
"Shiva mau kan Om jadi papanya Shiva?" Darwin bertanya pada Shiva dengan kesungguhan hatinya, kemudian pandangannya beralih ke Disha yang sedang terdiam memandanginya.
Padahal ingin sekali dia bilang kalau dialah papa kandungnya Shiva, namun dia takut Disha marah padanya.
Pastinya Shiva langsung berseru, anak itu terlihat bahagia sekali mendengarnya. "Mau sekali Om, Shiva mau Om Dalwin jadi papa Shiva."
Disha tertegun mendengar jawaban dari Shiva, sepertinya Shiva ingin sekali Darwin menjadi papanya. Karena memang faktanya Darwin adalah papa kandungnya Shiva.
Darwin tersenyum mendengarnya, dia mencium pucuk kepala Shiva, "Mulai sekarang Shiva panggil Om, papa ya." Kemudian pandangan Darwin lagi-lagi beralih ke Disha.
Disha mengalihkan pandangannya ke luar bianglala sana, dia memperhatikan suasana di festival itu.
Disha belum mengerti apa maksud Darwin bicara seperti itu pada Shiva, apa mungkin Darwin benar-benar ingin menikahinya? Atau mungkin hanya mempertegas status saja kalau Darwin adalah papanya Shiva makanya Darwin meminta Shiva untuk memanggilnya papa.
"Iya Om, eh papa." Shiva tertawa kecil, anak itu malam ini terlihat ceria sekali, mungkin bisa dibilang hari yang paling bahagia karena sekarang akhirnya dia memiliki seorang ayah.
"Shiva boleh kan bilang ke teman-teman Shiva kalau Shiva punya papa?" Shiva sangat iri kepada teman-temannya yang sering diantar jemput oleh ayahnya, bahkan mereka saling bercerita tentang ayah mereka. Makanya Shiva selalu terlihat sedih jika ada salah satu dari temannya bertanya pada Shiva, Shiva dimana papa kamu? Shiva memilih diam, tidak menjawab, karena dia juga tidak tau dimana ayahnya.
"Tentu saja, boleh sayang. Shiva bilang ke teman-teman Shiva kalau Shiva punya papa yang sangat tampan." Darwin mengatakannya sambil terkekeh.
Tanpa sadar Disha tersenyum mendengarnya, mungkin karena Darwin sangat percaya diri sekali bilang bahwa dirinya sangat tampan, walaupun faktanya memang tampan.
Darwin menyadari Disha sedang memperhatikannya, dia tersenyum menatap Disha, "Mama kamu aja tersenyum-senyum gitu, itu artinya papa memang tampan kan?"
"Kalau Om papanya Shiva itu belalti halus tinggal satu lumah sama Shiva dan mama. Teman-temannya Shiva juga begitu, meleka tinggal satu lumah sama mama dan papanya." Ucap Shiva dengan begitu polosnya.
Disha terkejut mendengarnya, mengapa Shiva harus membahas masalah tempat tinggal.
Darwin tersenyum lebar, "Tanyakan sama mama Shiva, mau gak tinggal di rumah papa?" Darwin memang memiliki satu rumah yang siap untuk dihuni, tadinya rumah itu akan dia persembahan untuk Zhoya jika mereka menikah, namun rupanya kisah perjodohan mereka harus kandas.
Shiva menganggukan kepalanya, kemudian dia bertanya pada Disha. "Ma, mau kan tinggal di lumah papa?"
Disha gelapan ditanya seperti itu oleh Shiva, "Emm... gak bisa lah, sayang. Emm..." Disha kebingungan untuk menjelaskannya pada anak seusia itu.
Shiva langsung cemberut, "Kenapa, Ma? Shiva ingin tinggal satu lumah sama papa Dalwin."
"Emm... begini Shiva, mama dan Om emm... maksudnya papa Darwin, kami belum menikah. Orang dewasa berlawanan jenis yang belum menikah jangan tinggal satu rumah. Itu gak boleh, sayang." Disha terpaksa menjelaskan panjang lebar, walaupun dia tidak tau Shiva akan mengerti atau tidak.
"Mama dan papa nikah aja, bial kita tinggal baleng. Bial sama sepelti teman-teman Shiva." Dengan mudah sekali Shiva berkata seperti itu.
Darwin nampak sumringah, karena akhirnya mendapatkan dukungan dari Shiva. "Kalau papa sih mau aja, makanya Shiva paksa mama Shiva agar mau nikah sama papa ya."
Disha menghela nafas mendengarnya, bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya? Rasanya masih sakit jika dia membayangkan kejadian 4 tahun yang lalu. Walaupun dia juga tidak mengerti, akhir-akhir ini entah mengapa dia mulai merasa nyaman di dekat pria itu, dia harap dia tidak jatuh cinta padanya. Namun dia juga merasa bimbang karena Shiva begitu menyukai Darwin, Shiva sangat ingin merasakan kasih sayang dari seorang papa.