
Waktu terus berlalu, namun Ratu masih mempertahankan posisinya berdiri di samping nenek yang tengah tertidur lelap di ranjang, sampai waktu sudah hampir malam, Zidan tak kunjung datang dan akhirnya adzan magribun berkumandang tapi Ratu tetep berdiri di posisinya tadi sampai tak lama kemudian Zidan pulang dan langsung menuju kamar nenek, dilihatnya Ratu yang berdiri di samping ranjang dengan wajah yang pucat dan nenek yang tertidur lelap di ranjang, namun saat Zidan ingin menyapa Ratu tiba tiba tubuh Ratu terjatuh ke lantai dan dengan cepat Zidan menangkapnya lalu menggendong Ratu dan di baringkan di samping nenek, nenek yang mendengar sedikit keributan terbangun dan melihat Zidan sedang mondar mandir di tepi ranjang, saat nenek hendak duduk betapa kagetnya dia melihat Ratu sudah berbaring di ranjangnya dengan wajah yang pucat.
"*H*eh...Zidan apa yang kau lakukan dengan gadis culun ini," bentak nenek yang nampak khawatir akan kondisi Ratu.
"*A*ku gak tau oma, saat aku pulang dia sedang berdiri dan wajahnya pucat di samping ranjang oma, tiba tiba dia jatuh pingsan dan aku membaringkannya di sini," ucap Zidan menjelaskan.
"*A*pa?...jadi dari siang dia berdiri menungguku tidur disini ?," teriak nenek kencang.
"*H*ah..apa oma gak salah, pantas saja dia sampai begini, aku akan menghubungi dokter Hafid...oma tolong jaga dia dahulu," ucap Zidan dan langsung berlari keluar kamar untuk menghubungi dokter keluarganya.
Nenek itupun menjawabnya dengan anggukan dan Zidan langsung menghubungi dokter keluarganya yakni dokter Hafid
dengan perasaan cemas Zidan segera mengambil ponsel di saku celananya dan segera menekan beberapa tombol lalu menempelkan ponsel itu di samping telinganya.
Tak berselang lama panggilan telponpun tersambung, tersengar suara dokter Hafid dari sebrang menyapa Zidan ramah.
"*H*allo tuan selamat malam...ada yang bisa saya bantu?," ucap dokter Hafid di sebrang sana.
"*C*epatlah datang ke rumahku ada yang perlu kau periksa sekarang juga," bentak Zidan dan langsung menutup telponnya sepihak.
Setelah itu Zidan kembali masuk kedalam kamar omanya dan duduk persis di samping ranjang menatap Ratu kecil yang tengah tak sadarkan diri, begitupula dengan nenek itu yang menatap Ratu di atas kursi roda dengan perasaan bersalah dan menyesal telah memperlakukan Ratu sampai seperti ini.
"*M*aafkan oma Zidan...tadinya oma hanya ingin menguji gadis kecil ini, oma pikir dia akan pergi dan kabur seperti gadis lainnya yang kau bawa kemari...tapi ternyata pilihanmu kali ini benar Zidan dia gadis kecil yang baik hati,....dia tulus menjaga oma bahkan saat oma tidurpun dia tetep menjaganya dengan setia....maaf kan oma sayang sudah membuatmu seperti ini," ucap oma lemah lembut dengan menitikan air mata sambil mengelus pucuk rambut Ratu lembut.
"*I*ya oma dia memang gadis yang baik namun sayang Zidan tidak bisa memilikinya karena dia pacarnya Steven oma," jawab Zidan jujur tanpa dia sadari ucapannya mengharapkan Ratu untuk bersamanya.
"*H*mmmm...sungguh beruntung sekali kau Stev, semoga tuhan memberikan gadis yang sama seperti dia padamu Zidan," ucap oma.
"*E*hhhh...tunggu apa yang baru saja aku katakan pada oma....sadarlah Zidan bukannya kau tak suka dengan gadis brutal ini," gumam Zidan yang mulai sadar akan ucapannya tadi.
Sampai beberapa saat kemudian dokter Hafid datang diantar pelayan ke dalam kamar oma, dokter Hafid nampak bingung melihat oma duduk sehat diatas kursi roda dan melihat seorang gadis kecil terbaring diatas ranjang.
"*He*yy...apa yang sedang kau lihat cepat periksa gadis ini," bentak Zidan sambil menunjuk ke arah Ratu.
"*B*aik tuan," jawab dokter Zidan dan mulai memeriksa Ratu.
Beberapa menit dokter Hafid memeriksa dan dia hanya tersenyum menatap Zidan teduh.
"*T*uan tenang saja nona kecil hanya kelelahan dan memiliki magh karena sepertinya dia tidak makan sejak tadi pagi," ucap dokter Hafid.
Zidan dan oma saling bertatapan mendengar Ratu belum makan sejak tadi pagi, mata mereka membulat sempurna, dan kembali menatap Ratu yang tengah terbaring lemah dengan iba.
"*L*alu apa yang harus saya lakukan dok," tanya Zidan.
Zidan mengantar dokter Hafid sampai ke teras rumah dan ketika mobil yang ditumpangi dokter Hafid sudah tak terlihat Zidan kembali masuk ke rumah dan masuk kamar oma, melihat Ratu yang masih terbaring dan berniat memindahkan Ratu ke kamar lain agar omanya bisa beristirahat.
"*O*ma biar Ratu aku pindahkan ke kamarku, agar oma bisa istirahat," ucap Zidan sambil memegang tangan omanya.
"*B*aiklah," ucap oma lembut.
Dengan segera Zidan menggendong tubuh mungil Ratu dan membawanya ke kamar Zidan yang ada di lantai 2, sesampainya di sana Zidan segera membaringkan Ratu perlahan ke ranjang dan kembali pergi keluar kamar untuk menyuruh pelayan menyiapkan makanan bagi Ratu.
"*B*i tut...tolong siapkan makanan untuk Ratu ya," pinta Zidan pada bi Tuti yang merupakan pelayan di rumah itu.
"*B*aik tuan," jawab bi Tuti.
Bi Tuti pun segera bergegas menuju dapur dan menyiapkan bubur untuk Ratu juga segelas susu hangat dan air mineral.
Setelah siap bi Tuti berniat membawa nampan berisi makanan tadi ke kamar Zidan namun dihentikan oleh Zidan yang sudah menunggu sejak tadi di meja makan.
"*B*i sini biar saya saja yang bawakan," pinta Zidan lagi dan bi Tuti hanya bisa menurutinya.
Zidan membawa nampan berisi makanan itu ke kamarnya dan menaruhnya di atas meja, kemudian dia berjalan dan duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah polos Ratu dengan lekat.
"*K*amu gadis polos Ratu...tapi nasibmu sangat buruk harus tinggal bersama mak lampir itu," gumam Zidan.
5 menit kemudian nampak Ratu mulai tersadar dan mengerjap ngerjapkan matanya perlahan juga menggerakkan jarinya.
Sampai kini Ratu sudah membuka matanya sempurna, ditatapnya semua sudut ruangan kamar itu yang sama sekali tidak Ratu kenali, Ratu pun segera bangung dari posisinya hendak duduk, namun dia merasa ada yang memegangi tangannya dan ternyata benar Zidan tertidur sambil memegangi tangan Ratu erat.
"*Y*a..allah...kenapa ada dia disini..atau jangan jangan aku tidur di kamarnya....ahhhh..tidak..semoga tidak terjadi apa apa denganku.....lindungi hambamu yang lemah ini ya allah," gumam Ratu.
Ratu tak tega untuk membangunkan Zidan yang tengah tertidur lelap dia menatap makanan yang ada diatas meja, perutnyapun terasa sangat lapar, Ratu hendak meraih makanan itu namun ternyata malah membangunkan Zidan.
Zidan langsung membenarkan posisinya dan menatap Ratu lekat juga menggenggam kedua tangan Ratu makin erat.
"*R*atu..kamu sudah bangun...apa ada yang sakit ahhh...cepat katakan," ucap Zidan.
"*Ti*dak tuan saya baik baik saja...hanya lapar sedikit hehe," jawab Ratu jujur.
Zidanpun tersenyum dan langsung mengambil makanan di atas meja lalu menyuapi Ratu.
"*A*aaa...," ucap Zidan sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut Ratu.
Dengan cepat Ratu menerima suapan itu.