Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Delapan Puluh Delapan


Disha bersedia memenuhi permintaan Darwin, hari ini Shiva dan Darwin telah melakukan tes DNA, dan hasilnya harus dibawa besok.


Setelah itu, Darwin mengantarkan Shiva dan Disha kembali ke perumahan Grand City, suasana terasa canggung karena walaupun ada anak diantara mereka, Disha dan Darwin sebenarnya belum saling mengenal satu sama lain.


Sementara Shiva ketiduran di pangkuan Disha.


Malam itu, Darwin memarkirkan mobilnya di depan rumah, dia melihat Disha keluar dari mobil sambil menggendong Shiva.


Darwin segera ikut keluar dari mobil, dia membawa Shiva dari pangkuan Disha, "Biar aku yang gendong Shiva."


"Oh nggak usah, biar aku..." Disha ingin menolak, namun pria itu berhasil membawa Shiva dari pangkuannya.


"Shiva pasti berat sekali, gak apa-apa, aku aja yang gendong." Darwin mengatakannya dengan nada canggung.


Disha pun terpaksa mengiyakan saja, dia membuka pintu rumah, mempersilahkan Darwin masuk ke dalam, kemudian Disha menunjukkan jalan ke arah kamar Shiva.


Setelah sampai kamar, Darwin membaringkan tubuh Shiva di atas kasur, dia menyelimuti Shiva, kemudian membenarkan rambut Shiva yang berantakan.


Melihat dari cara Darwin memperlakukan Shiva, Disha merasa Darwin sepertinya sangat menyayanginya, namun Disha masih takut jika Darwin nanti membawa Shiva darinya.


Disha tidak akan membiarkan hal itu terjadi, setelah masalah ini selesai, dia akan pergi bersama Shiva ke luar kota, dia tidak sanggup jika harus kehilangan Shiva. Baginya Shiva adalah penawar dari semua rasa sakit yang dia rasakan.


Setelah itu, Disha membawakan segelas air putih untuk Darwin. Darwin nampak termenung memikir bagaimana nasibnya nanti, besok dia akan mengakui semuanya, semua dunia akan tau kebejatannya, mungkin semua orang akan membencinya.


Masalah ini menyadarkannya agar tidak pernah bersikap arrogant lagi, dia tidak boleh memandang rendah lagi pada siapapun, apalagi pada Morgan, hanya karena dulu Morgan seorang casanova, rupanya dia jauh lebih hina dibandingkan dengan Morgan. Merampas kehormatan Disha secara paksa, dan membiarkan Disha sendirian membesarkan anaknya. Walaupun semua itu karena diluar kesadarannya, dan dia juga selama ini berusaha untuk mencari keberadaan Disha.


Darwin tidak mungkin mengakui kesalahannya sekarang, karena belum ada bukti yang kuat atas pengakuannya. Orang tidak akan mudah mempercayai ucapan seseorang tanpa ada bukti yang nyata.


"Ehm!"


Suara deheman Disha membuyarkan lamunan Darwin.


Dia baru menyadari Disha berada di kursi sofa, walaupun mereka duduk di kursi yang berbeda.


"Apa kamu tau dimana Zhoya? Aku dari tadi ingin mencoba meneleponnya, tapi ponselnya gak aktif." tanya Disha, dari tatapannya terlihat dingin sekali pada Darwin. Mungkin masih ada rasa benci yang membekas dihatinya.


"Aku gak tau, hari ini aku gak bertemu dengan Zhoya." jawab Darwin.


"Tadinya aku ingin pamitan sama dia, setelah masalah ini selesai, aku dan Shiva akan pergi ke kota D."


Darwin terperangah mendengarnya, "Kenapa kamu dan Shiva harus pergi?"


"Kami gak punya siapa-siapa disini, aku gak enak tinggal disini, aku gak mau merepotkan Zhoya."


Darwin terdiam sejenak, padahal dia ayahnya Shiva tapi Disha bilang mereka tidak punya siapa-siapa di kota ini. Dia rasa perkataan Disha benar adanya, dia tidak pantas dipanggil ayah. Namun tetap saja rasanya berat sekali untuk berpisah dengan Shiva, dia juga ingin sekali menebus kesalahannya pada Disha, namun dia tidak tau harus menebusnya dengan cara apa.