
Malam ini Morgan dan Zhoya terbaring di atas kasur, mereka nampak gugup sekali seperti sepasang pengantin baru yang baru merasakan tidur satu ranjang. Jarak mereka hanya dihalangi satu buah guling saja.
Namun ada yang menarik perhatian Zhoya, begitu dia menatap langit-langit di kamar sana, dia melihat ada foto Zhoya dia atas.
Morgan tersenyum memperhatikan Zhoya yang sedang menatap fotonya di langit-langit kamar, "Aku sengaja menyuruh orang untuk menempel foto kamu disana. Biar nanti sewaktu-waktu aku nginep disini, aku bisa terus memandangi kamu."
"Hmm... sejak kapan jadi raja gombal?" ucap Zhoya dengan nada dingin.
"Sejak saat ini, aku akan memberikan banyak kata yang bisa membuat hati kamu berbunga-bunga." Morgan tiduran dengan posisi menghadap Zhoya.
Zhoya hanya menghela nafas, sekuat hati dia tidak ingin luluh pada Morgan, walaupun memang ternyata ucapan Morgan benar bahwa ternyata anaknya Disha bukanlah anaknya Morgan.
Lalu mengapa Darwin tau sekali tentang mereka? Hati Zhoya masih bertanya-tanya.
"Zhoy."
"Hm?" Zhoya masih menatap langit-langit, dia enggan untuk menatap Morgan.
"Siapa yang bilang kalau anaknya Disha itu adalah anakku?"
Zhoya diam, dia tidak tau apa dia harus bilang kalau orang yang memberitahu semua itu adalah Darwin.
"Aku merasa aneh, mengapa dia bisa tau hubungan aku dengan Disha, bahkan mengira aku punya anak darinya."
Zhoya rasa lebih baik dia jujur saja pada Morgan. "Kak Darwin."
"Darwin?" Morgan mengerutkan keningnya. Dia tidak menyangka Darwin akan menyelidiki masa lalu dia bersama Disha sampai sejauh itu, apa karena Darwin ingin merebut Zhoya darinya.
"Lalu siapa yang kamu percaya?" Tanya Morgan lagi.
Mengapa disaat dia benar-benar sudah menyerah pada Morgan. Morgan malah terus saja mendekatinya? Bahkan sekarang dia bilang mencintainya?
"Aku siap melakukan tes DNA, asalkan kamu jangan pernah pergi dariku. Dan aku harus bertanya ke Darwin apa maksud dia memfitnah aku seperti ini."
"Walaupun ternyata dia bukan anak kak Morgan, bukan berarti aku mau kembali. Aku butuh waktu untuk berfikir."
"Dan selama itu aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi padaku. Aku akan membuat kamu tergila-gila lagi padaku." Morgan mengatakannya dengan penuh percaya diri.
"Hmm... aku tidak yakin bisa jatuh cinta lagi apa tidak."
Morgan melempar guling yang menghalangi mereka, kemudian menarik tengkuk Zhoya sehingga wajah mereka begitu sangat dekat, apalagi jarak kedua bibir mereka sangat dekat sekali. "Apa kamu yakin tidak mencintaiku lagi?"
"Ten-tentu saja." Sejujurnya Zhoya sangat grogi sekali dengan situasi seperti ini. Namun dia tidak boleh luluh begitu saja.
Zhoya ingin menghindar, namun tanpa di duga, Morgan menempel kedua bibir mereka. Membuat kedua tubuh mereka berdesir begitu hebat.
Zhoya sadar dia tidak boleh seperti ini, dia mendorong Morgan agar berjaga jarak dengannya.
"Kak..." Zhoya ingin sekali marah namun dia mendadak kelu, dia hanya menatap tajam pada Morgan.
Morgan malah tersenyum. "Aku akan segera menyelesaikan masalah aku dengan Darwin dan Disha. Dan mulai besok, kita akan tinggal bersama lagi. Ayo kita tinggal bersama selama satu minggu, jika ternyata selama itu aku bisa membuat kamu cinta padaku lagi, aku ingin kita bisa hidup bersama selamanya. Sekarang ini aku sedang mengumpulkan uang untuk bisa lepas dari jeratan Laura. Namun jika selama itu kamu tetap tidak bisa menerima aku, aku akan merelakan kamu pergi, yang penting kamu bahagia, Zhoy."
Zhoya nampak bimbang, dia tidak tau apa dia harus bersedia tinggal bersama Morgan lagi selama satu minggu.
"Hanya satu minggu, jika seandainya kamu memang tidak bisa kembali padaku. Setidaknya aku memiliki kenangan indah bersama kamu, Zhoy. Kamu mau kan? Ini permintaan terakhir aku."