
Sekretaris Han yang sejak awal melihat Ratu sudah tak menyukainya ditambah Ratu yang selalu mendapatkan perhatian dari majikannya itu apalagi Ratu juga mengambil alih pekerjaannya sebagai asisten pribadi tuan Randi yang melampaui jabatannya sendiri, saat di perjalanan sekretaris Han terus saja menatap sesekali ke arah Ratu dengan sini slewat kaca depan mobil.
Sedangkan Ratu tidak mengetahuinya dan dia nampak acuh menatai ke luar jendela dan tak peduli dengan kedua pria yang ada di dalam satu mobil bersamanya itu sampai tiba tiba saja tuan Randi memegangi rambutnya, yang membuat Ratu sedikit gugup dan bertanya tanya.
"A..ada....apa tuan?," tanya Ratu sambil refleks menatap tuan Randi.
Tuan Randi hanya tersenyum pada Ratu lalu tiba tiba saja dia mulai kembali hendak memegang kepala Ratu, Ratu pun semakin bingung dan hampir saja dia berpikiran tuan Randi akan melakukan hal hal aneh padanya.
"Aku hanya akan mengikat rambutmu dengan baik," ucap tuan Randi saat Ratu menutup matanya tanpa sadar.
Ratu pun langsung membuka matanya lebar dan dia sungguh merasa malu karena sudah berpikiran kalau tuan Randi akan macam macam dengannya padahal dia hanya mengikatkan rambutnya yang berantakan.
Setelah itu suasana semakin menjadi canggung dan Ratu tak tau lagi harus bersikap seperti apa, dia sungguh sangat malu dan ingin segera keluar dari mobil itu, sedangkan sekretaris Han yang memperhatikan adegan tadi dia hanya tersenyum lebar menahan tawa karena melihat eksfresi Ratu tadi, rasanya dia ingin segera meledek Ratu habis habisan saat itu juga namun sayangnya tidak bisa karena ada tuan Randi di sana.
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di depan halaman kecil rumah Ratu dan Ratu langsung keluar dari mobil lalu berpamitan dengan terburu buru.
"Terimakasih sudah mengantar saya tuan," ucap Ratu lalu segera berlari masuk ke dalam rumahnya.
Sekretaris Han pun langsung melajukan mobilnya lagi sedangkan Ratu mengintip lewat jendela kecil rumahnya sampai mobil tuan Randi tak nampak lagi dan dia uring uringan sendiri merasa malu dan kesal pada dirinya sendiri.
"Ish.....arghh....bagaimana bisa kau berpikir tuan Randi akan menciummu arghhh keterlaluan," ucap Ratu sambil memukul kepalanya beberapa kali.
Tak sadar bahwa sedari tadi ada mamah Diva yang berdiri di depan pintu kamar dan memperhatikan tingkah Ratu seja awal dia masuk hingga saat ini dan saat Ratu menyadari ada mamah Diva di sana diapun semakin malu dan mamah Diva terus menggoda Ratu sampai membuat pipi Ratu merah tersipu malu.
"Hayohh...siapa lagi yang mengantarmu, apa jangan jangan pria tadi menciummu yah?," ucap mamah Diva sengaja menggoda Ratu.
"Ish....mamah, sejak kapan ada di situ, apaan lagi enggak kok mah itu cuman salah paham lagi pula yang mengantarku bukan kak Zidan," ucap Ratu malu dan kesal.
"Ayolah sayang mamahkan hanya bercanda, sudahlah jangan cemberut seperti itu," ucap mamah Diva.
Ratu pun tetap cemberut karena masih merasa malu dan salah tingkah dia bingung besok hari harus bersikap seperti apa pada tuan Randi saat di kantor apalagi mereka akan menghabiskan banyak waktu berdua di dalam ruangan CEO.
"Arghhhhhh.....ini sangat menggangguku....hue...heuuu....bagaimana ini," ucap Ratu kebingungan dan menunduk menempelkan kepalanya ke atas meja.
Mamah Diva yang melihat Ratu nampak frustasi seperti itu dia bingung harus bagaimana lagi pula jika dia menanyakannya pasti Ratu tidak akan memberitau yang sebenarnya pada mamah Diva, lagi pula mamah Diva paham bagaimana anak muda jaman sekarang makanya dia membiarkannya saja asalkan pria yang dekat dengan Ratu bisa dia ketahui, dan mereka adalah pria baik baik.
"Sayang ya sudah kalau tidak mau makan kamu istirahat saja, kalau tidur pasti kamu bisa melupakan semuanya dan semoga saja besok kamu tidak ingat apa yang kamu lalui hari ini," ucap mamah Diva.
Ratu mengangguk dan berjalan lesu juga menunduk bak zombie hidup yang ada di film film, mamah Diva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Ratu yang seperti itu.
"Ahhhh..ternyata seribet ini yah permasalahan anak muda jaman sekarang, bagaimana dengan Astrid yah, dia juga aka kesulitan," ucap mamah Diva yang teringat akan anak kandungnya Astrid.
...****************...
Ke esokan paginya Ratu sudah bersiap siap memakai kemeja berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jeans berwarna biru pudar kesukaannya dengan bagian lutut yang terdapat sobekan sobekan kecil, setelah selesai bersiap siap Ratu langsung memasukan pakaian kerjanya juga high hils miliknya yang saat itu dibelikan oleh sekretaris Han, tak sengaja mamah Diva melihatnya lalu dia baru ingat bahwa dia belum tau apa pekerjaan Ratu di perusahaan besar itu saat ini, apalagi melihat Ratu me.asukan pakaian seperti itu yang biasa digunakan wanita feminim di kantor kantor juga high hils tentu saja mamah Diva penuh pertanyaan juga kecurigaan.
"Sayang kenapa membawa pakaian itu?," tanya mamah Diva bertanya.
"Eh..mamah, iya akukan pulang kuliah harus langsung ke kantor mah," jawab Ratu santai.
"Memangnya apa pekerjaanmu sekarang?," tanya mamah Diva.
"Aku asisten pribadinya CEO Randi mah makanya harus pakai pakaian seperti ini, sekarang jabatanku melampaui sekretaris Han hehe," jawab Ratu membanggakan dirinya.
"Ahhhh...syukurlah mamah pikir kamu berbuat yang aneh aneh," ucap mamah Diva merasa lega.
"Astagfirullah mamah, percayalah Ratu tidak akan seperti yang mamah pikirkan, mereka juga orang baik, pekerjaan Ratu sekarang tidak seberat sebelumnya, jadi mamah jangan khawatir yah," jawab Ratu menjelaskan agar mamah Diva tak mengkhawatirkannya.
"Iya iya...mamah tau kau anak yang baik dan bisa menjaga dirimu di luar sana, tapi lain kali kau kenalkan bosmu itu pada mamah yah," ucap mamah Diva.
"Loh untuk apa mah?," tanya Ratu merasa heran.
"Mamah ingin melihat bagaimana wajahnya apa dia sudah tuan atau masih muda dan rasanya aneh sekali kenapa dengan mudahnya dia menunjukmu untuk menkadi asisten pribadinya padahal kalian tidak saling mengenal sebelumnya bahkan pertemuan pertama kaliankan sangat buruk, mamah takut dia punya niat buruk di balik semua inu," ucap mamah Diva berprasangka.
"Astaga....sudahlah mah Ratu sudah harus pergi, jangan berpikiran macam macam, tuan Randi orang baik dia tidak akan seperti itu," jawab Ratu dengan yakinnya.
Ratu pun berpamitan pada mamah Diva dan dia segera pergi ke kampus menggunakan sepeda kesayangannya itu.