
Bugh...
Bugh...
Bugh...
"Arrgghhh!" Ervan dikroyok oleh empat preman, para preman menghajar Ervan tanpa belas kasihan, sampai tubuh Ervan babak belur, bahkan wajahnya bonyok dan hidungnya bercucuran darah.
"A-ampun bang."
"Ampun."
Ervan bersujud memeluk kaki salah satu preman yang hendak menendang tubuhnya. Dia terus mengatakan ampun dengan suara yang bergetar.
"Jangan hajar saya lagi bang!"
Kemudian Damar dan Zoe Atx masuk ke tempat Ervan dihajar oleh para preman, mereka berdua bersekongkol untuk menjebak Ervan, agar Ervan masuk ke perangkap mereka, mereka ingin memberikan pelajaran pada Ervan karena sudah menipu mereka, bayaran yang Ervan janjikan rupanya hanyalah omong kosong.
"Zoe, Damar!" Ervan menatap kedua temannya yang sudah dia tipu itu.
Namun Damar malah melayangkan tinjunya ke wajah Ervan, dia sangat marah, gara-gara Ervan, Damar kehilangan pekerjaannya.
"Gara-gara lu gue harus keluar dari pekerjaan gue. Dan sekarang Pak Darwin meneror gue, dia curiga gue yang menyebarkan berita tentang adek lu." Damar menarik kerah Ervan, memaksa Ervan berdiri. Kemudian dia menghajar Ervan kembali sampai dia terjungkal ke lantai.
Bugh...
"Arrrggghhh!" Ervan mengerang kesakitan, tubuhnya ambruk ke lantai.
"Gara-gara lu gue luntang lantung gak jelas. Tega banget lu nipu ge, Van."
Rupanya skandal tentang Morgan sudah sampai ke negara tetangga, termasuk Singapura, makanya Darwin sangat murka. Padahal dia sudah menyuruh Damar untuk melenyapkan semua berkas tentang Morgan, Shiva dan Dhisa.
Bahkan Zoe Atx pun ikut menghajar Ervan, dia sangat kesal karen Ervan telah menipunya, padahal dia sudah memikirkan konsekuensinya, dia pasti di serang oleh fans berat Morgan Xavier,di channel youtubenya.
...****************...
Zhoya membalas pelukan Morgan, dia menepuk-nepuk pundak sang suami untuk menenangkan hatinya. Zhoya sadar betul bahwa dia memang tidak bisa membohongi hatinya, dia masih mencintai Morgan. Sangat mencintainya.
Saat melihat keadaan Morgan terpuruk seperti ini, hatinya pun ikutan sakit, kemudian dia melepaskan pelukan, memandangi pria yang ada dihadapannya itu, lalu memegang wajah Morgan, "Kalau ingin menangis, menangis saja, pria juga boleh menangis, pria juga boleh meluapkan semua rasa sedihnya, jangan dipendam."
"Kamu tidak marah padaku lagi?" Morgan memandangi kedua bola mata Zhoya.
Morgan tidak tau isyarat apa itu, apakah itu pertanda Zhoya tidak marah lagi padanya dan bersedia kembali padanya, atau hanya memaafkannya saja namun belum tentu kembali pada Morgan.
Morgan tidak mungkin menanyakan pada Zhoya apa dia bersedia kembali padanya, karena waktunya belum tepat. Bisa saja Zhoya hanya kasian padanya.
"Kak Morgan sudah makan?" Tanya Zhoya dengan lembut.
Morgan menggelengkan kepala, "Aku tidak ingin makan."
"Kak Morgan harus makan, kak Morgan harus butuh tenaga untuk menghadapi semua ini." Sikap Zhoya malam ini begitu manis pada Morgan.
Zhoya menarik tangan Morgan membawanya masuk ke dalam rumah, dia membiarkan Morgan duduk di ruang makan.
"Kak Morgan tunggu disini, biarkan aku masak sebentar." Setelah berkata begitu, Zhoya mengedipkan matanya, selalu memberikan senyuman termanisnya untuk Morgan.
Siapa yang tidak terfana dengan sikap gadis dihadapannya itu, membuat Morgan semakin terzhoya-zhoya. Zhoya membuat Morgan menjadi tenang, memberikan kekuatan untuk Morgan agar segera menyelesaikan semua masalah ini.
"Kamu pasti capek, biar aku saja yang masak." Morgan tidak ingin Zhoya kelelahan.
"Sama sekali gak kok kak, aku baik-baik saja." Gadis itu pun pergi ke dapur.
Morgan duduk di ruang makan, dia memperhatikan Zhoya yang sedang memasak di dapur dari kejauhan, dia tersenyum memperhatikan Zhoya. Zhoya mampu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
Malam ini Zhoya memasak nasi goreng dua piring untuk dirinya dengan Morgan, dan menyiapkan dua gelas susu vanilla. Lalu dia membawa semuanya ke ruang makan, menaruhnya di meja makan.
"Nasi goreng sudah siap kak." Zhoya duduk di samping Morgan.
Morgan tersenyum tipis, "Terimakasih, aku coba ya."
Zhoya menganggukan kepala.
Kemudian Morgan pun mencicipi nasi goreng buatan istri tercinta, rupanya Zhoya sudah pandai memasak, masakan Zhoya sangat lezat, membuat Morgan menatap penuh kagum pada Zhoya. Bagi dia Zhoya adalah istri yang sangat sempurna.
Dia sangat menyesali kebodohannya yang selalu menganggap Zhoya belum dewasa dan terlambat menyadari perasaannya. Namun apakah pria seperti dia pantas bersanding dengan Zhoya? Rasanya dia benar-benar seperti sampah saat ini.
"Kak Morgan bukan sampah, kak Morgan adalah pria yang sangat keren."
Morgan menatap Zhoya, mengapa Zhoya tau apa yang sedang Morgan pikirkan saat ini.
"Kak Morgan pria pekerja keras, makanya bisa sukses sampai sejauh ini. Aku yakin kak Morgan mampu melewati semua ini." Kemudian Zhoya memegang tangan Morgan, memberikan senyuman lagi untuk Morgan.