Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia

Terjebak Cinta Terlarang Sang Mafia
Berpesta (2)


“Oh, ya! Carlos, aku sudah mengirimkan jadwal Jarvis ke email kamu. Bisa kamu cek sekarang?” tanya Katie.


“Nanti saja. Kita kan sedang berpesta.” jawab Carlos.


“Kamu harus lihat. Sekarang. Supaya aku bisa merevisi kalau ada yang salah. Ayo lihat sekarang.” balas Katie. Katie memaksa Carlos agar perhatiannya tertuju pada ponsel dan tidak menyadari keberadaan Kapten seorang pelayan.


Kapten berhasil mengambil gelas Jarvis bersama gelas yang lainnya yang terdapat di atas meja dan pergi menuju dapur.


Sementara itu, Jarvis membawa Lindsey menaiki sebuah lift dengan tujuan lantai paling atas. Sangat jauh dari aula.


“Kita kamu kemana?” tanya Lindsey.


“Ke tempat yang sepi.” bisik Jarvis.


Tibalah mereka di lantai teratas, lantai yang hanya terdapat ruangan Jarvis dan Carlos. Ditambah meja Katie di depan ruangan Jarvis yang kini sudah menjadi sekretarisnya.


Gawat! Jarvis malah membawaku ke ruangannya! Aku harus kasih tahu Kapten! batin Lindsey. Lindsey merasa tegang sekaligus takut karena nantinya Kapten akan menyusup ke ruangan Jarvis. Lindsey membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel untuk mengabari Kapten. Tiba-tiba tangan Jarvis menarik tangan Lindsey dan menggenggamnya.


“Kenapa kita ke ruanganmu?” tanya Lindsey.


“Karena hanya ini tempat yang paling sepi.” jawab Jarvis.


Jarvis menggenggam tangan Lindsey dan berjalan menuju rak buku. Kemudian digeserlah beberapa buku yang ada. Jarvis mendekatkan wajahnya ke rak buku tersebut. Lindsey mengerutkan dahinya karena tidak mengerti dengan apa yang Jarvis lakukan. Selang beberapa detik, rak buku tersebut berputar dan menampilkan sebuah ruangan di dalamnya.


Jarvis membawa Lindsey masuk ke dalam. Ternyata ruangan tersebut adalah sebuah kamar yang hanya berisikan ranjang berukuran king size, meja rias, dan lemari.


“Jarvis..” ucap Lindsey seraya matanya melihat sekeliling kamar itu.


“Ya, Sayang.” balas Jarvis. Jarvis meletakkan kotak pemberian Lindsey di atas meja rias. Tangannya mulai melepas jam tangan dan tuksedo yang dikenakan.


“Sebuah kamar? Di dalam rak buku?” tanya Lindsey.


“Nyaman sekali bukan?” balas Jarvis lalu memeluk Lindsey dari belakang. Mengendus leher Lindsey yang terpampang jelas.


“Aku sudah sangat merindukanmu, Lindsey.” ucap Jarvis.


“Kamu tahu definisi dari ‘beautiful in white’ ? Itu kamu. Kamu adalah definisi dari ‘beautiful in white’.” ucap Jarvis kemudian.


Kemudian Lindsey berbalik dan mencium bibir Jarvis yang sudah beberapa hari tidak ia sentuh. Ciuman mereka berubah menjadi nafsu yang berusaha melahap bibir satu sama lain tanpa ingin kalah. Jarvis bergerak semakin maju dan membuat Lindsey melangkah mundur hingga terjatuh di atas ranjang. Kaki Lindsey tidak sengaja menabrak sesuatu di kolong ranjang.


Jarvis membuka kancing kemejanya satu persatu kemudian mengunci Lindsey dalam kungkungannya dan mencium kembali bibir Lindsey. Sembari tangannya menjalar ke punggung Lindsey, mencari resleting gaun Lindsey dan menariknya ke bawah.


...****************...


Setelah mendapatkan gelas milik Jarvis, Kapten beranjak ke sebuah lift untuk naik ke ruangan Jarvis. Namun ternyata lift tersebut digunakan untuk orang yang berkepentingan saja dan membutuhkan kartu akses. Kapten menelepon Katie yang sedang bersama Carlos kala itu. Katie terpaksa menghampiri Kapten.


“Ada ada saja.” ucap Katie yang menempelkan kartu tersebut dan lift dapat digunakan.


“Ruangan Jarvis berada di lantai paling atas.” ucap Katie kemudian.


Kapten memasuki lift. “CCTV di dalam lift, aman.” ucap Piter yang didengar Kapten melalui earbuds.


Kapten mulai melancarkan aksinya. Dia mengeluarkan botol yang berisi bedak tabur dan menaburkannya sedikit di gelas. Lalu menggunakan kuas untuk menghilangkan bedak yang berlebihan. Gerakannya begitu lembut agar sidik jari tidak rusak. Lalu Kapten menekan-nekannya dengan gerakan melingkar agar bisa melihat sidik jari dengan jelas.


Kemudian Kapten memotong perekat lakban dan menempelkannya di atas sidik jari yang sudah ditaburi bedak. Kapten mengangkat perekat dengan hati-hati dan sidik jari yang telah dibubuhi bedak menempel di perekat tersebut. Bertepatan dengan lift yang sudah sampai di lantai paling atas, Kapten segera beranjak ke ruangan Jarvis.


“Seriusan, Kapt?” balas Piter.


“Sebentar aku cek CCTV dapur.” sambung Piter.


“Oh iya. Aku menemukan gelas itu. Aku akan menyuruh Katie membawakannya ke atas.” ucap Piter kemudian.


Katie berjalan ke dapur dan para staf sudah mencuci sebagian gelas. “Sebagian gelas sudah dicuci, aku tidak bisa membedakan mana punya Jarvis.”


“Sebentar. Aku punya ide. Kita pakai sidik jari Carlos saja. Carlos bisa masuk ke ruangan Jarvis dengan sidik jarinya. Aku akan ke atas sekarang.” ucap Katie kemudian.


Sesampainya di atas, Katie membantu Kapten mengambil sidik jari Carlos yang berada di gagang pintu ruangannya. Kapten mencoba memasukkan sidik jari Carlos yang didapat dari gagang pintu ke sensor kunci pengaman ruangan Jarvis. Dan ternyata berhasil. Pintu ruangan Jarvis berhasil terbuka.


“Aku akan jaga dari luar.” ucap Katie.


Kapten masuk ke dalam ruangan Jarvis dan mulai mengecek setiap laci di meja kerja Jarvis menggunakan senter dari ponselnya untuk membantu pencarian.


...****************...


“Aaahh.. aahhh.. uuhh.. aaahh.. Jarvis..hh.. aahh..” ******* lolos begitu saja dari mulut Lindsey yang kala itu Jarvis sedang menggerakkan pinggulnya maju mundur. Kedua tangan Lindsey mencengkram erat pinggang Jarvis, matanya sesekali terpejam, dan kepalanya menggeleng ke kiri, ke kanan, dirinya sudah terhanyut dalam gelora kenikmatan dari permainan yang disuguhkan oleh Jarvis.


“Aku suka desahanmu.” ucap Jarvis lalu menghisap bibir Lindsey.


“Uhmm.. aaahhh..”


“Mendesahlah lebih kencang, Lindsey. Kamar ini kedap suara.” ucap Jarvis kemudian.


“Enak sekali.. Lindsey.. akhh..” Gerakan Jarvis semakin cepat, memacu dengan kecepatan tertinggi hingga Jarvis berada di luar kendali dan tidak bisa mengontrol pergerakannya.


“Jarvis..hh.. aahh.. aaahh.. Jarviss.. aahh.. Jarvis..hh..”


“Lindsey.. Lindsey.. aakhhh..!” Jarvis pun tak kuasa menahan nikmatnya bercinta dan kemudian mengeluarkannya di luar.


Tubuh keduanya bergetar hebat. Jarvis jatuh terkapar di samping Lindsey dengan cairan yang berceceran di sprei. Lindsey mendekati Jarvis dan menidurkan kepalanya di atas lengan Jarvis. Mereka berdua bernapas terengah-engah dan berusaha mengatur kembali napasnya.


“Di sini nyaman. Kenapa memilih tinggal di hotel?” tanya Lindsey.


“Setiap aku berada di sini, aku selalu membayangkan diriku terkunci dari luar dan tidak bisa keluar.” jawab Jarvis.


Lindsey bangkit dari posisi tidurnya. “Bagaimana kalau sekarang kita tidak bisa keluar?!”


“Yang penting ada kamu di sini.” jawab Jarvis.


“Tubuhku bisa habis kalau terus-menerus bersamamu di sini.” balas Lindsey.


Jarvis tersenyum. Kemudian ia bangkit dari ranjang dan memakai celananya. Begitu juga dengan Lindsey yang memakai kembali gaunnya dan dibantu Jarvis untuk menaikkan resleting gaunnya. Lindsey bersandar di meja rias sambil menunggu Jarvis mengancing kemejanya.


Karena tidak sabar, Lindsey mengambil alih sisa 3 kancing dan mengancingnya. “Kotak itu isinya apa?” tanya Jarvis yang merujuk pada sebuah kotak di atas meja rias yang merupakan hadiah pemberian dari Lindsey untuknya.


Bersambung...


Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru. Episode terbaru akan segera diupdate hari ini.


Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih