PENDERITAAN RATU KECIL

PENDERITAAN RATU KECIL
RATU DAN TUAN RANDI


Setelah berhasil menenangkan dirinya Ratu pun segera duduk kembali ke tempat semulanya dan dia nampak menarik nafas perlahan beberapa kali dan tidak menatap ke arah tuan Randi karena masih cukup malu dengan kejadian tadi, begitu juga dengan tuan Randi yang nampak salah tingkah namun masih berusaha bersikap tenang dan menjaga ke coolan pada dirinya dia terus saja menatap laptopnya suasana di ruangan itu pun mendadak menjadi sangat canggung dan menegangkan Randi dan Ratu tak saling bicara satu sama lain karena mereka masih merasa tidak enak dan malu satu sama lain.


Hingga akhirnya setelah berusaha keras memberanikan dirinya Ratu pun mulai bertanya dan membuka pembicaraan pada tuan Randi dengan perlahan.


"Eummm tuan," ucap Ratu perlahan sambil menatapnya sekilas.


Sedangkan tuan Randi malah langsung menutup laptopnya dan menyingkirkan laptop itu ke samping dan menatap ke arah Ratu lekat.


"Iya ada apa?," jawab tuan Randi bertanya.


"Begini...bagaimana bisa tadi tuan ada di bawah tubuh saya?," tanya Ratu sambil menunduk karena malu mengatakannya.


Tak bisa di bayangkan wajahnya sudah merah padam bak kepiting rebus, namun walau begitu Ratu terus memberanikan diri untuk bertanya agar semua kepenasaran dalam dirinya bisa hilang dan dia tidak berpikiran yang aneh aneh pada tuan Randi ataupun lain hal, tuan Randi yang mendapatkan pertanyaan itu tentu saja dia menjadi sedikit gugup.


"ah...itu yah...haha...tenang saja jangan berpikiran yang tidak tidak aku hanya membantumu agar kau tidak terguling kelantai saat tidur tadi," jawab tuan Randi jujur.


"Apa iti benar tuan, aduhh....bodoh saya memang ketiduran di sofa tadi," ucap Ratu yang baru ingat akan kesalahannya sambil menepuk jidatnya pelan.


"Eh..eh...hentikan untuk apa kau memukul jidatmu sendiri, lagi pula semuanya sudah terjadi dan tak ada apa apa juga untuk apa dipermasalahkan," jawab tuan Randi dengan santainya.


"Ahhh...astaga itu memang tidak ada arti apa apanya untuk anda tapi itu bahaya untuk saya tuan arghhh," gumam Ratu yang geram dengan ucapan tuan Randi yang bisa bisanya menganggap kejadian tadi tidak ada apa apa.


Ratu pun hanya bisa duduk menunduk dengan lemas dan dia hanya bisa pasrah dengan semua kejadian yang dia lalu hari ini rasanya Ratu sangat ingin segera pulang dan pergi mengistirahatkan tubuhnya menutup matanya dan melupakan semua kejadian yang terjadi padanya hari ini berharap saat keesokan harinya membuka mata dia benar benar tak mengingat semua kejadian hari ini.


Saat tengah berpikir ingin segera pulang rupanya ini juga bukan hari yang terlalu buruk untuk Ratu karena tak di sangka keinginannya itu bisa terkabul dan tuan Randi tiba tiba saja membereskan mejanya dan mengatakan bahwa pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai juga memperbolehkan Ratu untuk pulang.


"Pekerjaanku sudah selesai kau juga boleh pulang sekarang," ucap tuan Randi lalu dia pergi lebih dulu keluar dari ruangan itu meninggalkan Ratu.


Saat mendengar itu Ratu benar benar tak percaya namun dia juga sangat bahagia tak terkira.


"A..apa...apa aku tak salah dengar, aaaaahhhgh....yeayyy....hore....akhirnya bisa pulang lebih awal astaga ini benar benar anugrah ahhhhh senangnya," ucap Ratu sambil jingkrak jingkrakkan tidak jelas seorang diri di dalam ruangan CEO.


"Heh, mau kemana kau membawa tas?," tanya sekretaris Han.


"Yah mau pulang lah apa lagi," jawab Ratu dengan sewot.


"Tidak bisa, enak saja kau harus pulang saat aku sudah pulang juga," jawab sekretaris Han dengan tegas dan menarik Ratu sampai membawanya masuk ke ruangan dirinya.


"Eh..eh..eh...sekretaris Han lepaskan mana bisa begitu, tuan Randi sudah memperbolehkan aku pulang, sekretaris Han lepaskan....hey....," ucap Ratu memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman sekretaris Han namun tetap saja tak berhasil.


Karena kesal dan percuma saja dia memberontak tangannya tetap saja tak lepas dari genggaman sekretaris Han yang sangat kuat bak cakram yang mencengkram.


"Wahhh...pergelangan tanganku bisa merah kalau begini, cepat lepaskan sekretaris Han," ucap Ratu membentak karena sudah sangat kesal dan tak tahan lagi.


"Haha...memangnya kau pikir aku bodoh, kalau aku melepaskannya kau pasti akan kabur iya kan," jawab sekretaris Bay sangat sinis.


"Aku janji tidak akan kabur tapi lepaskan dulu, sakit tau," ucap Ratu sambil cemberut.


Sekretaris Han pun melepaskannya setelah menatap lekat Ratu dan memastikan bahwa Ratu benar benar akan menepati janjinya dan saat sekretaris Han melepaskannya Ratu benar benar tidak kabur dan dia duduk di sofa sambil cemberut, sekretaris Han pun kembali membuka ponselnya dan mengangkat panggil telpon entah dari siapa, Ratu yang melihat kesempatan emas untuk melarikan diri diapun tak menyia nyiakan kesempatan langka yang tak akan datang dua kali itu, dia berjalan mengandap ngendap perlahan agar tak terdengar oleh sekretaris Han dan saat sudah dekat pintu Ratu langsung berlari cepat dan menutup pintu itu dengan keras sehingga sekretaris Han mengetahui bahwa dia kabur.


"Ratu....ahhh...aishhh...dasar kau awas saja nanti," teriak sekretaris Han yang kaget melihat Ratu sudah keluar dan melarikan diri dari ruangannya.


Sekretaris Han sebenarnya ingin mengejar Ratu dan menahannya agar tidak pulang lebih dulu namun dia masih menelpon dengan partner kerjasama perusahaan jadi dia tidak bisa memutuskan panggilan begitu saja dan akhirnya terpaksa sekretaris Han harus meloloskan Ratu untuk kali ini.


"Ahhh...sial lagi lagi kau lolos dari hukumanku, tak akan aku biarkan lain kali kau lolos lagi," gumam sekretaris Han geram.


Dia pun kembali fokus membalas ucapan dari telpon dan membahas mengenai kerjasama mereka sampai hendak mengadakan pertemuan untuk membahasnya dengan lanjut, sekretaris Han pun langsung mengatur jadwal dan menempatkan pertemuan itu di jadwal yang sangat tepat, setelah itu sekretaris Hanasih harus menyusun beberapa laporan untuk rapat besok sehingga masih butuh waktu lama untuk dia tinggal di ruangannya itu sampai jam pulangnya berbunyi.


Sedangkan di sisi lain Ratu yang sudah berhasil keluar dari kantor dan masuk ke dalam taxi yang saat itu kebetulan lewat di depannya karena hari ini Ratu tak membawa sepedanya karena dia memakai rok pendek jadi agak ribet jika harus mengayuh sepeda makanya dia memutuskan untuk naik taxi saja selagi uangnya masih cukup, dan saat melewati sebuah konter hp, Ratu teringat dengan ponselnya yang rusak dan dia meminta turun di sana saat itu juga.