PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
BERPAPASAN


Keesokan paginya Steven datang menemui Zidan di perusahaan Zidan, dia masuk ke dalam ruangan Presdir dengan wajah yang kusut pakaian yang kucel dan berantakan, Zidan menatap heran melihat penampilan Steven yang tidak seperti biasanya, saat Steven mendekat tercium bau alkohol yang menyengat matanya juga merah sontak Zidan langsung memboyong Steven dan membantunya duduk di kursi.


*Ada apa denganmu kenapa kau seperti ini?* tanya Zidan tegas.


Bukannya menjawab dengan jelas Steven justrus malah langsung tertidur, Zidan merasa kesal hingga akhirnya dia terpaksa harus menelpon Astrid lewat ponsel Steven, beberapa jam kemudia Astrid datang lalu pergi membawa Steven keluar dari kantor, saat itu juga Randi datang dan kebetulan berpapasan dengan Astrid yang memapah Steven di pintu lift, Randi menatap dingin dengan ujung matanya, dia merasa miris melihat Steven yang sangat kacau, dulu saja saat dia ada di bawah Steven selalu menyombongkan dirinya maka inilah balasannya, Randi juga menatap pada Astrid yang berpakaian seksi dan terbuka.


*Benar benar pasangan yang cocok, sama sama tidak beretika* ucap Randi berniat menyindir.


Saat itu Astrid juga mendengar ucapan Randi namun dia hanya menatap tajam saja dan tidak membalas ucapan Randi sebab dia terlalu sibuk mengurusi Steven yang sepertinya tengah mabuk berat, Randi masuk ke dalam lift tepat setelah Astrid keluar, sekretaris Han yang melihat pemandangan tegang tadi sungguh merinding dia takut akan terjadi peperangan antara wanita seksi dengan bosnya barusan, meski sekretaris Han tau kalau orang tadi adalah Steven mantan sahabat masa kecil bos nya tapi sekretaris Han tidak mengenal wanita yang memapahnya, karena berpapasan dengan Steven wajah Randi seketika berubah marah moodnya hancur dan tak beraturan dia masuk ke dalam ruangan Zidan dengan sembrono bahkan membuka pintu dengan sangat kasar Zidan yang ada di dalam saja sempat kaget dengan kedatangan Randi, Zidan sudah curiga dan merasa ada yang tidak beres pada Randi hingga dia memberanikan diri untuk bertanya.


*Ada apa denganmu, biasanya kau selalu mengetuk pintu sebelum masuk, meskipun kau investor perusahaanku* ucap Zidan.


*Sekarang bukan lagi, aku akan mencabut semua investasi dana pada perusahaanmu* ucap Randi tanpa pikir panjang.


Padahal sebelumnya kedatangan dia ke sana hanya untuk meminta surat kontrak kerjasama mereka dan menandatanganinya namun karena kejadian di lift tadi entah kenapa Randi berubah seratus persen dia mendadak membenci Zidan dan memutuskan menarik sahamnya tanpa menyisakan sedikitpun sekretaris Han yang melihat keputusan bosnya sangat sembrono dia sontak kaget membuka matanya lebar namun tak bisa berbuat apa apa.


Zidan kaget tak karuan dia lemas mendengar ucapan Randi karena ini terlalu tiba tiba bagi dirinya.


*Kau bercanda kan?, kenapa kau mau menarik seluruhnya?* ucap Zidan keheranan.


*Aku serius, dan semua ini karena ulahmu juga, siapa suruh kau masih berhubungan dengan pria brengsek itu* ucap Randi yang masih dipenuhi emosi dalam dirinya.


Kini Zidan paham mengapa Randi melakukan semua ini padanya padahal sudah sangat jelas jika Randi sungguh menarik semua saham dan investasi nya pada perusahaan ini maka tidak ada alasan lagi untuk Zidan mempertahankannya, dijaman sekarang mencari pengganti Randi sebagai investor sangat sulit belum lagi keadaan perusahaan tidak stabil siapa yang mau membantunya bahkan Oma Rika sudah pergi keluar negeri, satu satunya keputusan hanya menyudahi semuanya dan menyerah untuk membuat hal baru.


*Baiklah jika itu sudah keputusanmu, tapi aku jelaskan padamu sungguh aku tidak bisa jika harus memusuhi salah satu diantara kalian, entah itu kau ataupun Steven kalian adalah sahabatku dan itu tidak akan pernah berubah, terimakasih sudah mau membantuku demi Oma, dan semoga kau bisa merubah tempramen dalam dirimu* ucap Zidan sambil memeluk dan menepuk pundak Randi layaknya seorang pria.


Karena masih diselimuti emosi Randi tidak menggubris ucapan Zidan dan dia segera pergi dari kantor Zidan menuju ke perusahaannya dengan perasaan campur aduk.


Sesampainya di perusahaan Randi langsung masuk dan duduk termenung sambil menarik kedua tangannya diatas meja, sekretaris Han yang ada disampingnya mulai merasa bingung apa yang harus dilakukannya untuk meredakan emosi bosnya itu, sementara di sisi lain dia juga bingung kenapa ketiga sahabat itu bisa bermusuhan seperti sekarang padahal sekretaris Han sempat melihat foto kebersamaan mereka di kamar tuan Randi bahkan sampai saat ini masih terpajang, namun sepertinya Randi cukup gengsi untuk mengakui kalau dia masih menyimpan foto itu.


Tiba tiba Randi berbicara sendiri dengan penuh emosi sampai membuat sekretaris Han terheran heran.


Sekretaris Han hanya bisa mengerutkan kedua alisnya kebingungan dia ingin menanggapi ucapan tuan Randi namun takut salah bicara tapi dia diam saja juga tetap akan kena marah akhirnya sekretaris Han memberanikan mengeluarkan pendapat.


*Bos sebaiknya kau tenangkan dirimu dulu jangan terbawa emosi sesaat begini, lagi pula bagaimanapun mereka kan sahabatmu* ucap sekretaris Han.


Tiba tiba Randi berbalik dan menatap tajam bak macan yang siap menerkam mangsanya, sekretaris Han mundur perlahan sambil menelan ludahnya gugup, Randi terus saja memberikan sorot mata tajam dengan kerutan di dahinya.


*M..ma..ma..maaf bos saya tidak bermaksud menasehati tapi mereka memang sahabatmu kan* ucap sekretaris Han lagi lalu dia segera pergi dari ruangan itu karena takut emosi Randi tak tertahan.


Selepas kepergian sekretaris Han Randi berusaha menenangkan hati dan pikirannya, tapi dia tetap saja tidak terima melihat Zidan masih berhubungan dengan Steven meski mereka bersahabat dan tidak bisa dibohongi bahwa Randi juga merindukan kebersamaan mereka tapi karena melihat Steven yang belum berubah dia masih belum bisa menerima kembali sahabatnya itu, akhirnya Randi tetap menarik seluruh saham dari perusahaan Zidan, alhasil semua itu seketika membuat Zidan kebingungan dia berusaha untuk menutupi ketidak seimbangan dalam perusahaannya, dia sudah berusaha menjual beberapa aset miliknya untuk menutupi kekurangan dalam perusahaannya namun semua itu tetap saja tidak cukup, beberapa karyawan juga sudah ada yang di berhentikan karena Zidan tak sanggup menggajinya, terpaksa Zidan harus menjual rumah dan apartemen pribadinya, Zidan pikir semoga semua itu bisa setidaknya mempertahankan perusahaan peninggalan ayahnya untuk tetap berdiri.


Satu Minggu berlalu dan perusahaan Zidan masih diombang ambing tak karuan sungguh semuanya tengah diambang kebangkrutan, Zidan tidak menyerah dia terus mengupayakan banyak hal agar perusahaannya tetap berdiri, hingga akhirnya Oma Rika mendapatkan kabar mengenai keadaan perusahaan dari sekretaris Zidan, Oma Rika yang saat ini tengah berada di Singapura karena menjalani terapi tulang agar dia tetap bugar dan bisa berjalan lagi, Oma Rika sungguh kaget saat mendapatkan kabar tersebut dan dia segera menelpon Zidan.


Zidan berusaha menyembunyikan keadaan perusahaan dari Oma nya namun tetap saja bocor saat mendapatkan telpon dari Oma Rika Zidan bingung bagaimana menjelaskan semuanya, namun Oma Rika terus mendesak.


*Cepat jawab apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mengurusi perusahaan kecil saja kamu tidak bisa?* ucap Oma Rika.


*Masalahnya Randi mencabut semua sahamnya sedangkan Oma tau sendiri dia adalah penanam saham terbesar di perusahaan kita bahkan hampir setengahnya, bagaimana aku bisa menutupi semuanya Oma* ucap Zidan frustasi sambil mengacak rambutnya.


*Kau ini memang tidak becus, sudah biar aku suntikkan dana dari perusahaanku dan kau harus menerimanya* ucap Oma Rika lalu menutup telponnya.


*tidak Oma, tunggu Oma...halo..Oma..* ucap Zidan terlambat.


Lagi lagi Zidan semakin pusing dan frustasi dia tidak bisa menerima bantuan dari Omanya karena dia juga tau Oma membutuhkan banyak sekali biaya untuk pengobatannya tiap bulan, belum lagi perusahaan Oma di Singapura hanya dikelola oleh ibunya seorang diri, Zidan merasa gagal sebagai seorang putra bukannya dia menafkahi keluarganya justru malah dia yang membuat semua orang kesusahan, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa, Zidan sudah mengusahakan semua yang dia bisa bahkan kini Zidan tinggal di rumah peninggalan ayahnya yang lebih sederhana dibanding rumah dan apartemen pribadinya, walau begitu Zidan tak keberatan ataupun berkecil hati dia masih semangat dan akan terus berusaha mempertahankan serta mengembangkan perusahaan ayahnya tersebut.


Sekarang Zidan bisa sedikit merasa lega dan tenang karena sudah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan Oma Rika, tapi Zidan masih menganggap bahwa suntikan dana tersebut adalah hutang yang suatu saat nanti dia pasti akan membayarnya, itulah yang Zidan tanamkan dalam hatinya dan membuat dia semakin bersemangat untuk terus mengembangkan perusahaan itu.


Saking fokusnya pada perkembangan perusahaan Zidan sampai tidak memiliki waktu untuk sekedar menjenguk atau melihat keadaan Ratu di desa, sudah sekitar 3 bulan berlalu Zidan tidak menemui Ratu dia sering terpikir mengenai bagaimana kondisi Ratu, sedang apa dia dan bagaimana dengan tokonya namun Zidan masih belum memiliki waktu untuk menjumpainya selama perusahaannya dalam pengembangan dia tidak bisa pergi menemui Ratu jadwalnya selalu padat setiap hari, dia selalu meeting bahkan waktu tidurnya hanya 4 jam sehari, dia juga tengah berusaha membujuk Randi agar mau kembali bekerja sama dengannya, meski selalu menerima penolakan dalam setiap tawarannya Zidan tidak pernah putus asa, karena dia tau bahwa Randi seperti itu pasti ada alasannya.