
Setelah itu Ratu buru buru bicara pada tuan Randi bahwa urusannya di sana bersama tuan Randi sudah selesai dan dia mengatakan bahwa dirinya harus segera pulang karena ada mamahnya yang tengah menunggu di sana.
"Tuan semuanya sudah selesai tolong buka pintunya saya harus segera pulang," ucap Ratu sedikit gugup memberanikan dirinya.
"Apa kau lupa caranya berterimakasih atas semua yang sudah saya lakukan padamu hari ini," ucap Tuan Randi.
"Ahhh iya tuan terimakasih atas makanannya lalu sekarang saya boleh pulang kan?," ucap Ratu lagi.
Tuqn Randi pun tersenyum kecil lalu bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu keluar sedangkan Ratu segera mengikutinya dari belakang, satu kali tuan Randi menjentik jarinya pintu itu langsung terbuka dengan otomatis, Ratu takjub melihatnya dia saja tadi yang mencoba membuka pintu itu dengan sekuat tenaga sangat susah tapi ini tuan Randi rasanya sangat mudah sekali membukqnya, memang kalo sultan bebas dan selalu beda dari yang lain.
Saat pintu itu terbuka Ratu segera ikut keluar bersama tuan Randi dan dia hendak langsung pergi meninggalkan tuan Randi untuk keluar dari restoran tersebut namun sayangnya melihat para penjaga dan sekretaris Han yang berjajar di depan pintu keluar Ratu jadi takut dan menghentikan langkahnya menunggu tuan Randi yang dia tinggalkan di belakang, sampai tibalah tuan Randi di sana dan dia tersenyum ke arah Ratu.
"Sudah aku duga kau pasti akan menungguku," ucap tuan Randi berbisik pada Gina pelan.
Gina pun hanya bisa menanggapinya dengan senyum ketir karena apa yang diucapkan tuan Randi memang apa adanya, terpaksa Ratu pun harus terus berada di dekat tuan Randi sampai benar benar keluar dari restoran itu, sampai saat sudah keluar Ratu berpamitan pergi namun sekretaris Han malam membukakan pintu mobil untuknya juga tuan Randi, Ratu menolaknya sebisa mungkin namun sepertinya tatapan tuan Randi sudah bisa menjelaskan bahwa tawarannya untuk mengantar pulang Ratu tidak bisa di ganggu gugat, Ratu pun hanya bisa menghembuskan nafas berat dan akhirnya masuk juga ke dalam mobil duduk di samping tuan Randi.
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil sungguh sangat canggung dan kondisi seperti ini lah yang Ratu tidak suka dan inilah juga yang menjadi alasan dia selalu tidak ingin berada dalam satu ruangan atau satu mobil dengan sekretaris Han dan tuan Randi.
"Ahhh...mereka sepertinya memang robot bernyawa," gumam Ratu berpikiran aneh.
Padahal perjalanan dari restoran tadi menuju rumah Ratu cukup jauh tapi mereka masih tidak bergeming sedikitpun, rasanya Ratu ingin sekali segera terbebas dari suasana mencekam ini, sampai saat tiba di kediamannya tanpa banyak basa basi lagi dia langsung segera turun dan menutup kembali pintunya dengan cepat agar tuan Randi tidak ikut keluar bersamanya, dia pun langsung menunduk memberi hormat dan berlari masuk ke dalam rumah sampai mengunci pintunya, mamah Diva yang kaget dengan kedatangan Ratu dia langsung menghampirinya dan merasa aneh saat Ratu justru malah mengunci pintunya sekaligus seperti itu.
"Ratu ada apa?, kenapa pintunya dikunci?," tanya mamah Diva.
"Ehh..mamah enggak kok ini kan sudah malam jadi makanya aku kunci, aku pikir mamah sudah tidur," ucap Ratu berbohong.
"Ohh begitu ya sudah kamu istirahat gih," ucap mamah Diva.
Ratu pun tersenyum dan pergi ke kamarnya dia merasa plong dan lega saat mendapatkan ternyata mamah Diva tidak bertanya menganai apa yang dia lakukan tadi saat pergi dari rumah bersama sekretaris Han, awalnya Ratu kaget saat tau mamah Diva belum tidur dan dia cemas juga bingung bagaimana dia harus menjawab jika mamahnya itu bertanya banyak hal pada dirinya.
Hingga keesokan paginya saat Ratu bangun tidur dia mendapati mamah Diva sudah tidak ada di rumah dan hanya ada secarik kertas berisikan tulisan dari mamah Diva yang di simpan di bawah gelas di meja makan, Ratu mengambil dan membacanya segera.
"Sayang mamah harus berjualan pagi pagi sekali dan menitipkan kue buatan mamah ke warung sekitar sini, kamu jangan cemas dan kuliah lah dengan baik, sarapannya sudah mamah siapkan jangan lupa habiskan yah," isi surat dari mamah Diva yang dibaca Ratu.
Dia pun segera sarapan dan bersiap pergi ke sekolah menggunakan sepedah kesayangannya walaupun sepeda itu sudah sangat lama dan tidak bagus lagi tapi Ratu selalu menjaganya dengan baik dan dia enggan menggantikan sepeda itu dengan yang baru sebab sepeda itu adalah kenang kenangan pemberian dari almarhumah ibunya dulu, bagi Ratu saat menggunakan sepeda itu seharian rasanya dia merasa seperti tengah bersama sang bundanya.
Makanya Ratu selalu ceria dan terlihat bahagia saat mengayuh sepedanya itu.
Sesampainya di kampus dia langsung pergi ke perpustakaan untuk mencari buku buku yang dia perlukan di materi lanjutannya nanti siang, kebetulan karena hari ini Ratu tidak ada kelas pagi jadi dia bisa menghabiskan waktunya itu untuk di perpustakaan membaca buku dan sedikit bersantai sebelum nanti akan sangat sibuk dan kerepotan karena harus menjadi asisten pribadi seorang CEO ternama itu.
Saat tengah mencari buku di perpustakaan tak sengaja Ratu bertemu dan bertatapan di balik rak bersama ka Steven yang saat itu juga tengah mencari buku di balik rak itu.
"Ahhh...sial sekali aku pagi pagi sudah menatap wajah penghianat," ucap Ratu lalu pergi namun tangannya ditahan oleh ka Steven.
"Tunggu Ratu," ucap kak Steven sambil menahan tangan Ratu.
"Jangan pernah kau berani menyentuhku denga tangan kotormu itu," ucap Ratu dengan sinisnya dan menghempaskan tangannya dari genggaman kak Steven.
Ratu langsung pergi dari sana dan enggan mendengarkan apa yang hendak kak Steven bicarakan padanya, dia sudah sangat sakit dan terluka sampai dia pun tidak perduli lagi dengan apa yang akan dikatakan kak Steven meskipun itu penjelasnnya.
Ratu merasa kesal dan pergi ke kantin memesan minuman dingin sekaligus untuk mendinginkan hatinya yang terbakar amarah kekesalan, tak tanggung tanggung Ratu meneguk sebuah minuman dingin dalam botol sekaligus hanya dalam 2 tegukan sampai minuman itu habis.
"Arghhhh...menyebalkan, andai aku punya uang aku ingin pindah saja dari kampus ini," ucap Ratu merasa kesal dan menempelkan kepalanya ke meja.
Lama Ratu berdiam diri dengan lesu di kantin sendirian sampai bel jam pelajaran pertamanya berbunyi diapun segera pergi menuju kelasnya untuk memulai pelajaran pertama hari ini meski dengan hati yang tidak karuan.