
Selamat malam, maaf telat updatenya. Sebelum baca episode berikut ini, yuk boleh yuk scroll dulu ke episode sebelumnya dan di like ya supaya aku semangat trs updatenya ☺️☺️☺️ terima kasih 🙏🏻🙏🏻
...****************...
...****************...
Dan ternyata hal yang tidak diinginkan terjadi...
“Kedua janin sudah tidak ada detak jantungnya..” ucap sang dokter.
Dokter segera mengambil tindakan kuretase untuk mengeluarkan janin yang sudah tidak bernyawa itu. Lindsey dinyatakan keguguran setelah baru saja 5 hari yang lalu dia mengetahui kehamilannya.
“Tidak apa-apa. Ini belum rejekimu, saja..” ucap Kapten menenangkan Lindsey sebelum masuk ke ruang operasi.
“Kamu manusia yang kuat, Lindsey. Semangat! Kamu pasti bisa..” ucap Piter.
“Semangat, Lindsey! Kamu hebat, kamu kuat!” ucap Katie.
Setelah itu perawat mendorong ranjang pasien dan masuk ke dalam ruang operasi.
...****************...
Lindsey terbangun. Kala itu dia sudah berada di kamar pasien. Saat dia membuka matanya semua terasa seperti mimpi. Baru saja beberapa hari yang lalu dia mendapati dirinya sedang hamil namun hari ini dia keguguran. Mengapa begitu cepat Tuhan menitipkan 2 malaikat kecil di perut Lindsey?
“Aku membuat sup hangat agar perutmu terasa lebih baik.” ucap Kapten. Kapten menghidangkan supnya dan menyuapi Lindsey secara perlahan.
“Kapan aku boleh pulang?” tanya Lindsey.
“Suhu tubuhmu tadi sempat 38° karena komplikasi keguguran. Dokter masih ingin memantau keadaanmu.” jawab Kapten.
“Kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi sekarang. Fokus saja ke pemulihanmu. Aku sudah mengurus izin sakitmu ke firma.” sahut Piter.
“Katie mana?” tanya Lindsey.
“Dia bekerja. Oh, ya. Katie menyuruhmu menelepon dia saat kamu sudah sadar. Tapi nanti saja, kamu istirahat saja.” jawab Piter.
“Tidak apa-apa, aku telepon sekarang saja. Ponselku mana, ya?” tanya Lindsey.
“Ini.” Piter mengambil ponsel Lindsey yang berada di atas meja.
Setelah menerima ponselnya, Lindsey langsung menelepon Katie. Betapa tenangnya hati Katie saat mendengar suara Lindsey pasca operasinya. Katie pun bertolak ke rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya.
...****************...
...****************...
Rupanya di hari kedua dirawat kondisi Lindsey sempat drop, demamnya semakin tinggi, sempat menyentuh suhu 40°. Dokter menyarankan untuk menambah waktu rawat inap sebanyak 3 hari. Itu karena komplikasi dari keguguran yang dialami Lindsey dan daya tahan tubuh Lindsey yang melemah.
Kapten dan yang lainnya sama sekali tidak memperbolehkan Lindsey pulang meski Lindsey memaksa. Mau kabur pun tidak bisa, karena tubuh Lindsey sangat lemas. Setelah 4 hari berada di rumah sakit, mendapat perawatan khusus, akhirnya suhu tubuh Lindsey kembali normal di 36°. Lagi-lagi Lindsey memaksa pulang.
“Besok pulangnya.” ucap Kapten.
“Hari ini saja. Kan aku sudah tidak demam. Ya, boleh, ya??? Piter? Katie?” balas Lindsey.
“Tidak. Besok.” sahut Piter.
“Nanti tagihan rumah sakit meledak. Secara ini kan kamar VIP!!! Ayolah!! Katie? Kamu berada di pihakku, kan?” balas Lindsey.
“Tidak. Kita bertiga patungan, jadi tidak berat.” sahut Katie.
“Aku sudah bosan disini!!!” rengek Lindsey.
“Aku sudah bawakan konsol game PS5. Ayo, main bareng!” ucap Piter.
Lindsey melawan 3 orang sekaligus. Jelas Lindsey kalah. Dia menghembuskan napas berat. Dengan terpaksa dia menuruti 3 lawannya.
“Nanti pulangnya bawakan martabak, ya!” pinta Lindsey.
“Siap, Nyonya besar.” Katie keluar dari kamar Lindsey dan pergi ke JM Buildings untuk bekerja.
Carlos dan Jarvis sudah tiba lebih dulu di kantor. Mereka sudah berada di ruangannya masing-masing. Katie pun mendaratkan bok*ngnya di kursi dan menyalakan komputer untuk mengecek jadwal Jarvis pada hari ini.
Tidak lama, Carlos keluar dari ruangannya dan menghampiri meja Katie.
“Katie, apa Lindsey baik-baik saja?” tanya Carlos.
“Ehm? Tentu. Dia baik-baik saja, kok. Dia sedang ditugaskan ke luar kota karena ada klien di sana.” jawab Katie.
“Jangan bohong. Beberapa hari yang lalu aku mengikuti kamu ke rumah sakit dan ada Lindsey di sana. Pasti terjadi sesuatu, kan?” Di hari Lindsey dioperasi, Carlos mengikuti Katie ke rumah sakit setelah menerima telepon dari Lindsey yang sudah sadarkan diri.
Carlos memiliki firasat yang buruk, terlebih lagi dia juga sudah lama tidak melihat Lindsey. Kekhawatirannya bertambah saat Carlos mengikuti mobil Katie yang sampai di sebuah rumah sakit besar. Sayangnya Carlos tidak bisa masuk ke dalam karena Jarvis akan terkejut nantinya saat melihat Katie dan Carlos tidak ada di tempat.
“Hmm, Carlos.. Sebenarnya Lindsey kemarin sedang dirawat di rumah sakit selama beberapa hari ini.” ucap Katie. Mau tidak mau Katie berbicara jujur karena Carlos sudah terlanjur mengikutinya sampai ke rumah sakit.
“Hah?! Lindsey sakit apa?!” Carlos terkejut.
“Sshuutt.. jangan kencang-kencang..!” Katie melirik keadaan sekitar.
“Lindsey sakit apa?!” Carlos mengulang pertanyaannya dengan suara yang lebih kecil.
“Tapi janji dulu. Jangan kasih tau Jarvis, ya?” pinta Katie.
“Iya. Sakit apa Lindsey?”
“Dia sempat ngedrop. Demamnya sampai 40°. Itu diakibatkan karena komplikasi keguguran.” ucap Katie.
“Hah?! Keguguran?! Itu artinya..?” Carlos berusaha menafsirkan kalimat Katie.
“Iya. Yang kamu pikirkan itu benar. Lindsey sempat hamil. Kembar. Dia mengalami pendarahan hebat dan tidak berhenti. Dokter bilang janin yang dikandungnya sudah tidak ada detak jantungnya. Dan akhirnya langsung dilakukan operasi pengangkatan janin di ruang operasi.” ucap Katie.
“Apa katamu barusan?! Siapa yang hamil kembar dan keguguran?” Muncul suara seseorang dari belakang. Katie dan Carlos pun terkejut dan berbalik badan. Didapatinyalah Jarvis yang sedang berjalan menghampiri mereka dengan secangkir teh di tangannya.
“Jarvis? Kok membuat teh sendiri dan tidak menyuruhku?” tanya Katie.
“Tadi kamu masih belum datang. Kamu belum jawab pertanyaanku, siapa yang hamil dan keguguran?!” balas Jarvis.
“Oh, itu! Anjing kesayangan papanya Katie!” sahut Carlos.
“Anjing? Iya benar, anjing papaku.” tambah Katie.
“Sejak kapan kamu berkomplot dengan mereka dan membohongiku, Carlos?” tanya Jarvis.
“Eh?”
“Katakan dimana rumah sakitnya.” ucap Jarvis.
“Hah..?”
“Katakan padaku dimana Lindsey dirawat!” Jarvis mengulang kalimatnya.
Katie tidak memiliki pilihan lain. Dia terpaksa memberitahu dimana rumah sakit tempat Lindsey dirawat lengkap beserta kamar inapnya. Setidaknya Jarvis harus tahu kalau penyebab kondisi Lindsey drop adalah komplikasi keguguran dan janin yang telah gugur itu adalah anaknya.
Maafkan aku, Lindsey. Kurasa Jarvis berhak tahu soal ini.. batin Katie.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih