
Beberapa menit Ratu makan dengan disuapi Zidan dan kini wajahnyapun sudah tak terlalu pucat, dan dia baru sadar akan waktu.
"*A*stagfirullah, tuan Zidan sudah jam berapa ini," tanya Ratu cemas.
"*Ja*m 10.30 memangnya kenapa?," ucap Zidan.
"*A*stagfirullah, bagaimana dengan Astrid dan Diva mereka pasti akan memarahiku tuan," jawab Ratu sambil menggigit ujung kuku ibu jarinya.
"*S*udahlah kau istirahat saja, besok biar aku yang bicara pada mereka dan kalo bisa mulai sekarang kau tinggal saja disini bersamaku agar kau aman dan tidak diperlakukan seenaknya oleh mereka," ucap Zidan yang merasa iba dengan kondisi Ratu.
"*E*hhhh...tapi tunggu aku berbuat begini hanya karena kasihan oke, jadi jangan ke geeran," tambah Zidan lagi dengan wajah dinginnya.
"*I*ya tuan saya tau diriku tidak perlu kau ingatkan lagi," ucap Ratu.
"*Ta*pi darimana tuan tau mengenai saya dan mereka?," tanya Ratu penasaran.
"*S*aya tau dari Steven dan melihatnya langsung kemarin bagaimana kamu diperlakukan buruk oleh Astrid di parkiran," jawab Zidan jujur.
"*B*aik tuan, tapi anda tidak perlu menghawatirkan saya apalagi merasa iba pada saya, karena saya bisa menjaga diri saya sendiri," jawab Ratu dengan penuh penekanan.
"*H*ah! dasar gadis kecil keras kepala, mau ditolong malah so soan nolak," gumam Zidan.
Zidanpun keluar dan tidur di kamar tamu, sementara Ratu kembali membaringkan tubuhnya di ranjang yang nyaman dan empuk milik Zidan.
Ratu berusaha untuk memejamkan matanya namun rasa cemas dalam hati juga pikirannya seakan menghantui diri Ratu hingga dia sulit sekali untuk memejamkan mata, 15 menit Ratu terus berusaha hingga akhirnya dia bisa tertidur.
Malam terus berlalu hingga keesokan paginya Ratu bangun subuh tepat pukul 05.00 seperti biasanya diapun pergi ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan menggosok gigi, setelah itu dia langsung menuruni tangga menuju dapur ternyata di meja makan nampak sudah ada seorang nenek yang duduk dengan tatapan kosong menatap ke sembarang arah, dengan memberanikan diri Ratu mendekat dan duduk di samping nenek itu berusaha membuka pembicaraan.
"*S*elamat pagi nek, gimana apa nenek sudah baikan sejak kemarin, maaf ya nek Ratu jadi ngerepotin nenek dan tuan Zidan," ucap Ratu namun tak di gubris oleh nenek itu.
Tapi Ratu tak menyerah dia terus berbicara mengenai banyak hal pada nenek walaupun tak ada respon sedikitpun dari nenek namun tiba tiba nenek meliriknya sepersekian detik dan kembali memalingkan pandangannya ke arah lain.
"*P*anggil saya oma Rika," ucap oma Rika datar tanpa eksfresi.
"*E*mmm..baik oma Rika yang cantik," jawab Ratu sambil tersenyum bahagia mendapatkan sedikit respon dari oma Rika.
Setelah itu beberapa menit mereka tak saling tegur dan hanya kesunyian yang menyelimuti suasana pagi di meja makan tersebut, tak lama kemudian Zidan datang dengan pakaian yang sudah rapih berjalan menuju meja makan dan duduk tepat di hadapan Ratu.
"*M*ari sarapan semuanya, maaf oma Zidan telat," ucap Zidan memecah keheningan.
Zidan dan Ratu juga oma Rikapun mulai menyantap sarapan pagi ini, tak beberapa lama kemudian setelah selesai sarapan Ratu berpamitan pulang walaupun tidak ada respon apapun dari oma Rika, ratupun pulang diantar oleh Zidan ke kediamannya, setelah sampai di depan rumah Zidan diajak masuk oleh Ratu untuk menjelaskan kenapa alasannya tidak pulan kemarin pada Astrid dan Diva, dugaan Ratu benar baru saja dia dan Zidan baru masuk dan duduk di sofa depan Astrid juga Diva sudah menatapnya tajam dengan berkacak pinggang siap untuk menerkam Ratu, tubuh Ratu bergetar dia menunduk ketakutan namun Zidan menggenggam tangannya erat dan melemparkan senyuman hangat pada Ratu memberikan kesan nyaman dan aman, Ratu berusaha menutupi ketakutannya dengan menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, lalu dia mulai berdiri menghadap Diva juga Astrid.
Diva menatapnya lekat dan memalingkan pandangannya menatap tajam pada Zidan seakan meminta penjelasan darinya.
Zidanpun segera berdiri karena paham akan tatapan Diva padanya.
"*M*aaf nyonya ucapannya benar saya yang memintanya untuk menginap di rumah saya dan menjaga oma saya, apakah anda keberatan?," ucap Zidan penuh hormat.
"*A*nda bisa pergi sekarang juga tuan, dan saya tidak keberatan," jawab Diva dengan nada angkuhnya.
Saat ini Diva begitu angkuh di hadapan Zidan karena dia belum tau siapa Zidan sebenarnya, mungkin kalo kelak dia tau mengenai jati diri Zidan sesungguhnya sudah dipastikan Diva dan Astrid akan bertekuk lutut sama seperti sikapnya pada Steven.
"*B*aik saya akan pergi, tapi tolong jaga Ratu dengan baik karena dia kekasih sahabat saya Steven, kalian tau bukan apa yang akan dilakukan Steven jika orang yang dia sayangi terluka sedikit saja," ucap Zidan sambil berlalu pergi.
Diva menggigit geram giginya menahan amarah akan ucapan Zidan, begitupula dengan Astrid.
Setelah Zidan pergi Diva yang sudah terbakar emosi langsung menjambak rambut Ratu keras hingga Ratu meringis kesakitan.
"*A*wwww...sakit...tolong lepaskan nyonya...awww," ringis Ratu yang kesakitan.
Astrid justru malah tertawa terbahak bahak melihat ibunya menyakiti Ratu adik tirinya, seakan akan dia sangat puas atas penderitaan Ratu.
Diva terus menjambak rambut panjang Ratu semakin keras lalu melemparkan tubuh Ratu hingga terbentur ke sofa, lalu Astrid menginjak pergelangan tangan Ratu hingga mengeluarkan bunyi.
"*K*rekk," tangan Ratu terkilir akibat pijakan kaki Astrid.
Air mata Ratu sudah tak dapat ia bendung hingga dia terus menangis sesegukan akibat rasa sakit yang ia rasakan, siksaan demi siksaan dilontarkan Diva juga Astrid pada Ratu dengan bertubi tubi tiada henti, bi Ina yang saat itu baru pulang dari supermarket langsung berlari saat melihat Diva ingin memukul Ratu dengan sapu di tangannya yang sudah melayang di udara, dengan sekuat tenaga bi Ina berlari berniat melindungi Ratu dan.
"*Pl*akkkk," sapu itu mengenai punggung bi Ina dan seketika bi Ina ambruk terjatuh di dalam pangkuan Ratu.
Ratu semakin menangis sejadi jadinya sementara Diva dan Astrid justru malah tertawa dan beranjak pergi ke kamar mereka .
"Bi..bibi...bangun..bi..hiks....hiks," ucap Ratu di sela sela tangisnya sambil menepuk nepuk pipi bi Ina pelan.
Namun bi Ina tak kunjung sadarkan diri, Ratu segera membopong tubuh bi Ina menuju kamarnya namun baru saja dia mau beranjak bi Ina mulai membuka matanya perlahan.
"*N*on...bibi..tak apa..sebaiknya non Ratu cepat tinggalkan rumah ini..agar selamat..," ucap bi Ina lirih.
"*I*ya bi..bibi.jangan banyak bicara dulu...bibi gak papa kan?," ucap Ratu dengan nada lirih dan penuh kecemasan.
"*B*ibi..baik baik saja non, jaga diri non baik baik ya, maafkan bibi yang tidak bisa melindungi non lagi...ambilah semua bukti kejahatan mereka di laci kamar bibi..lalu pergilah sejauh mungkin dari mereka...mintalah perlindungan tuan Steven..agar non.....aman...aaaaarkkk," ucap bi Ina lirih dan menghembuskan nafas terakhirnya.