
Setelah melakukan jumpa pers, Morgan memutuskan untuk segera pergi ke Amerika untuk menjemput Zhoya.
Saat ini dia sedang berada di pesawat, butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke Amerika, rasanya dia begitu gugup harus bertemu dengan mertuanya, namun dia harus berani. Dia harus meyakinkan mereka kalau dia bisa menjadi suami yang baik untuk Zhoya.
Morgan memandangi foto Zhoya di ponselnya, rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Kalau bisa ingin mengurungnya seharian di kamar untuk melampiaskan rasa rindunya, namun tetap saja itu tidak mudah, karena dia harus mendapatkan restu dari ayah mertuanya dulu.
"Zhoy, tunggu aku, sebentar lagi kita bertemu. Aku sangat merindukanmu."
Morgan mengusap wajah Zhoya di layar ponselnya, dia teramat sangat merindukannya. Rasa rindu yang begitu dalam.
Sementara itu di Amerika...
Daddy Roy beberapa kali menonton ulang acara jumpa pers di scene saat Morgan mengatakan kalau Zhoya adalah hal yang terpenting untuk dirinya. Sesuatu yang jarang sekali dilakukan oleh pria di muka umum, apalagi Morgan adalah seorang publik figur.
"Nonton apa, dad?" suara sang istri mengagetkannya.
Daddy Roy segera menutup laptopnya, dia harap istrinya tidak melihat apa yang dia tonton di laptopnya. "Oh nggak, aku hanya iseng melihat youtube."
"Mending kita makan yuk, Zhoya yang masak lho." ajak Mom Kia.
Daddy Roy membulatkan matanya, seakan tidak mempercayai apa yang dia dengar. "Zhoya yang masak? Emang Zhoya bisa masak?"
"Aku juga kaget tadi melihat Zhoya lagi memasak di dapur. Tapi pas aku cicipi masakannya, enak lho. Katanya belajar dari Morgan."
"Ah gitu." Daddy Roy mengatakannya dengan nada datar.
"Anak kita sudah dewasa lho, dad. Zhoya berhak menentukan hidupnya sendiri, dulu papa dan mamaku tau kamu seorang aktor tapi mereka merestui hubungan kita, karena apa? Karena mereka percaya sama kamu kalau kamu pria yang baik. Gak semua aktor berperilaku negatif, contohnya kamu. Ya walaupun Morgan mungkin memiliki masa lalu yang kelam, tapi yang harus kita lihat itu sekarang, bukan masa lalu. Gak seharusnya kita memisahkan dua orang yang saling mencintai, apalagi mereka sudah menikah lho."
Daddy Roy hanya diam, dia tidak menanggapi ucapan sangat istri. Kemudian dia segera keluar dari kamar, ingin mencoba mencicipi masakan Zhoya, seumur hidup dia tidak pernah melihat Zhoya masak, bahkan masak airpun tidak bisa.
Mom Kia mengikuti sang suami masuk ke dalam lift, setelah berada di lantai bawah mereka keluar dari lift, lalu pergi ke ruang makan.
Mereka melihat Zhoya nampak sumringah, siapa yang tidak bahagia begitu melihat pernyataan cinta dari sang suami di muka umum, rupanya Mom Kia sudah memperlihatkan acara jumpa pers itu padanya.
Makanya sekarang ini hati Zhoya berbunga-bunga, dia merasa wanita yang paling beruntung dan bahagia di dunia ini. Sejujurnya dia sangat merindukan Morgan, tapi dengan melawan sang daddy bukanlah sebuah solusi, dia memilih mengambil hati sang daddy secara pelan, dia yakin suatu saat Daddy Roy pasti akan luluh jika dia banyak bercerita tentang Morgan.
Mom Kia dan Daddy Roy duduk di meja makan, begitu juga Zhoya.
Daddy Roy masih memperlihatkan ekspresi dinginnya, "Kamu yang masak, Zhoy?"
Daddy Roy nampak ragu, seumur hidup Zhoya gak pernah masak, makanya dia akan pasrah jika setelah ini dia tiba-tiba dibawa lari ke rumah sakit.
Daddy Roy menganggukkan kepala. Dia mencoba memasukkan masakan Zhoya ke dalam mulutnya dengan menggunakan sendok, sampai tangannya bergetar, begitu makanan itu berhasil mendarat di mulutnya, dia membulatkan mata, masakan Zhoya seakan membawanya terbang, begitu lezat.
"Yakin kamu yang masak?" tanya Daddy Roy lagi, rasanya tidak percaya Zhoya bisa memasak makanan selezat ini.
"Iya lah dad, Zhoya bukan Zhoya yang manja lagi. Zhoya bisa masak, kak Morgan yang ngajarin."
Daddy Roy tidak menanggapi, dia lebih memilih memakan masakan Zhoya dengan lahap. Mom Kia hanya tersenyum, dia ikut makan juga.
"Hm.... Morgan hebat, bahkan daddymu saja yang pengusaha restoran tidak bisa memasak, Zhoy." Mom Kia malah meledak suaminya.
"Lho bukannya dulu aku pernah memasak untukmu." Daddy Roy tidak terima ledekan dari istrinya.
"Oh iya Mommy lupa, Daddymu pernah masakin Mommy mie rebus, Zhoy." cerita Mom sambil terkekeh.
Kemudian Zhoya dan Mom Kia saling nyengir kuda. Namun Zhoya tiba-tiba merasa perutnya tidak enak lagi, dia merasakan mual, Zhoya menutup mulutnya dengan tangan, dia segera berlari ke dapur menuju wastafel.
"Zhoya kenapa, sayang?" tanya Daddy Roy pada istrinya.
"Gak tau, kayaknya dia mual gitu." Mom Kia segera menyusul Zhoya ke dapur untuk memastikan Zhoya baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja kan, Zhoy?" tanya sang Mommy.
"Gak tau, Mom. Aku sudah beberapa kali muntah. Perut aku gak enak."
"Ya udah kamu istirahat aja, biar Mommy suruh Dokter Micky datang kesini." Mom Kia tidak mungkin mencurigai Zhoya hamil karena dia mengira Zhoya dan Morgan tidak pernah berhubungan badan, sesuai perjanjian Morgan dengan suaminya.
"Gak usah, Mom. Sekarang udah agak enakan kok."
Rupanya Daddy Roy juga ikut pergi ke dapur, dia paling tidak bisa melihat anak kesayangannya sakit. "Biar Daddy yang panggil Dokter Micky, mungkin kamu masuk angin gara-gara kemarin naik pesawat."
Namun ada berita yang mengejutkan, begitu Dokter Micky telah sampai ke mansion dan memeriksa kondisi Zhoya dikamarnya, pastinya ditemani oleh kedua orang tuanya.
Dokter Micky nampak berseri, dia mengulurkan tangannya pada Daddy Roy, "Congratulations Mr. Roy, you will soon be a grandfather."