
Saat tuan Randi kembali ke kantor dia langsung menghempas semua barang yang berada diatas meja kerjanya hingga terhempas kelantai dan berantakan, tuan Randi marah besar dan dia hanya bisa melampiaskan semua kemarahan dalam dirinya dengan mengacak ngacak tempat kerjanya sendiri, sedangkan sekretaris Han hanya berdiri di dekat pintu ruangan karena dia juga merinding merasakan suasana mencekam di sana.
"Arghh....., Aku sudah kehilangan ayah satu satunya orang yang bisa membelaku sekarang bahkan Ratu juga tidak mau menemuiku lagi, semua ini karena aku yang lemah....arghhhh" teriak tuan Randi penuh frustasi.
Sekretaris Han sungguh merasa tidak enak dan sangat sedih melihat kondisi tuan Randi yang begitu frustasi, inilah yang sekretaris Han takutkan sejak lama, dan hal ini juga yang menjadi alasan mengapa sekretaris Han selalu menghalangi kedekatan tuan Randi dengan Ratu meski akhirnya tetap gagal juga.
Sekretaris Han terus berusaha menahan tuan Randi agar tidak menghancurkan semua barang barang yang ada di sana.
"Tuan....sudah cukup...sebaiknya anda menenangkan diri dahulu, nyonya Wulan juga pasti masih berduka anda harus sedikit lebih mementingkan nya saat ini"ucap sekretaris Han mengingatkan,
"Han, bagaimana bisa kau juga malah membela ibuku, sudah jelas sejak dulu dia itu wanita yang kejam dan selalu memperlakukanku seperti bonekanya bahkan sekarang baru sehari setelah kepergian ayah dia sudah berkuasa atas segalanya" bentak tuan Randi yang semakin emosi,
"Ya...ampun sepertinya aku salah bicara kali ini" gumam sekretaris Han menjadi serba salah.
Sekretaris Han akhirnya memilih untuk diam dan pergi meninggalkan tuan Randi di ruangan itu seorang diri, sekretaris Han berpikir mungkin tuannya membutuhkan waktu sendiri dulu untuk menenangkan pikirannya.
Karena keberadaan dirinya di sana juga tidak bisa membantu apapun untuk tuan Randi, kini sekretaris Han mulai mencemaskan tuan Randi karena melihat nyonya Wulan yang semakin menjadi kejam dan tidak berperasaan.
Saat sekretaris Han keluar ponselnya berbunyi dan itu sebuah pesan singkat dari nyonya Wulan yang memintanya bertemu di sebuah restoran tak jauh dari daerah sana, sekretaris Han segera bergegas pergi tanpa memberitahu tuan Randi sebelumnya.
"Sebaiknya aku pergi saja, meminta izin pada tuan di saat seperti ini juga bukan hal yang tepat" ucap sekretaris Han dan segera pergi menemui nyonya Wulan.
Sesampainya di restoran dari kejauhan sekretaris Han sudah bisa melihat keberadaan nyonya Wulan yang duduk dengan tegak di sebuah meja mewah VIP tepat di ujung restoran tersebut yang nampak dilapisi dengan ruangan kaca yang sangat mewah.
Sekretaris Han mengetuk kaca itu dan nyonya Wulan memerintahkan asisten barunya untuk membukakan pintu untuk sekretaris Han, saat pertama kali melihat seorang wanita yang membukakan pintunya sekretaris Han merasa bahwa wanita itu sedikit pamiliar dan tidak aneh di matanya karena penasaran sekretaris Han langsung bertanya.
"Siapa kau, kenapa nyonya bisa bersama wanita ini?" Tanya sekretaris Han dengan sinis,
"Perkenalkan Han dia adalah Diah, mantan sekretaris Zidan aku sengaja mengangkatnya sebagai asisten sekaligus sekretaris pribadiku mulai saat ini, dan dia akan ikut denganku mengurus semua urusan perusahaan di luar negeri yang dulu di pimpin oleh suamiku" ucap nyonya Wulan memperkenalkannya.
Mendengar itu tentu saja sekretaris Han sangat kaget dia membelalakkan matanya sempurna dan tidak percaya nyonya Wulan bisa menerima wanita sembarang seperti Diah dengan mudah dan ditempatkan dengan jabatan yang setara dengannya.
"Nyonya apa anda yakin mempekerjakan dia sebagai tangan kananmu?, Anda bahkan belum mengenal dia sepenuhnya seperti anda mengenal saya" ucap sekretaris Han memastikan,
"Tenang Han kau tidak berhak mengatakan ataupun berkomentar apapun mengenai Diah dia adalah sekretaris ku dan kau harus menghormatinya, aku memanggilmu kemari bukan ingin membahas soal tidak penting seperti ini" jawab nyonya Wulan memperingati sekretaris Han agar tidak ikut campur dengan keputusannya.
Sekretaris Han yang merasa kesal dan tidak terima dengan jawaban dari nyonya Wulan dia terus menatap tajam ke arah dia yang berdiri di samping nyonya Wulan dengan berpakaian sangat seksi dan begitu terbuka, meski begitu sekretaris Han lebih membencinya di banding dia tidak menyukai Ratu.
"Bagaimana bisa nyonya mempekerjakan wanita ******* sepertinya dengan jabatan yang bisa membahayakan perusahaan kedepannya, sekretaris Diah ini mencurigakan" gumam sekretaris Han menyelidik.
Tidak ingin mendapatkan kecurigaan dari nyonya Wulan sekretaris Han kembali fokus pada pembicaraannya dengan nyonya Wulan dan mulai menanyakan mengenai hal yang ingin dibicarakan olehnya.
"Kalau begitu, nyonya apa yang mau anda bicarakan dengan saya?" Tanya sekretaris Han dengan kedua alis yang dikerutkan serempak,
"Sekretaris Han mulai saat ini saya akan memegang dan mengambil alih semua perusahaan yang ada di luar negeri dan Randi akan mengurus perusahaan pusat di negara ini, aku mempercayakan Randi padamu jangan sampai dia membangkang dariku apalagi semakin dekat berurusan dengan gadis miskin itu" ucap nyonya Wulan yang membuat sekretaris Han bergidik merinding melihat ekspresi nya yang menyeramkan dan penuh penekanan.
"Ba..baik nyonya anda tidak perlu khawatir saya juga tidak menyukai gadis itu" jawab sekretaris Han sedikit gugup.
Sekretaris Han sangat senang mendengar hal tersebut, dengan begitu mood tuan Randi mungkin bisa kembali baik lagi setelah kepergian nyonya Wulan, namun keberadaan sekretaris Diah di samping nyonya Wulan benar benar mengganggu perasaan sekretaris Han yang terus menaruh banyak kecurigaan padanya.
"Aku harus menyelidikinya lebih dalam lagi, dia akan sangat berbahaya karena berada di samping nyonya" gerutu sekretaris Han sambil menatap kepergian mereka berdua dari restoran tersebut.
Saat baru saja keluar dari restoran itu ponsel sekretaris Han kembali berbunyi dan saat dia memeriksanya ternyata itu panggilan telpon dari tuan Randi, sekretaris Han terburu buru masuk ke dalam mobil untuk mengangkat panggilan itu.
"Iya...hallo tuan ada apa?, Apa mood anda sudah membaik sekarang?" Tanya sekretaris Han,
"HAN...dimana kau, cepat ke ruanganku dalam lima menit atau aku akan memotong gajihmu lima puluh persen bulan ini!" Bentak tuan Randi dan langsung menutup panggilan tersebut.
"Hallo....tuan....tapi...tuan...tuan...tunggu.." teriak sekretaris Han yang sudah terlambat.
Sekretaris Han bahkan belum sempat menjawab apapun dan dia hanya bisa menggerutu kesal karena tidak mungkin dia akan sampai di ruangan tuan Randi dalam waktu sesingkat itu sedangkan posisinya saat ini tengah di luar perusahaan.
"Aish.....mana mungkin aku akan sampai di sana dalam waktu lima menit, huhu....ya ampun gajihku tersayang akan lenyap separuhanya bagaimana ini" gerutu sekretaris Han yang menyetir dengan kecepatan tinggi dan meratapi nasibnya sendiri.
Saking terburu burunya sekretaris Han berlari dan menabrak banyak orang di perusahaan dia menaiki lift berebut dengan karyawan lain hingga membuat kancing jasnya copot dan pakaian yang dia kenakan sangat berantakan terutama rambutnya yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Hah...hah....hah....tuan saya sudah sampai tolong jangan potong gajih saya bulan ini..." Ucap sekretaris Han yang baru sampai dan menunduk memegangi lututnya dengan nafas menderu,
"Kau telat dan sesuai yang aku katakan gajihmu dipotong lima puluh persen!" Jawab tuan Randi tanpa belas kasihan sedikitpun.
Sekretaris Han berjalan lesu dan duduk di sofa ruangan tuan Randi dengan lemah dan masih berusaha mengontrol nafasnya.
"Hah....hah....hah....tuan kau memang selalu berhasil menyiksa dan memotong gajihku, kalau begini bagaimana aku bisa membeli rumah impianku" gerutu sekretaris Han yang masih merasa tidak adil.
"Diam kau Han, lagi pula memangnya darimana kau, berpakaian berantakan, rambut kusut dan nafas menderu seperti itu, memangnya kau sudah berlari dari restoran sebrang sana hingga kemari?" Ucap tuan Randi yang begitu tepat dengan kenyataannya.
Sekretaris Han langsung gugup mendengar ucapan tuan Randi yang mengetahui bahwa dia memang dari restoran tersebut dan menemui nyonya Wulan.
"Ahaha....tidak tuan kau ini bisa saja saya hanya terburu buru berlari kemari makanya tidak memperhatikan penampilan" jawab sekretaris Han beralasan.
"Lain kali kau tidak perlu berlari karena gajihmu tetap akan di potong" jawab tuan Randi membuat sekretaris Han sedih.
"Tuan bisakah kau berhenti memotong gajihku setiap kali aku terlambat, hati ku ini sudah hampir hancur karena perkataan menyakitkan seperti itu, anda benar benar tidak punya hati" ucap sekretaris Han dengan lesu,
"Aku memang tidak ada hati untukmu Han, jadi kau jangan heran cepat bantu aku bereskan semua kekacauan di ruangan ini" ucap tuan Randi memberikan perintah.
Mendapatkan bentakkan dari tuan Randi sekretaris Han tidak bisa berbuat apapun lagi jadi terpaksa dia harus menuruti segera apa yang diperintahkan oleh tuan Randi.
Meski sangat kesal dan dia begitu lelah sehabis menemui nyonya Wulan tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi.
"Tuan....tidak kah kau merasa kasihan, setidaknya biar kan aku untuk istirahat sebentar aku sangat lelah sekarang" ucap sekretaris Han dengan wajah yang memelas.
Sekretaris Han berusaha meminta rasa belas kasihan pada tuan Randi dan berharap dia bisa mendapatkan sedikit keringanan agar tidak membereskan semua kekacauan di ruangan itu seorang diri.