
"Aku..." Morgan mengigit bibir bawahnya sebentar, dia menghela nafas, dia terlihat bimbang harus menjawab apa pertanyaan dari Zhoya.
Sementara Zhoya, dia memilih diam, menunggu jawaban dari Morgan.
"Aku tidak tau, sejujurnya aku saat ini tidak tau dihatiku ada siapa." Terkadang kenangan dia dengan Disha terlintas dipikiran Morgan, dia sangat penasaran mengapa Disha tega meninggalkannya begitu saja. Terkadang dia juga merasakan perasaan aneh pada Zhoya.
Morgan tidak mungkin bilang iya aku mencintaimu, sementara dia belum yakin dengan perasannya. Dia bukan pria yang gampang berkata cinta kepada seorang wanita.
Apalagi dia tidak mungkin mencintai dua wanita dalam waktu bersamaan, dia bukan tipe pria memainkan perasaan wanita.
Walaupun dia dulu seorang casanova, dia hanya menikmati tubuh wanita tanpa berkata cinta, hanya untuk bersenang-senang saja, melampiaskan kekesalan dan rasa kesepiannya.
Morgan memegang tangan Zhoya, "Bisa kah kamu memberi aku waktu untuk memahami perasaan aku?" Morgan menatap Zhoya dengan tatapan sendu.
Zhoya melepaskan tangan Morgan, dia rasa mungkin itu hanyalah alasan Morgan saja, mungkin Morgan sebenarnya tidak memiliki rasa sedikit saja padanya.
Hatinya sungguh perih, ingin sekali dia menangis, namun Zhoya berusaha keras agar dia tidak menangis di depan Morgan.
Zhoya pura-pura tersenyum, "Hmm... ini sudah jam 8, kak Morgan harus segera pergi ke kota B."
Morgan masih tidak enak hati pada Zhoya, dia ingin berkata sesuatu namun bibirnya mendadak kelu, "Zhoy..."
Zhoya malah membantu Morgan untuk berdiri, dia tidak ingin Morgan mendapatkan masalah gara-gara telat ke lokasi syuting. "Udah, lebih baik kak Morgan cepat pergi. Kasihan lho mereka yang menunggu kak Morgan disana, kak Morgan harus profesional dengan pekerjaan kak Morgan." Zhoya pura-pura terlihat ceria.
Morgan mengangguk pelan, "Ya udah, aku berangkat dulu. Jaga diri kamu baik-baik."
"Iya, kak."
Morgan maju dua langkah, sebenarnya dia ingin mencium kening Zhoya, namun dia nampak ragu untuk melakukannya, dia malah memilih mengacak-acak rambut Zhoya. "Good bye, Zhoy!"
Tumben Morgan tidak memanggilnya si bocil, namun tetap saja perlakuan Morgan tidak bisa menyembuhkan hati Zhoya.
...****************...
Di dalam pesawat, Morgan memandangi awan di balik jendela. Tatapan begitu kosong, dia menghela nafas, dia takut membuat Zhoya kecewa, namun dia juga tidak bisa bilang cinta jika dia sendiri belum yakin dengan perasannya.
Morgan menyesali kebodohannya, mungkin karena dari dulu dia terbiasa menggunakan tanggal lahir Disha sebagai pasword apapun yang penting untuknya, makanya dia tidak sempat untuk mengganti pasword rumahnya.
Morgan harap Zhoya tidak terluka dengan masalah pasword rumah itu.
Di rumah, Zhoya tak bisa membendung air matanya, sepertinya dia sama sekali tidak ada artinya untuk Morgan, hatinya sangat sakit.
Sepertinya memang tidak ada celah sedikit pun untuk Zhoya agar bisa memasuki hati Morgan, mungkin Morgan sendiri yang tidak bisa melupakan masa lalunya, walaupun dia tidak tau siapa mantan pacarnya Morgan.
Zhoya menangis terisak-isak, ternyata mencintai sendirian itu rasanya menyakitkan, sangat menyakitkan.
Drrrrt... Drrrrt...
Zhoya mendengar ponselnya bergetar, rupanya ada telepon dari Mom Kia.
Zhoya menghapus air matanya, dia menghirup nafas dalam-dalam. Agar tidak ketahuan dirinya sudah menangis.
Kemudian Zhoya mengangkat telepon dari mommy tercinta. "Hallo Mom."
"Mommy kangen sama kamu, tapi sayang sekali pekerjaan mommy masih banyak, belum bisa datang ke Indonesia."
"Gak apa-apa Mom, lagian aku disini baik-baik saja kok."
"Benaran? Kok suara kamu serak begitu? Are you okay?"
"I'm okay, Mom." Namun Zhoya tak dapat membendung tangisannya, dia tiba-tiba terisak, mungkin karena hatinya begitu sakit.
"Zhoy, kenapa kamu menangis? Apa Morgan menyakitimu?"
Zhoya langsung menghapus air matanya, dia memaki-maki dirinya sendiri mengapa dia harus begitu cengeng. "Nggak Mom, aku nangis karena sangat merindukan Mommy dan Daddy."
"Mommy juga rindu padamu, sayang."
"Iya, Mom."
"Bagaimana mertua kamu? Apa mereka memperlakukan kamu dengan baik?"
Zhoya tidak mungkin berkata jujur dengan perlakuan Pak Gara padanya, "Tentu saja, mereka sangat baik."
"Syukurlah, Mommy sangat lega mendengarnya. Mommy tidak akan membiarkan anak mommy berada di dalam kesusahan, apalagi hidup menderita."
Zhoya yang dulu begitu manja, sekarang setelah hidup dengan Morgan yang kehidupannya begitu rumit, membuat dia mulai bisa bersikap dewasa. Mungkin karena keadaan lah yang membuatnya harus bisa bersikap dewasa.