
"Aku diperkosa waktu itu, Morgan." Disha mempertegas perkataannya sambil menangis.
Hati Morgan bergetar mendengarnya, wanita yang waktu dulu pernah dia cintai, wanita yang selalu setia menemani hari-harinya, ternyata dia pernah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan. Membuat mata Morgan berkaca-kaca, dia ikut terpukul mendengarnya.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku? Seharusnya kamu dulu cerita!" Ucap Morgan dengan sedikit meninggikan volume suaranya.
"Karena aku merasa tidak pantas buat kamu, aku takut menjadi beban kamu. Aku tidak ingin karir kamu hancur gara-gara aku."
"Tapi nyatanya hidup aku memang hancur waktu itu. Padahal dulu kamu tau bagaimana besarnya cinta aku, Sha."
Disha semakin menangis tersedu-sedu, beruntung Shiva tidak terbangun dari tidurnya, "Karena itu aku sangat menyesali keputusan aku. Saat itu aku merasa hidup aku benar-benar hancur, namun rupanya aku tidak bisa melupakan kamu."
Morgan menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes, membayangkan bagaimana menderitanya Disha selama ini, dan dia merasa gagal menjadi kekasih Disha karena tidak bisa menjaganya dengan baik. "Siapa yang yang melakukannya, Sha?"
Disha malah mengelengkan kepala, dia tidak ingin Morgan tau kalau Darwin adalah ayahnya Shiva, dia tidak ingin siapapun tau tentang kenyataan itu. Karena bagi dia Shiva tidak memiliki seorang ayah.
"Kamu benar-benar tidak tau, Sha? Aku akan menjebloskanya ke penjara!"
"Aku sudah melupakan kejadian mengerikan itu. Kehadiran Shiva sudah mengobati keterpurukan aku. Aku juga tau pernikahan kamu dengan istri kamu hanya sementara, bisa kah kita kembali seperti dulu?"
Morgan terdiam sejenak, kemudian dia memberanikan diri menatap Disha, "Saat kamu pergi meninggalkan aku, hidup aku sangat hancur. Aku menjadi pria brengsek. Namun aku tidak bisa menyalahkan kamu. Mungkin karena aku adalah pria yang lemah sampai harus melampiaskan kekesalan aku. Tapi sekarang hatiku aku sudah menjadi milik orang lain, aku tidak ingin kehilangan orang yang berarti di dalam hidup aku untuk kedua kalinya."
Morgan menjadi merasa bersalah pada Disha, "Maafkan aku, Sha. Jika akhirnya aku harus membuat hatimu sakit. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Tapi aku tidak ingin kehilangan dia."
"Aku mengerti, kisah kita sudah lama. Itu semua bukan salah kamu. Kamu gak salah. Aku yang meninggalkan kamu, maafkan aku." Seandainya waktu itu Disha bicara tentang apa yang telah dia alami pada Morgan, mungkin ceritanya akan berbeda, mungkin sekarang dia sudah hidup bahagia bersama Morgan dan Shiva. Namun saat itu dia benar-benar terpuruk dan putus asa dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Morgan memang merasa terpukul dengan apa yang telah dialami Disha, namun dia tidak bisa menerima Disha kembali hanya karena merasa iba dan bersalah. Apalagi sekarang dia tidak merasakan apapun saat bersama Disha. Dia menyadari rasa cintanya untuk Disha sudah tidak ada, yang tersisa hanyalah rasa penasaran mengapa Disha meninggalkan dirinya. Zhoya telah berhasil masuk ke relung hatinya yang paling dalam, entah sejak kapan.
"Jika nanti kamu sudah siap untuk bercerita tentang siapa pria brengsek yang tega berbuat jahat padamu itu, tolong beritahu aku. Aku akan membuat perhitungan padanya. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu untuk terakhir kalinya." Morgan tidak bisa dekat dengan Disha lagi walaupun hanya sekedar berteman, karena ada hati yang harus dia jaga. Dia tidak ingin melukai Zhoya lagi. Hubungan dia dengan Disha hanyalah masa lalu, dia harus kubur dalam-dalam semua tentang masa lalunya bersama Disha.
Karena itu Morgan pasti akan mencari tau siapa ayahnya Shiva, pria itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Disha. Hanya itu yang bisa Morgan lakukan untuk mantan terindahnya.
Disha pun keluar dari mobil Morgan, dia menatap mobil Morgan yang melanju meninggalkan dirinya. Disha masuk ke dalam rumah kontrakannya, dia membaringkan Shiva ke atas kasur, kemudian menyelimuti tubuhnya.
Disha terduduk di sudut kamar, memeluk lututnya, tangisannya pecah, membuat dia terpaksa harus menutup mulutnya agar Shiva tidak mendengar tangisannya.
Kisahnya dengan Morgan telah usai. Dia harus merelakan Morgan pergi mengejar cintanya. Baginya yang penting bisa melihat Morgan bahagia, dia bisa tenang dan tidak merasa bersalah lagi karena telah meninggakannya.
Cinta memang tak harus memiliki.