
Zhoya mengangguk pelan, "Sedikit."
"Aku akan melakukannya dengan pelan," Morgan mengatakannya dengan begitu lembut, walaupun nafasnya sudah tak beraturan begitu merasakan nikmatnya berada di dalam diri Zhoya.
Morgan mencium Zhoya kembali, Zhoya membalas ciuman Morgan, mereka saling memagut dengan penuh naf-su dan nafas yang berburu.
Morgan mencoba menggerakkan sang jantan dengan pelan, Lagi-lagi pria itu pandai sekali membuat Zhoya melayang-layang terbang di udara, menggambarkan betapa nikmatnya bagaimana mereka bercinta.
Morgan mulai menghentakkan lebih dalam, membuat dia mengerang penuh kenikmatan, "Ahhh... kamu membuat aku candu Zhoy."
Morgan menggerakkan pinggulnya dengan sedikit cepat, mengguncang tubuh yang mungil itu, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Zhoya, sambil memberikan beberapa stempel merah disana.
"Ahhh... mmhh... kak Morgan!" Zhoya mende-sah penuh rasa nikmat, memeluk pria yang sedang memompa tubuhnya.
Mereka menautkan bibir kembali dengan penuh rasa cinta, dan saling bergerak mengikuti naluri mereka.
Morgan menghentikan aktivitasnya, dia menggendong Zhoya ke sofa, memposisikan Zhoya duduk di pangkuannya sampai tubuh mereka kembali menyatu.
"Bergerak lah!" titah Morgan.
Zhoya nampak kebingungan, dia tidak tau harus bergerak bagaimana, Morgan tersenyum samar, dia baru sadar kalau Zhoya ini masih polos dalam hal bercinta.
Morgan memegang pinggul Zhoya, membantunya untuk bergerak, Zhoya mengikuti nalurinya, dia memegang pundak Morgan berpacu dengan indah dipangkuan pria itu.
"Oh yess...good girl!" Morgan mengerang keenakan, dia membantu mempercepat gerakan pinggang Zhoya sambil terus menganga, wanita itu sungguh membuatnya menggila.
Zhoya mempercepat gerakannya.
"Ahhh..." Zhoya mendes-ah begitu Morgan melahap buah dadanya, dia memeluk kepala pria itu tanpa menghentikan gerakannya.
Mereka berciuman kembali, Morgan memeluk tubuh Zhoya, kemudian memposisikan Zhoya untuk membelakanginya, Zhoya membungkukan badannya, kedua tangannya memegang erat pinggiran sofa.
Jlebb...
Morgan memasukkan kembali miliknya lewat dengan gaya do-ggy st-yle. Membuat Zhoya menjerit manja, "Ugghh... kak!"
Dalam satu malam Morgan mengajarkann berbagai macam gaya bercinta, tentu saja fantasinya berbeda-beda, pria itu menghujamnya terus menerus, seakan dirinya kelaparan karena telah lama berpuasa.
Morgan membaringkan kembali tubuh Zhoya dikursi sofa, dengan cepat Morgan memasukkan sang jantan menerobos ke ladang surgawinya. Morgan menggerakkan pinggulnya kembali, sementara mulutnya menikmati area puncak bulatan indah di dada Zhoya.
Suara desa-han mereka begitu terdengar indah memenuhi kamar mereka, mereka mendes-ah dengan sesuka hati, saling menautkan bibir mereka dengan rasa yang begitu menggebu.
"Kak aku mau keluar." ucap Zhoya dengan nada manja.
Morgan tersenyum manis, dia lebih suka dengan penuturan Zhoya yang begitu manja padanya, dibandingkan dia harus berpura-pura bersikap dewasa, dia menganggukan kepala, "Bersama."
Morgan mempercepat pompahannya, membuat mereka meremang, hingga akhirnya mengantarkan mereka menuju puncak kenikmatan.
"Ahhh... kak...ahhhh!"
"Arrghhh... Zhoya!"
Morgan berhasil menyemburkan gelombang itu memenuhi milik Zhoya, sampai dia terkulai lemas menindih tubuh mungil itu, menenggelamkan kepalanya ke leher Zhoya, menghirup aroma wanita itu yang begitu sangat wangi.
Paginya...
Zhoya terbangun dari tidurnya, dia meraba-raba tangannya ke samping dengan mata terpenjam. Dia menghela nafas sambil membuka kedua matanya begitu menyadari Morgan tak ada disampingnya.
Pasti Morgan sudah pergi ke kota B, karena Morgan bilang dia pagi-pagi harus berada di lokasi syuting.
Apakah tujuan Morgan pulang ke rumah hanya untuk bercinta dengannya saja? Pertanyaan itu terlintas dipikiran Zhoya.
Zhoya meraih bathrobe, dia menutupi badannya dengan bathrobe, keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga satu persatu.
Zhoya mencium ada aroma wangi masakan membuatnya lapar karena Morgan sudah membuatnya kelelahan.
"Siapa yang masak? Apa kak Morgan menyuruh bik Nani masak untukku lagi?" gumam Zhoya.
Begitu sampai di ruang makan, dia melihat ada banyak makanan yang sudah tersedia disana, membuat perutnya keroncongan.
"Pagi bocil!"
Zhoya dikejutkan dengan suara Morgan di belakangnya, Zhoya langsung membalikkan badan, dia melihat Morgan tersenyum padanya.
"Pagi ini aku memasak yang banyak untukmu." Morgan mengatakannya sambil tersenyum manis.
"Bukannya kak Morgan harus kembali ke kota B sekarang?" Zhoya rasanya tak percaya rupanya Morgan masih berada di rumahnya, bahkan memasak untuknya.
"Aku udah bilang ke sutradara Devan kalau aku agak telat datang kesana, sebentar lagi aku berangkat, karena itu aku ingin makan bersama kamu."
Zhoya tersenyum manis, wanita mana yang tak luluh dengan kharisma pria itu, hatinya sangat tersentuh dengan perlakuan Morgan kepadanya. Bagaimana bisa dia membuang perasaannya pada Morgan jika Morgan terus bersikap seperti ini padanya.