
Ratu berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan tersenyum mengembang di wajahnya, saat dia sudah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian menggunakan piayama dan siap tidur, namun saat Ratu baru saja mau menutup matanya terdengar suara pintu kamar yang diketuk dengan cukup kuat beberapa kali.
"Aduhh... Siapa sih yang ketuk pintu, jadi gak bisa istirahat deh" gerutu Ratu sambil bangkit berjalan dan membukakan pintu dengan malas.
Saat Ratu membuka pintu rupanya itu adalah tuan Randi dan anehnya dia memakai pakaian yang rapih dan sangat wangi Ratu merasa heran sampai mengangkat kedua alisnya dengan heran, Ratu menatap penampilan tuan Randi yang tidak biasa dan dia memperhatikan penampilan tuan Randi dari atas hingga bawah.
"Tuan kau mau kemana serapih ini, memangnya ada rapat malam yah?" Tanya Ratu menduga duga,
"Tidak, aku mau mengajakmu makan malam di luar, ayo cepat ganti pakaianmu dan jangan lupa berpakaian yang bagus yah yang cocok dengan pakainku" ucap Randi dengan wajahnya yang begitu bersinar,
"Hah?, Tumben sekali.. aku jadi curiga sebaiknya aku waspada" gumam Ratu sambil menutup kembali pintu kamar.
Ratu segera mengganti pakaian dan bersiap siap merapihkan rambut lalu mengambil tas slempang berwarna moccha yang biasa dia kenakan, tak lupa Ratu juga memakan high heels hitam dan keluar menemui tuan Randi yang sudah menunggu dia di depan mobil.
Saat Ratu berjalan menghampiri tuan Randi langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Ratu untuk masuk dan duduk di bangku depan, Ratu semakin heran mendapatkan perlakuan yang tidak seperti biasanya dari tuan Randi apalagi perlakuannya itu secara tiba tiba. Namun walau merasa aneh Ratu tetap menuruti semuanya.
"Silahkan masuk Ratu" ucap tuan Randi mempersilahkan,
"Ehh.. awas hati hati dengan kepalamu" tambah tuan Randi sambil menempelkan tangannya ke pintu bagian atas mobil menjaga agar kepala Ratu tidak terpentok pintu mobil.
Ratu sungguh kehabisan kata kata mendapatkan perlakuan yang manis dari tuan Randi beberapa kali Ratu mencubit tangannya sendiri karena mengira itu semua hanya mimpi, karena itu terlalu mendadak dan aneh bagi Ratu.
"Apa yang terjadi dengan kepalanya, apa tuan Randi terpentok dinding atau jatuh sehingga otaknya eror dan tiba tiba bersikap baik begini padaku?" gumam Ratu penuh keheranan.
Saking merasa heran Ratu mulai bertanya saat tuan Randi mulai menyetir dan keluar dari gerbang rumah.
"Tuan apa kau sehat?, Kenapa memperlakukanku semanis ini aku kan hanya asistenmu, dan bukankah seharusnya aku yang melayaninya?" Tanya Ratu dengan penuh kebingungan,
"Aku sangat baik baik saja dan malam ini biar aku yang melayaninya sepenuhnya jadi kau duduk dan patuh saja ikuti kemauan ku oke!" Jawab tuan Randi diakhiri dengan senyum yang lembut.
"I..iya tuan" jawab Ratu.
Ratu hanya bisa mengangguk tak mengerti dia hanya bisa mengikuti keinginan tuan Randi karena merasa dia adalah bawahan tuan Randi.
Tapi Ratu masih sangat keheranan dan dia takut jika sampai tiba tiba sekretaris Han datang diantara dia dan tuan Randi dalam situasi sedekat ini. Untuk memastikan kecemasannya sebelum tuan Randi mengajaknya masuk ke sebuah restoran mewah yang didekorasi pantastis Ratu sempat bertanya dahulu mengenai keberadaan sekretaris Han.
"Ayo Ratu kita masuk" ajak tuan Randi sambil menggandeng lengan Ratu,
Ratu sempat kaget dan menatap tajam ke arah tangannya yang tiba tiba digandeng dengan lembut oleh tuan Randi di hadapan banyak orang.
"Eh... Tunggu tuan, tapi apa sekretaris Han akan makan bersama dengan kita juga?" Tanya Ratu memastikan,
"Tentu saja tidak, untuk apa aku mengundangnya juga" balas tuan Randi.
"Ratu, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya tuan Randi nampak serius,
"Bertanya apa tuan, tanyakan saja" balas Ratu dengan santai,
"Apa hubunganmu dengan Zidan benar benar hanya teman?" Tanya tuan Randi yang membuat Ratu tertawa kecil.
Melihat ekspresi tuan Randi yang nampak begitu tegang saat menanyakan hal itu, Ratu jelas tak bisa menahan tawa, dia tersenyum lebar dan menutup mulutnya dengan tangan, Ratu tak habis pikir bisa bisanya ternyata tuan Randi malah menanyakan hal tidak penting seperti itu kepada dirinya.
"Ahaha... Tuan apa kau sedang menggodaku?, Tentu saja aku dan Zidan hanya sebatas teman memangnya apa lagi" jawab Ratu di iringi tawa,
"Haha... Iya iya aku tau itu, saya hanya memastikan saja" jawab tuan Randi dengan tawa garingnya.
"Tapi tuan kenapa sedari tadi anda terus saja bertanya mengenai hubungan saya dengan Zidan, memangnya kenapa jika saya berhubungan dengan dia?" Tanya balik Ratu dengan penuh penasaran.
Randi diam sejenak dia bingung harus menjawab apa pada Ratu, di lubuk hatinya yang terdalam rasanya tuan Randi ingin mengutarakan perasaan dia pada Ratu saat itu juga namun mengingat hubungannya dengan Ratu belum sedekat itu tuan Randi masih takut jika nanti akan mendapatkan penolakkan dari Ratu dan justru akan membuat jarak yang jauh diantara dia dengan Ratu kedepannya.
"Tuan kenapa anda diam?" Tanya Ratu lagi sambil menatap serius wajah tuan Randi,
"Tidak... Saya hanya memastikan karena sangat penasaran soalnya saya lihat kamu dengan Zidan sangat dekat kan, makanya saya bertanya dia kan juga bekerja sama dengan proyek yang sedang perusahaan jalankan" jawab tuan Randi yang mengada ngada alasan.
"Lalu apa hubungannya proyek dan hubungan aku dengan Zidan?" celetuk Ratu yang tak sengaja terdengar tuan Randi,
"Tentu saja ada hubungannya Ratu, saya tidak mau urusan diantara kalian berpengaruh pada proyek yang sedang Zidan jalankan" jawab Randi menjelaskan,
"Ahh... ma..maaf tuan saya hanya asal bertanya kok" balas Ratu merasa sedikit malu.
Walau Ratu sebenarnya merasa jawaban dari tuan Randi tidak masuk akal tapi dia juga tidak berani bertanya lebih banyak lagi dan memilih untuk mempercayai sesuai dengan perkataan yang dikatakan tuan Randi sebelumnya.
Tak lama makanan pesanan mereka datang dan mereka mulai menikmati makan malam itu bersama, bagi Ratu ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan semanis ini dari seorang pria, dia sangat menikmati makan malam itu, entah kenapa hatinya selalu merasa tenang dan damai saat berada di samping tuan Randi meski dia tau setiap kali berhadapan dengan tuan Randi pasti akan ada perdebatan diantara dia, entah itu disebabkan oleh sekretaris Han ataupun kecerobohan yang dia lakukan sendiri.
Tapi Ratu senang karena tuan Randi masih mau memaafkan setiap kesalahan yang pernah dia perbuat bahkan Ratu sangat merasa berterimakasih karena tuan Randi sudah membantunya dengan memberikan pekerjaan dan gajih yang besar sehingga Ratu masih bisa membiayai kuliah Mala juga menabung untuk masa depan toko bunganya.
Saat banyak mengobrol dan semakin dekat dengan tuan Randi mereka berdua lebih mengetahui tentang hal kesukaannya satu sama lain, bahkan tuan Randi meminta Ratu agar tidak perlu bicara pormal dengannya jika diluar kantor.
"Ratu kamu tidak perlu bicara pormal padaku kita biasa saja yah seperti kamu bicara pada Zidan" ucap tuan Randi yang lagi lagi membawa nama Zidan,
"I...iya tuan" balas Ratu menyetujui.
Ratu menjawab ucapan tuan Randi dengan gugup dan entah mengapa Ratu merasa tuan Randi seperti kurang menyukai kedekatannya dengan Zidan.