
Sekretaris Han menggigit giginya kuat dan mengepalkan kedua lengannya sekuat tenaga hingga sedikit bergetar saking kuatnya dia menahan amarah pada Mala.
"Aishhh...dasar kau, sudahlah tuan Randi akan segera tiba kita harus menyambutnya, cepat turun ke bawah" ungkap sekretaris Han sambil berlenggang pergi meninggalkan Mala,
"Hah, dasar sekretaris Han itu baru juga memimpin beberapa minggu kenapa harus menjadi sombong seperti itu, untunglah dia hanya pengganti, jika tidak kasihan sekali semua karyawan di perusahaan ini harus di pimpin manusia emosional sepertinya" gerutu Mala sambil bersiap siap untuk turun ke lantai bawah menyambut kedatangan kembali tuan Randi.
Mala masuk ke dalam lift bersama sekretaris Han dan beberapa karyawan lainnya yang sama sama bersiap untuk menyambut kedatangan kembali tuan Randi di perusahaan tersebut.
Saat sampai di lantai bawah semua karyawan sudah siap berjajar dengan rapi, Mala pun segera masuk ke dalam barisan paling depan karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi sehingga membuat dia berada di barisan depan, padahal Mala sangat sebal dan dia tidak ingin menyambut kedatangan tuan Randi karena masih merasa cemas dan takut dia akan di pecat dari perusahaan itu.
Tak membutuhkan waktu lama tuan Randi akhirnya tiba, sekretaris Han membukakan pintu untuknya dan dia segera berdiri tepat di belakang samping kanan tuan Randi, semua karyawan yang berjajar rapih langsung refleks menunduk memberikan hormat sekaligus menyambut kedatangan tuan Randi.
"Selamat datang kembali tuan Randi" ucap semua karyawan serempak sambil memberi hormat.
Setelah tuan Randi mengangkat tangannya memberikan kode agar menghentikan penyambutan baru lah para karyawan kembali berdiri tegak lalu tuan Randi hanya menyuruh semuanya kembali bekerja pada tempatnya masing masing.
Semua hal yang Mala khawatirkan tidak terjadi dan nampak saat itu tuan Randi terlihat bersikap santai meskipun dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi namun setidaknya dia sama sekali tidak mempersulit karyawannya.
Saat semua karyawan sudah bubar aku bingung harus kembali ke ruangan sekretaris Han tempat di mana tadi aku berada atau ke mana lagi, karena posisiku saat ini sunggu sulit untuk di jelaskan keberadaan pastinya, untuk memastikan semuanya aku pun memberanikan diri menghampiri tuan Randi secara langsung meskipun aku tahu sekretaris Han pasti akan mengusirku lebih dulu, bahkan sebelum aku berbicara dengan tuan Randi.
Saat tuan Randi masuk ke dalam lift aku mengikutinya dan terus berjalan di belakangnya sampai ketika dia masuk ke dalam ruangannya aku juga ingin mengikutinya ke dalam tapi aku tertahan oleh sekretaris Han yang menghadangnya di depan pintu ruangan tuan Randi.
"Sekretaris Han, apa yang kau lakukan, cepat minggir kau menghalangi jalanku!" Ucapku cukup kesal,
"Heh, jalanmu yang benar itu ke sana, ini ruangan CEO untuk apa kau masuk ke dalam ha?" Balas sekretaris Han menyelidiki,
"Tentu saja ada urusan penting yang ingin aku bicarakan padanya, apa urusannya denganmu?" Balasku yang masih kuat pendirian,
"Apa kau ingin memastikan posisimu di perusahaan, iya?" Ujar sekretaris Han yang membuatku membulatkan mata karena kaget.
Aku sempat merasa heran untuk beberapa saat, ketika mendengar ucapan sekretaris Han yang bisa menebak apa yang akan aku katakan kepada tuan Randi, padahal aku tidak membicarakan apapun kepadanya.
Karena dia yang sudah bisa menebak niatku, itu membuatku seketika menjadi gugup tak karuan.
"Eu..eu..eumm...itu...tidak benar, bukan i..itu kok yang ingin aku katakan pada tuan Randi" ucapku sambil memalingkan pandangan karena sekretaris Han menatapku terlalu tajam dan lekat,
"Hah, sudah jangan khawatir masalah posisimu aku pastikan kau tidak akan kehilangan pekerjaanmu di perusahaan ini, jadi lebih baik kau kembali ke sana nanti aku akan memberikan tugas untukmu" ucap sekretaris Han sedikit lebih lembut dari biasanya.
Mala langsung menatap penuh keheranan kepada sekretaris Han yang berbicara lembut kepadanya saat itu, padahal biasanya sekretaris Han selalu berbicara keras dan kasar bahkan membentak dia sampai berkali kali membuatnya kaget, tapi justru kali ini sekretaris Han tiba tiba saja berbicara dengan lembut dan pergi masuk ke dalam ruangan tuan Randi meninggalkan Mala yang masih berdiri mematung di sana.
Mala berusaha menyadarkan dirinya dengan menepuk pelan kedua pipinya beberapa kali sambil berjalan menuju ruangannya dan sekretaris Han.
Sampai di dalam ruangan Mala duduk dan masih memasang wajah kebingungan sekaligus heran dan tidak menyangka seorang sekretaris Han bisa merubah sikapnya hanya dalam beberapa detik saja dan lebih anehnya lagi perubahan itu terjadi di saat berbicara dengannya.
Hingga tak lama ketika Mala masih mematung dengan keheranan sekretaris Han datang menghampirinya dan menaruh setumpuk berkas di atas meja Makan cukup keras.
"Brakkk....." suara tumpukkan buku yang ditaruh sekretaris Han diatas meja kerja Mala.
Suara keras itu membuat Mala kaget sampai terperanjat.
"Astaga....sekretaris Han untuk apa semua berkas ini?" Tanya Mala masih dengan rasa kagetnya,
"Tentu saja untuk kau salin ke dalam komputer, semua ini adalah berkas penting jadi kau harus membantuku menyimpan salinannya dengan baik, apa kau mengerti?" Ujar sekretaris Han yang kembali berbicara dengan nada jutek juga tatapan matanya yang sinis.
Melihat itu kini Mala sungguh sudah sadar sepenuhnya dan meyakini dirinya sendiri bahwa kelembutan dari sekretaris Han yang dia lihat sebelumnya adalah bayangannya saja.
"Huuh melihatnya berbicara seperti ini lagi membuatku semakin yakin bahwa tadi aku tengah berhalusinasi saat melihatnya berbicara dengan lembut, huuh apa yang aku harapkan dari pria sepertinya, benar benar tidak berguna!" Gumam Mala dalam hati kecilnya.
Mala kembali merasa kesal setelah sebelumnya sedikit merasa senang dan seperti terbang ke awan karena mengira sekretaris Han sudah berubah dari sikapnya yang sangat menjengkelkan, namun nyatanya dia kembali membuat Mala kesal dan kali ini justru lebih membuatnya frustasi karena banyaknya tugas yang diberikan oleh sekretaris Han kepadanya.
"Hah?, Semua berkas ini apa hanya aku yang harus mengerjakannya seorang diri?" Bentak Mala dengan cukup keras dan merasa tidak terima,
"Memangnya siapa yang menjadi asistenku, tidak mungkin aku yang mengerjakannya karena aku harus menemani tuan Randi untuk meeting sebentar lagi, jadi sebaiknya kau segera urus semua berkas ini" kata sekretaris Han dengan tegas.
Mala sangat kesal dan dia ingin menghajar sekretaris Han seandainya dia bisa melakukan itu dengan leluasa, sayangnya Mala tidak bisa berlaku seenaknya ketika berada di perusahaan, apalagi mengingat sekarang dia menjadi asisten sekretaris Han tentu saja tidak bisa melakukan apapun selain merutukinya dengan puas untuk menyalurkan emosi dalam dirinya.
Saat sekretaris Han berbalik dan duduk di meja kerjanya, Mala mulai mengambil sala satu berkas yang menumpuk memenuhi seisi meja kerjanya itu, dia mulai mengerjakannya dengan banyak gerutuan merutuki sekretaris Han dengan suara yang kecil.
"Huuh dasar manusia harimau tidak punya hati, kenapa malah menyuruhku menyalin banyak sekali berkas, apa yang dia kerjakan selama menjabat sebagai presdir kemarin, benar benar menyusahkan orang saja, eughhh dasar manusia gila!" Gerutu Mala dengan penuh kekesalan.
Tanpa Mala sadari gerutuannya itu justru terdengar oleh sekretaris Han meskipun hanya sama samar. Sekretaris Han pun langsung menegur Mala dengan menggebrak mejanya cukup keras sampai membuat Mala kaget dan dia menatap Mala dengan tatapan yang sangat tajam dan menusuk sekaligus memberikan peringatan kepadanya dengan menunjuk Mala dengan kedua jarinya seakan memberikan isyarat bahwa dia memperhatikan Mala dari tempat duduknya.
"Brakk...."suara meja yang di gebrak sekretaris Han,
"Ya ampun, ada apa lagi dengannya, kenapa dia menatapku begitu?" Gerutu Mala kebingungan.
"Ehhh, dia mengancamku apa apaan ini, menyebalkan" tambah Mala menggerutu tiasa habisnya.