
Daddy Roy semalaman tidak bisa tidur gara-gara bisikan istrinya terngiang-ngiang di telinganya, saat Mom Kia bilang kalau dia sudah selesai datang bulannya.
Baru satu malam dia tidak tidur bersama istrinya saja sudah uring-uringan. Namun karena dia memiliki sifat yang keras kepala, dia tidak akan bilang kalau dia menyerah, itu artinya dia juga akan seperti Morgan, melanggar janjinya.
Makanya dia sarapan pagi ini tidak begitu bersemangat, berbeda dengan Zhoya dan Mom Kia, mereka terlihat sedang bercanda sambil makan.
"Nanti malam mau mommy bacakan cerita lagi?" tanya Mom Kia pada putrinya.
"Mau banget Mom, sudah lama Zhoya gak mendengar cerita mommy lagi." Zhoya mengatakannya sambil terkekeh. Zhoya akan menjadi gadis manja jika bersama sang Mommy.
Daddy Roy hanya menghela nafas mendengarnya.
"Apa tidurmu semalam nyenyak?" tanya Mom Kia pada suaminya.
"Oh ten-tentu saja sangat nyenyak." jawab Daddy Roy, dia terpaksa berbohong.
"Oh baguslah kalau begitu. Kebetulan hari ini aku mau membawa Zhoya ke dokter kandungan, sekalian membeli makanan bernutrisi dan susu khusus ibu hamil." ucap Mom Kia pada suaminya.
"Oh ya udah silahkan, kebetulan hari ini aku libur, jadi mau istirahat yang banyak di paviliun."
Saat dalam perjalanan menuju dokter kandungan, Zhoya meminjam ponsel Mommynya untuk menghubungi Morgan, karena ponsel dia masih diamankan sang Daddy.
Sayangnya Morgan susah sekali untuk dihubungi, membuat Zhoya mengkhawatirkannya.
"Kenapa sayang?" tanya Mom Kia begitu melihat Zhoya cemberut.
"Ponselnya gak aktif, Mom." lirih Zhoya. Padahal dia ingin sekali mendengar suara Morgan, dia sangat merindukan pria itu.
"Mungkin dia sedang sibuk membereskan semua masalahnya. Mommy yakin pasti nanti dia datang kesini untuk menjemput kamu."
"Bagaimana nanti dia menghadapi Daddy? Mommy tau ini kan kalau Daddy marah seperti apa?"
"Biarkan saja mereka bertemu secara pria, Mommy ingin tau siapa yang kalah, Daddymu apa Morgan?"
"Maksudnya mereka akan berantem, Mom?"
"Bukanlah sayang, tapi mereka harus menyelesaikan perselisihan diantara mereka secara gentle, secara dewasa. Toh yang membuat perjanjian konyol kan mereka berdua."
Daddy Roy saat ini sedang termenung di paviliun, sebagai seorang ayah pasti dia sangat berpikir keras dengan masa depan putrinya. Apalagi sekarang ini Zhoya telah berbadan dua. Apakah dia tega melihat Zhoya melahirkan anak tanpa seorang suami?
Daddy Roy menarik nafas panjang, dia mengerutkan keningnya begitu dalam, walaupun dia bersikap sok keras kepala, namun sebenarnya hatinya sangat rapuh, apalagi jika berhubungan dengan Zhoya, banyak sekali ketakutan yang dia rasakan tentang Zhoya, makanya tadinya dia berharap Zhoya bersanding dengan pria yang sudah dia kenal baik dari dulu.
Mungkin karena banyak sekali kasus perceraian di rumah tangga para selebritis, makanya Daddy Roy tadinya gak ingin sama sekali Zhoya menikah dengan seorang aktor, walaupun dirinya memang seorang aktor, tapi dia bisa menjamin dirinya sendiri untuk tidak akan terjerumus ke dalam hal negatif.
Daddy Roy mencoba mengingat perkataan Galvin, Darwin, Mom Kia, dan Zhoya yang menceritakan kehebatan seorang Morgan Xavier. Kalau Morgan adalah pria yang bertanggungjawab, dan sangat mencintai Zhoya, bahkan dia pria yang hebat, bisa sukses dengan kerja keras dirinya sendiri. Mengingatkannya pada dirinya sendiri, dulu juga dia bukan pria yang kaya raya, bahkan orang tuanya hanya memiliki restoran sederhana di Indonesia.
Dengan bekerja keras, dia bisa sukses menjadi aktor go internasional, bahkan sekarang dia bisa membangun banyak restoran bintang lima di Amerika dan beberapa negara di Eropa.
"Apa yang harus aku lakukan, Oh Tuhan?" gumamnya.
Daddy Roy melihat Albert masuk ke dalam paviliun, karena memang kebetulan pintu paviliun itu terbuka.
"Maaf Tuan, ada seorang tamu, dia ingin bertemu dengan anda." ucap Albert sambil sedikit membukakan badannya pertanda hormat.
"Siapa?" tanya Daddy Roy.
"Morgan Xavier, dia sekarang sedang berada di luar."
Daddy Roy tertegun mendengarnya, dia tidak mungkin tega mengusirnya begitu saja, padahal dia bisa saja melakukannya, mumpung tidak ada Zhoya di mansion. "Suruh dia masuk."
"Baik, Tuan."
Albert pun keluar dari paviliun, tak lama kemudian, Daddy Roy melihat Morgan masuk ke dalam paviliun.
Hati Morgan sangat berdebar-debar saat ini, pasti ayah mertuanya sangat marah dengan semua kekacauan yang telah terjadi, walaupun sebenarnya dia sudah membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Morgan melihat Daddy Roy menatap tajam ke arahnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Membuat Morgan semakin gugup.
Morgan berlutut di lantai, di depan mertuanya, dia ingin memperlihatkan kesungguhan hatinya bahwa dia benar-benar mencintai Zhoya dan meminta maaf karena telah melanggar perjanjian yang telah dia buat dengan ayah mertua.
"Maafkan saya, Om. Atas semua kekacauan ini, aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk Zhoya. Namun aku ingin mencoba terus berusaha untuk menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab terhadap Zhoya. Aku sangat mencintai Zhoya. Aku ingin bisa hidup bersama Zhoya untuk selamanya. Karena itu maafkan aku jika akhirnya aku harus melanggar perjanjian kita, karena aku ingin Zhoya menjadi ibu dari anak-anakku." Morgan mengatakannya dengan segala kesungguhan hatinya.