
Berbeda dengan Morgan dan Zhoya, pagi ini mereka sedang menikmati sarapan pagi mereka. Masakan Morgan memang tidak diragukan lagi, begitu lezat di lidah.
Zhoya tak bisa berhenti tersenyum, hatinya sungguh berbunga-bunga, dia sama sekali tidak menyangka Morgan akan memperlakukannya dengan manis pagi ini.
"Aku akan naik pesawat aja, makanya aku bisa masak dulu buat kamu, makan bareng kamu juga." ucap Morgan, sambil mengunyah makanannya.
"Maafkan aku..."
"Kenapa?"
"Harusnya aku yang masak." Zhoya menghela nafas, karena dia malah bangun kesiangan, mungkin gara-gara kelelahan semalam Morgan menggempurnya terus menerus.
Namun Zhoya merasa sepertinya Morgan enggan ingin membahas soal semalam, makanya dia bersikap seperti biasanya pada Zhoya, malah memanggilnya bocil, padahal selama dua kali mereka bercinta Morgan selalu memanggilnya Zhoya.
"Bocil..."
Kata itu mengagetkan lamunan Zhoya.
"Kenapa kak?"
"Kapan grand opening Restoran Tirai Bambu?"
"Dua hari lagi, semua karyawan akan hadir disana nanti. Apa kak Morgan bisa hadir?"
"Aku gak tau, tapi akan aku usahakan, kalaupun aku gak bisa hadir, aku minta maaf."
"Hm... ya gak apa-apa, kalau kak Morgan sibuk jangan terlalu memaksakan untuk datang, aku ngerti kok."
Morgan tak ingin salah menafsirkan perasaannya, dia bukan tipe pria yang gampang bilang cinta, dia akan bilang itu jika dia benar-benar yakin dengan perasaannya.
Namun rasanya tidak mungkin dia bisa mencintai wanita yang sudah dia anggap adiknya sendiri. Walaupun dia sadar dia telah bercinta dengannya, dia rasa itu wajar karena Zhoya adalah istrinya. Makanya dia harus mempersiapkan diri jika nanti ayah mertuanya tau soal ini, dia telah mengingkari janjinya untuk tidak menyentuh Zhoya, namun dia tidak bisa berhenti sampai disini saja, tubuh wanita itu begitu candu untuknya.
"Kak..."
"Hm?"
"Aku minta maaf sudah mengganti password rumah tanpa bilang dulu sama kakak."
"Oh tidak apa-apa, cuma lain kali harus kasih tau aku, semalam aku hampir frustasi gak bisa masuk ke rumah, aku kira kamu sudah tidur."
"Emm... tapi ngomong-ngomong 140796 itu tanggal lahir siapa kak?" Zhoya baru ingat dengan pasword kunci rumah Morgan yang dulu, sebelum Zhoya menggantinya dengan tanggal pernikahan mereka, 111222.
Morgan berhenti makannya begitu dia menyadari kalau pasword rumahnya yang dulu adalah tanggal kelahiran Disha.
"Tahunnya sama dengan kak Morgan 1996, cuma tanggal dan bulannya beda." Zhoya mengatakan itu dengan begitu polosnya, dia sama sekali belum kepikiran tentang mantannya Morgan.
Morgan tidak mungkin bilang kalau pasword rumahnya yang dulu adalah tanggal lahir mantannya, untuk menghargai perasaan Zhoya, dia memakai pasword itu dari dulu, dari saat Morgan membeli rumah ini, jauh sebelum dia menikah dengan Zhoya. "Emm... aku memasukkan pasword secara ngasal." Morgan terpaksa berbohong.
"Oh gitu," Namun rasanya Zhoya tak percaya, bukannya sebuah pasword itu biasanya sesuatu yang sangat penting dan hal yang selalu diingat, namun dia mencoba untuk mempercayai Morgan.
"Hmm... 140796, itu mirip sekali dengan karyawan yang baru kemarin aku terima sebagai chef direstoran, tanggal lahirnya sama, tanggal 14, bulan Juli, tahun 1996." Zhoya mengatakannya dengan begitu lugu, dia hanya menganggap itu sebuah kebetulan.
"Benarkah? Siapa namanya?" Morgan jadi penasaran dengan cerita Zhoya itu.