Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Empat Puluh Satu


Mana ada lelaki yang terima disuruh berhenti sementara sang jantan sudah masuk seperempatnya. Dia merasa dipermainkan oleh di bocil itu. Padahal dia sendiri yang memintanya.


"Tahan sebentar, nanti juga kamu akan menikmatinya."


"Tapi kak...arrrggghhh!"


Morgan menghentak miliknya sampai dirinya merasakan linu karena telah berhasil merobek penghalang di dalam sana.


"Arrrggghhh... sakit banget kak!"


Padahal Morgan sudah memperingatkan Zhoya, jika diatas ranjang Morgan tidak akan bisa bersikap lembut, apalagi dia sudah lama berpuasa, naluri casanovanya telah bangkit kembali, dia tidak akan bisa berhenti sampai merasa puas.


Zhoya memukul-mukul dada Morgan, "Arrrggghhh kak, lepas, sakit banget!"


Morgan sudah dikuasai naf-su, pria itu semakin menekan lebih dalam sampai miliknya berhasil masuk sepenuhnya memenuhi area inti Zhoya.


"Arrrggghhh kak!" Zhoya menjerit merasakan perihnya dibawah sana.


Morgan mendiamkan miliknya di dalam sana, dia tidak ingin langsung menggerakkannya, agar Zhoya terbiasa dulu dengan keberadaan sang jantan yang di area inti Zhoya.


"Aahhh... Zhoya!" Morgan mengerang dengan penuh kenikmatan, saat miliknya merasakan area inti Zhoya berdenyut-denyut meremas sang jantan. Dia tidak tau rasanya akan senikmat ini.


Morgan menciumi wajah Zhoya, dia menghapus air mata Zhoya, "Maafkan aku, pasti sakit banget ya."


Zhoya tidak langsung menjawab karena dia merasakan rasa sakit itu perlahan-lahan mulai hilang, "Sekarang sudah tidak sesakit tadi."


Morgan tersenyum, dia mengusap keringat di dahi Zhoya, dia mencium bibir Zhoya, mereka saling menautkan bibir dengan penuh rasa damba sehingga hawa naf-su mengusai mereka, Morgan menenggelamkan kepalanya dia ceruk leher Zhoya, menciumi leher Zhoya sambil menggerakkan punggulnya dengan pelan.


Zhoya memeluk punggung Morgan, rasa sakit itu kini berubah menjadi rasa nikmat, mungkin bisa dibilang lebih dari nikmat. Pergerakan Morgan dibawah sana membuat Zhoya mengangga, menengadahkan kepalanya ke atas, kemudian menekan kepala Morgan yang sedang menghisap lehernya.


Morgan mulai menaikan tempo kecepatan gerakan pinggulnya, dia sungguh kehilangan akal, rasanya begitu memabukkan, sangat berbeda dengan wanita-wanita yang pernah tidur dengannya, sampai dia terus mengerang hebat. "Ahhh... nikmat sekali, Zhoya!"


"Ahhh... kak... aku mau keluar." Zhoya merasakan pelepasan keduanya, dia mencengkram kepala Morgan yang sedang asik melahap buah dadanya.


"Keluarkan saja!" Morgan menghantam lebih dalam lagi, dia menghisap pu ting Zhoya, sambil terus bergerak dengan begitu gagah.


Mereka berciuman kembali, Zhoya mulai mencoba ikut bergerak mengimbangi pergerakan Morgan, sampai keringat bercucuran membahasi tubuh mereka.


Malam ini entah berapa kali mereka melakukannya sampai tubuh Zhoya terasa lemas karena Morgan berhasil membuatnya basah lagi dan lagi membuat tenaga Zhoya terkuras, tapi pria diatasnya itu masih enggan untuk berhenti, mungkin karena sudah lama berpuasa, dia tidak ingin mengakhirinya sampai dia benar-benar merasa puas.


"Kak, aku ngantuk."


"Kamu tidur saja, aku masih belum puas."


Bagaimana bisa tidur sementara pria itu terus bergerak diatasnya, menghantamkan jantannya terus menerus, Zhoya hanya bisa pasrah dia memeluk pria itu membiarkan Morgan bergerak sesuka hatinya.


...****************...


Paginya...


Zhoya terbangun dari tidurnya, tangannya meraba-raba ke samping mencari keberadaan Morgan, namun rupanya Morgan sudah tidak ada disana.


Zhoya terduduk dia atas kasur, dia tersenyum memikirkan dengan apa yang terjadi semalam, itu akan menjadi kenangan indah untuknya jika nanti dia berpisah dengan Morgan.


"Kemana dia?" Zhoya celinguk-celinguk mencari keberadaan Morgan, dia meraih barthrobe untuk menutupi tubuhnya.


Zhoya baru sadar kalau Morgan akan pergi ke kota B pagi-pagi sekali, namun dia merasakan kesakitan diarea intinya membuat dia kesulitan untuk berjalan.


"Shhh...ahhh." Zhoya meringis. "Berapa ronde kak Morgan melakukannya sampai aku merasa perih begini?" Zhoya tak dapat menghitungnya karena semalam dia tertidur, sementara Morgan masih menjamah tubuhnya.


Zhoya berjalan dengan pelan dan hati-hati keluar dari kamar, dia kaget saat melihat ada seorang wanita sedang menyiapkan sarapan untuknya.


"Saya bik Nani, ART dari rumah utama, terkadang Tuan Morgan suka menyuruh saya datang ke rumah untuk membereskan rumah. Tuan bilang Nona pagi ini pasti kelelahan, makanya saya disuruh untuk membantu Nona." Bik Nani memperkenalkan dirinya pada Zhoya.


Bik Nani sudah lama bekerja menjadi ART di keluarga Xavier, dari Morgan masih kecil.


"Kebetulan hari ini saya memasak kesukaan Nona, Tuan bilang Nona Zhoya suka sekali dengan udang. Hari ini saya memasak udang saus tiram."


Zhoya pasti sangat lapar karena semalam tenaganya habis terkuras, dia duduk di meja makan itu. Dia tersenyum, ternyata Morgan tau makanan kesukaannya. "Lalu kak Morgan kemana bik?"


"Kebetulan Tuan Morgan sudah berangkat ke kota B, satu jam yang lalu Nona."


Selera makan Zhoya menjadi hilang, setidaknya dia ingin melihat Morgan sebelum berangkat ke kota B karena mereka tidak akan bertemu dulu selama Morgan syuting disana, Morgan pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya.


Ingat Zhoya, setelah ini kamu jangan pernah mengharapkan dia lagi.


Zhoya memperingatkan dirinya sendiri, walaupun sebenarnya hatinya terluka.


Sementara itu...


Di dalam mobil, Morgan berangkat di jemput oleh Boy, mereka harus berangkat pagi-pagi sekali, tadinya Morgan ingin membangunkan Zhoya untuk berpamitan padanya, tapi dia tidak tega melihatnya, Zhoya pasti sangat kelelahan karena ulahnya.


Morgan ingin mengirim pesan pada Zhoya.


[Aku minta maaf tidak sempat berpamitan, hari ini aku terburu-buru sekali, apa kamu sudah bangun? Kamu harus makan yang banyak biar_


Morgan menghapus pesan itu, dia tidak jadi mengirimkannya pada Zhoya, yang ada seakan dia memberi harapan pada Zhoya padahal Zhoya bilang mulai besok Zhoya akan berusaha membuang perasaan cinta untuknya. Bukanlah itu yang diinginkan Morgan?