
“Hey, semalam aku berhasil membebaskan Jarvis, tahu. Semalam dia sudah ditetapkan sebagai tersangka dan tangannya sudah diborgol.” balas Lindsey.
“Cepat sekali?” sahut Katie.
“Pasti ada yang bekerja sama di balik kasus ini.” sahut Kapten.
“Aku juga berpikir seperti itu. Tapi bukti yang mereka punya hanya hasil autopsi saja. Forensik menemukan ada sidik jari Jarvis di kuku korban. Tentu saja itu tidak cukup sehingga Jarvis bisa bebas dari ditahan.” balas Lindsey.
“Oh, ya. Aku dan Piter juga sudah menyelidiki korban pembunuhan itu. Dan ini dia orangnya.” Kapten menempelkan foto korban di papan tulis.
“Caesta. 28 tahun. Dia dikirim oleh klien kita untuk mengawasi Jarvis dari jarak dekat dan melaporkan secara rutin.” ucap Kapten.
“Pamannya Jarvis?!” tanya Lindsey.
“Iya. Dia jugalah yang melaporkan kedekatan kamu dengan Jarvis. Dia selalu mengikuti kemana kalian pergi, ke hotel, ke JM Buildings, ke firma GDP. Dia bahkan tahu PIN kamar hotel Jarvis dan sering masuk ke sana. Pamannya Jarvis salah paham mengenai kedekatan kalian, dia tidak tahu kalau kamu adalah bagian dari kita.” jawab Kapten.
“Dan Caesta itu juga yang menyekapku. Ada masalah apa dia sama aku? Dia cemburu kalau aku dekat dengan Jarvis?” balas Lindsey.
“Dia hanya mengikuti perintah dari orang yang menyuruhnya.” ucap Kapten.
“Baiklah, ok. Lalu kenapa pamannya Jarvis menyekap orang yang berada di dekat Jarvis?” tanya Lindsey.
“Untuk menguji apakah kamu kelemahannya Jarvis atau bukan. Dan ternyata benar. Kamu adalah kelemahannya.” jawab Piter.
“Jadi dia akan memperalat aku untuk melemahkan Jarvis? Beraninya dia. Mengikatku kemarin saja ikatannya longgar. Tapi dia sudah keburu mati sebelum aku membalasnya. Belum afdol rasanya jika aku belum membalasnya.” balas Lindsey.
“Lalu kenapa kamu tidak membuka ikatannya sendiri kemarin?” tanya Piter.
“Jarvis keburu datang. Ya sudah sekalian saja aku biarkan Jarvis yang membukanya.” jawab Lindsey.
“Dasar manja. Makanya cukup aneh ketika melihat kamu merintih kesakitan pas di rumah sakit.” ucap Piter.
”Bahkan saat kena luka tembak saja kamu masih bisa menendang kepala orang sampai orang itu yang malah pingsan. Pas kita mau membeli pistol ilegal. Masih ingat tidak?” sahut Katie.
“Sstt.. biarkan saja dia cari perhatian di depan Jarvis.” ucap Kapten.
“Oh, ya, Lindsey. Kenapa kamu bebaskan Jarvis? Memangnya kamu yakin kalau bukan Jarvis yang membunuhnya?” tanya Piter.
Lindsey mengangkat kedua bahunya. Sejujurnya dia juga kurang yakin kalau Jarvis bukan pembunuhnya. “Entahlah. Tapi kalau melihat kembali kasus ini, terlalu banyak kejanggalan dan terlihat sekali Jarvis dijebak.” balas Lindsey.
“Kamu sudah tahu apa yang akan kamu lakukan, Lindsey?” tanya Katie.
“Tidak. Kepalaku seketika langsung pening memikirkan kasus ini.” jawab Lindsey.
“Yehh.. gelagatmu menunjukkan kamu seperti orang cerdas saja.. Padahal mah zonk.” balas Katie.
“Tunggu. Jarvis ngotot bersedia mengikuti proses hukum tanpa penahanan? Dan kamu membebaskannya, Lindsey?” tanya Kapten.
“Hooh. Kenapa?” jawab Lindsey.
“Bukankah ini patut dicurigai? Kenapa dia sangat tidak ingin ditahan?” tanya Kapten.
“Hm. Kemungkinan besar dia sudah memiliki sebuah rencana. Kabur, misalnya.” jawab Piter.
“Kalau kita ingin tahu apa rencana dia, tentu aku harus membebaskannya, bukan?” balas Lindsey.
“Kamu sudah mempertimbangkan itu, Lindsey?” tanya Piter.
“Akhirnya otak Lindsey bekerja. Biasanya otot saja.” sahut Katie.
“Aku juga penasaran sekali kenapa Jarvis ngotot ingin bebas dan apa yang sedang dia rencanakan..” ucap Lindsey.
“Sekarang bagaimana? Kamu sebagai pengacaranya Jarvis masih belum tahu apa yang ingin kamu lakukan untuk membebaskan Jarvis dari tuduhan itu?” tanya Kapten.
“Ergh. Aku juga ingin melakukan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa. Lantai kamar VVIP di hotel Grand Mansion tidak ada CCTV, sedangkan di CCTV JM Buildings menunjukkan Jarvis seharian berada di ruangannya. Tidak ada petunjuk sama sekali.” jawab Lindsey sambil mengeluh.
“Hah? Kata siapa lantai kamar VVIP tidak ada CCTV-nya? Jelas-jelas aku melihat sendiri saat kita ke hotel karena mati lampu itu, ada terpasang CCTV kok di lift dan lorong kamar. Di dekat kamar kita juga ada. Kamar Jarvis 3205, kan? Dekat dengan kamar kita 3203. Seharusnya kamar Jarvis juga kelihatan.” sahut Piter.
“Jarvis yang bilang kalau lantai kamar VVIP tidak ada CCTV-nya.” balas Lindsey.
Lindsey membulatkan matanya. Seketika dia teringat pada saat pencurian sertifikat JM Buildings. Di dalam safety box tersebut juga ada sertifikat kepemilikan hotel Grand Mansion.
“Guys, masih ingat isi safety box?” tanya Lindsey.
Piter dan Kapten pun juga membulatkan matanya begitu mengerti apa yang dimaksud Lindsey. Sedangkan Katie hanya bisa bengong tidak tahu apa-apa karena tidak ikut masuk ke dalam kamar rahasia Jarvis.
“Tapi kamu yakin, Piter, kalau ada CCTV di lantai kamar VVIP?” tanya Kapten.
“Yakin. Bentuk CCTV-nya memang tidak sebesar CCTV biasa. Bentuknya kecil tapi kelihatan, kok.” jawab Piter.
“Berarti memang ada. Piter kan memang jeli urusan seperti itu.” sahut Katie.
“Jadi, kita bisa buat kesimpulan kalau Jarvis menyembunyikan sesuatu dariku dan kuncinya ada di CCTV itu..?” ucap Lindsey.
“Tunggu. Menurut kalian apa Jarvis sudah tahu kalau belakangan ini dia sering dimata-matai dan awasi oleh Caesta?” tanya Kapten.
“Menurut aku sih Jarvis sudah tahu. Tapi dia berlaga bodoh saja.” jawab Piter.
“Wait, wait, wait! Sepertinya Jarvis memang sudah tahu. Waktu di malam penculikan Lindsey, dari kejauhan aku menguping kalau Carlos menemukan rekaman dasbor mobil orang lain di belakang JM Buildings dan di rekaman itu ada sebuah mobil yang sudah mengintai Jarvis selama beberapa hari belakangan ini. Setelah Jarvis melihat rekaman itu, mereka berdua langsung pergi ke gudang.” sahut Katie.
“Berarti benar kalau Jarvis sudah tahu. Dan dia juga sudah tahu siapa yang menyuruh Caesta. Lalu Jarvis melakukan sesuatu ke pamannya sebagai pembalasan, lalu pamannya marah kepada Caesta karena sudah ketahuan oleh Jarvis dan akhirnya membunuh Caesta karena merasa Caesta sudah tidak berguna lagi. Tapi karena pamannya juga ingin selagi ‘menyelam sambil minum air’, maka dari itu dia membunuh Caesta di kamar Jarvis supaya Jarvis dituduh sebagai pembunuh. Bagaimana? Masuk akal, bukan?” balas Lindsey.
Lindsey berasumsi mengenai pembunuhan Caesta. Hanya asumsi semata, karena dia tidak memiliki bukti pendukung.
Prok prok prok! Kapten bertepuk tangan. “Ini pasti berkat buku yang aku belikan, kan? Makanya kamu jadi pintar seperti ini.” ucap Kapten.
“Akhirnya otakmu bisa menghasilkan sesuatu yang berguna juga, Lindsey.” sahut Katie.
“Kalau otakmu seencer ini terus, aku yakin bentar lagi kamu akan naik pangkat, Lindsey.” sahut Piter.
“Hey kalian semua! Bisa berhenti mencemoohku?” balas Lindsey.
“Sekarang tinggal bagaimana caranya kita menemukan bukti yang kuat untuk mengubah asumsi Lindsey menjadi fakta.” ucap Kapten.
Kapten, Lindsey, dan Katie pun menatap ke Piter dengan tatapan menyudutkan. Lindsey mendekati Piter. “Bisakah kamu mendapatkan rekaman CCTV di lantai VVIP dekat kamar Jarvis itu?” tanya Lindsey.
Bersambung...
Halo semuanya. Terima kasih sudah membaca novel ini. Jangan lupa berikan dukunganmu kepada Author dengan memberikan: like, tips, komentar, dan hadiah vote. Tambahkan novel ini ke favorite kamu agar mengetahui up episode terbaru.
Bantu novel ini masuk ke ranking dengan memberikan like dan komentar agar novel ini semakin dikenal banyak orang🤗❤️ Terima Kasih