata yang membasahi pipi Lindsey. Dia merasa lebih bersalah karena mengabaikan Lindsey. Dan juga karena sempat tidak peduli dengan Lindsey.


“Kamu tidak salah. Aku yang mengacuhkanmu.” ucap Jarvis.


“Namun biasanya wanita akan meminta pertanggungjawaban setelah dihamili.” sambung Jarvis.


“Aku baru mengetahui diriku sedang hamil 9 hari yang lalu. Dan 4 hari yang lalu aku kehilangan mereka. Aku tidak sempat memikirkan pertanggungjawaban di waktu yang sesingkat itu.” balas Lindsey.


“Lalu seandainya anak kita lahir, apa kamu akan bilang padaku?” tanya Jarvis.


“Tidak, kan? Sampai matipun aku yakin kamu tidak akan bilang padaku.” Jarvis menjawab pertanyaannya sendiri.


“Bilang padamu atau tidak, itu adalah keputusanku.” balas Lindsey.


“Tapi kamu mengandung anakku. Kenapa aku tidak berhak tahu?


Ini yang aku tidak suka darimu. Kamu selalu membuat keputusan sendiri dan kamu selalu menganggap keputusan yang kamu ambil adalah benar. Mungkin jika anak kita lahir, dia akan membenci ibunya sendiri karena tidak—”


“Cukup, Jarvis.”


“Aku salah. Aku tidak bilang padamu soal kehamilanku dan aku juga tidak bisa menjaga janinku sendiri dengan baik. Aku memang salah. Aku tahu. Hiks... Hiks..”


Tetesan air mata kembali jatuh mengalir membasahi pipi Lindsey.


“Tadi kamu bertanya sebenci itukah aku padamu? Tidak, Jarvis. Aku sama sekali tidak membencimu. Aku lebih membenci diriku sendiri yang tidak bisa menjaga kedua janinku dengan baik!” Lindsey bangkit dari duduknya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih