
Pak Ansel berjalan ke arah belakang rumah, dia memilih untuk berbicara dengan Morgan di tempat yang sepi, dia berdiri di depan kolam renang yang lumayan luas, lalu mengangkat telepon dari Morgan.
"Hallo!"
Morgan belum sempat memakai baju, hanya memakai celana panjang saja, dia duduk di pinggir ranjang sambil memeluk Zhoya dari belakang.
"Hallo, Pak Ansel, ini dengan Morgan Xavier. Saya dengar CSTV ingin bekerjasama dengan saya."
Pak Ansel nampak sumringah mendengarnya, apa itu artinya Morgan akan menerima tawaran kerjasama dari CSTV? "Oh iya benar sekali, apa kamu akan menerima tawaran pekerjaan dari kami?"
Morgan terdiam sejenak, dia mencium pipi Zhoya dulu, sementara Zhoya begitu serius mendengarkan percakapan suaminya dengan Pak Ansel. "Jujur saja sekarang ini banyak sekali yang ingin menawarkan kontrak kerjasama dengan saya baik itu berupa film, sinetron, realiti show, iklan, bukan hanya di Indonesia, di luar negeri pun banyak. Tadinya saya gak ingin mengambil job dulu untuk sementara ini, tapi demi Darwin saya akan mempertimbangkan tawaran kerjasama dari CSTV, dengan satu syarat."
"Apa itu syaratnya?"
"Jangan pernah menyakiti Disha."
Pak Ansel menganga mendengarnya, kemudian dia terkekeh. "Wah seorang Morgan Xavier mengapa masih peduli sekali dengan mantan kekasihnya? Apa kamu masih memiliki perasaan pada mantan kekasihmu itu?"
"Jika anda mengatakan saya peduli tentu saja saya peduli. Namun jika anda mengatakan saya masih memiliki perasaan pada Disha, itu salah besar, saya hanya mencintai istri saya." Morgan mengeratkan pelukannya pada Zhoya.
Sementara Zhoya merasa tersentuh mendengar perkataan suaminya.
"Disha sudah cukup lama menderita, itu semua ulah anak anda. Walaupun sekarang saya tau ternyata Darwin melakukannya diluar kesadarannya. Tapi tetap saja Disha sangat menderita selama ini, dia melahirkan dan membesarkan Shiva seorang diri, karena dia tidak memiliki keluarga untuk menjadikan dia tempat untuk bersandar. Apa anda merasa tidak iba sedikit saja padanya?"
Pak Ansel ingin sekali menjawab pertanyaan dari Morgan, dia merasa kesal karena Morgan malah membahas Shiva. Namun entah mengapa bibirnya mendadak kelu.
"Aku tau sekali Disha wanita seperti apa, dia wanita baik-baik. Disaat aku terpuruk tidak memiliki uang, hanya tinggal di kostan, Disha menerima aku apa adanya, dia tidak pernah memandang harta. Bahkan dia meninggalkan aku karena takut karir aku bermasalah gara-gara dia. Bisa anda bayangkan bagaimana ketulusan hati dari seorang Disha?"
Pak Ansel masih diam, apakah benar Disha sama sekali bukan wanita matre seperti yang dia pikirkan?
"Saya sangat salut pada Darwin, dia pria yang bertanggungjawab, dia ingin menebus semua kesalahannya pada Disha. Dia ingin menjadi orang yang bisa menyembuhkan rasa trauma atas pelecehan yang telah dia lakukan pada Disha. Bahkan sekarang dia bisa mencintai Disha. Apa anda sebagai seorang ayah tidak merasa bangga dengan sikap Darwin yang mau mengakui kesalahannya dan ingin mempertanggungjawabkan kesalahannya? Itu artinya anda sukses mendidik Darwin menjadi pria bertanggungjawab."
"Bukannya kamu ingin bicara padaku tentang pekerjaan bukan?" Pak Ansel merasa keberatan mengapa Morgan seolah-olah sedang mengguruinya.
"Mengapa dalam pekerjaan harus disangkut pautkan dalam urusan pribadi?"
"Karena sejujurnya saya tidak ingin mengambil job dulu dari perusahaan mana pun, tapi karena saya peduli pada Darwin dan Disha, makanya saya akan mempertimbangkannya."
Pak Ansel hanya menghela nafas panjang, mengerutkan keningnya begitu dalam.
"Saya rasa saya harus akhiri percakapan kita, jika saya mendengar anda menyakiti Disha, sampai kapanpun saya tidak akan pernah bekerjasama dengan CSTV."
Klik!
Morgan pun mengakhiri panggilan teleponnya. Dia mengencangkan pelukannya pada Zhoya dari belakang, mencium pundaknya.
Zhoya masih dalam diamnya, hatinya merasa tersentuh begitu mendengar pembicaraan Morgan tentang Disha. "Kak!"
"Kenapa?"
"Jika seandainya dulu kak Darwin tidak melecehkan kak Disha, mungkin sekarang kak Morgan tidak akan putus dengan kak Disha, mungkin kalian hidup bahagia dalam ikatan pernikahan. Mengapa tidak memilih kak Disha? Padahal aku sudah menghindari kak Morgan waktu itu?" Zhoya jadi merasa bersalah pada Disha.
Morgan terdiam sejenak, kemudian dia malah mengacak-acak rambut Zhoya dengan gemas. "Oh jadi kamu gak mau aku memperjuangkan kamu, begitu?"
Zhoya melepaskan tangan Morgan yang sedang mengacak-acak rambutnya, "Bukan, hanya saja..."
"Karena diantara kita hanya masa lalu, mungkin karena aku dan Disha tidak ditakdirkan untuk bersama makanya kita harus berpisah. Dan masa depan aku adalah kamu, aku sama sekali gak menyesali keputusan aku, aku memang ingin hidup dengan kamu selamanya, bocil."
"Lah kok bocil?" Zhoya tidak suka dipanggil bocil lagi.
Morgan terkekeh, "Itu panggilan sayang aku ke kamu. Mending kita tengokin bocil kita, bocil kita sudah tidak sabar ingin bertemu ayahnya."
"Tunggu dulu..."
Zhoya tidak diberikan kesempatan untuk bicara, pria itu langsung menindih Zhoya, melucuti seluruh pakaiannya, sampai pakaian Zhoya berterbangan di udara lalu berhambur jatuh ke lantai. Dan terjadilah pertempuran panas membuat ranjang itu bergoyang.