Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Delapan Puluh Lima


Diwaktu yang bersamaan, Zhoya tiba lebih awal di rumah, restorannya begitu sepi pengunjung terkena imbas dari skandal Morgan, malah ada beberapa pengunjung yang datang kesana malah kepo dengan rumah tangga Morgan dan Zhoya. Makanya dia pulang cepat, sebagai seorang istri tentunya dia harus memberikan pelayanan yang baik untuk Morgan, selama Morgan masih menjadi suaminya. Apalagi saat ini Morgan sangat membutuhkan dukungan darinya.


Hari ini dia memasak banyak makanan, pastinya semua masakan kesukaan Morgan, setelah menikah dengan Morgan, Zhoya gadis yang manja kini bisa menjadi gadis yang mandiri, dulu dia tidak bisa memasak sama sekali sekarang dia bisa memasak, dulu dia yang bersikap kekanak-kanakan kini dia bisa bersikap dewasa. Mungkin karena dia tinggal dengan Morgan yang dari dulu kehidupannya sangat keras.


Setelah memasak, Zhoya duduk di kursi sofa, dia teringat dengan Morgan, padahal sudah mulai sore Morgan belum pulang juga.


Zhoya rasa lebih baik dia mengirim pesan pada Morgan.


[Kak, hari ini aku memasak rendang sapi, makanan kesukaan kakak. Aku tunggu di rumah.]


Zhoya melihat pesan yang dia kirim hanya centang satu, itu artinya ponsel Morgan sedang tidak aktif, membuat Zhoya mecemaskannya, tidak biasanya Morgan menonaktifkan ponselnya.


"Tumben kak Morgan menonaktifkan ponselnya?" Zhoya harap Morgan baik-baik saja.


Namun karena perasaannya tidak enak, Zhoya rasa lebih baik dia pergi ke rumah orang tuanya Morgan, siapa tau Morgan berasa disana.


Begitu Zhoya keluar dari rumah, dia terkejut saat melihat Albert, bodyguardnya sang Daddy berada disana.


"Nona!" sapa Albert, dia ditemani oleh tiga bodyguard dibelakangnya.


"Albert? Kenapa kamu ada disini?" Zhoya merasa tidak enak hati, mengapa Daddynya menyuruh Albert datang ke Indonesia.


Zhoya teringat dengan pembicaraannya kemarin saat Daddy Roy menyuruh Zhoya untuk pulang ke Amerika, Daddy Roy tidak terima jika putri kesayangannya harus menderita karena Morgan, apalagi skandal tentang Morgan itu sudah tersebar luas. Padahal Zhoya sudah bilang pada Daddy Roy kalau dia baik-baik saja dan tidak ingin berpisah dengan Morgan.


"Nona harus ikut pulang bersama kami, dan masalah perceraian biar nanti Tuan Roy mengirim pengacara untuk mengurus perceraian Nona dengan suami Nona."


Zhoya tercengang mendengarnya, "Gak, aku gak mau pergi. Katakan pada Daddy aku gak akan bercerai dengan kak Morgan."


"Tidak bisa Nona, anda harus ikut kami sekarang ini juga." Namun Albert teguh pada pendiriannya.


Zhoya segera menelepon Daddynya, dia harus bilang pada Daddynya kalau dia baik-baik saja dan tidak akan meninggalkan Morgan. "Hallo Dad..."


Daddy Roy memotong pembicaraan Zhoya. "Zhoy, sekerang ini juga kamu harus pulang ke Amerika, Daddy gak mau kamu hidup menderita dan penuh tekanan disana."


"Gak Dad, Zhoya gak mau. Zhoya mau tetap disini bersama kak Morgan. Zhoya..."


Namun Daddy Roy tidak ingin mendengarkan protes dari Zhoya, dia mematikan telepon, kemudian dia menelepon Albert.


"Hallo, Daddy..." Zhoya merasa frustasi karna tidak bisa menelepon kembali Daddynya. "Daddy!"


Albert mendapatkan telepon dari Tuannya, lewat headset yang dia pakai. Dia segera mengangkatnya.


"Hallo, Tuan."


"Cepat bawa Zhoya pulang, kalau tidak bisa secara halus, secara paksa saja, tapi ingat jangan sampai Zhoyaku terluka sedikit pun."


Zhoya tidak tau apa yang dibicarakan Daddynya dan Albert, karena Albert berteleponan dengan Zhoya menggunakan headset.


Zhoya rasa lebih baik dia pergi dari sana, dia harus bertemu dengan Morgan, namun Albert menahannya, Zhoya ingin berontak, namun sayangnya Albert berhasil membungkam mulut Zhoya dengan sapu tangan yang mengandung bius. "Emmh...emhhh..."


Karena bius itu Zhoya hampir saja terjatuh tak sadarkan diri.


Albert segera menahan tubuh Zhoya, dia menggendong Zhoya membawanya ke dalam mobil, diikuti oleh para bodyguard lainnya. Kebetulan pesawat pribadi milik keluarga Zhoya sudah standby di Bandara.


...****************...


Darwin sudah tiba di Indonesia, dia mencoba mencari keberadaan Shiva dan Disha, dia sangat merasa bersalah pada mereka karena sudah membuat mereka menderita lagi. Apalagi disini, Morgan yang telah banyak dibuat rugi olehnya padahal Morgan tidak memiliki salah apa-apa.


Darwin datang ke lokasi tempat kontrakan Disha, dia tidak tau Disha tinggal di rumah sebelah mana karena disana ada beberapa rumah kontrakan berpetak.


Darwin bertanya kepada seorang ibu-ibu yang kebetulan berjualan sembako disekitar sana, "Maaf Bu, boleh saya bertanya?"


"Tanya apa ya mas?" tanya ibu warung itu.


"Rumah Disha yang mana ya?"


Ibu warung itu malah mencibir, "Oh wanita murahan itu, dia sudah pergi Mas. Padahal tadinya kami disini ingin mengusirnya, bagaimana bisa kami bertetanggaan dengan wanita seperti itu, hamil di luar nikah, wanita gak benar bekas wanita penghibur di bar, dan sekarang merusak rumah tangga orang."


Darwin terperangah mendengarnya, dia sangat terpukul, lagi-lagi dia menjadi pria brengsek untuk Disha.


"Aku lihat dia dibawa oleh seorang gadis cantik, gadis itu masih muda sekali." sambung ibu warung itu.


"Boleh tau ciri-ciri gadis itu?"


Ibu warung itu berpikir sejenak, "Emm.... agak mirip sama istrinya Morgan Xavier. Tapi masa sih istrinya Morgan Xavier mau berhubungan dengan mantan kekasih suaminya?"


Darwin segera pergi dari sana, dia masuk ke dalam mobilnya. Apa mungkin Zhoya yang membawa Disha dan Shiva?


Darwin mencoba menelepon Zhoya, namun ponselnya tidak aktif. Membuat Darwin frustasi.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada yang mengirim pesan padanya, dia segera membaca pesan begitu melihat siapa yang mengirim pesan padanya. Rupanya dari Om Roy.


[Om akan mempercepat perceraian Zhoya dan Morgan, setelah mereka bercerai kamu boleh menikahi Zhoya. Om rasa kamu pria yang sangat tepat untuk Zhoya.]


Darwin menyandarkan punggungnya ke jok mobil, hatinya menjadi bimbang, bukan kah itu yang dia harapkan? Dia ingin sekali Zhoya menjadi miliknya, gadis yang dia cintai begitu lama, cinta pertamanya.


Namun bagaimana dengan nasib Morgan yang karirnya hancur karena kecerobohannya? Bagaimana nasib Disha yang kini di cap wanita tidak benar karena memiliki anak tanpa ikatan pernikahan? Bagaimana nasib Shiva yang selama ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah malah sekarang anak sekecil itu harus mendapatkan hinaan?