Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Sembilan Puluh


Morgan sudah sampai rumah, dia membawa sebuket bunga mawar untuk sang istri tercinta, dia nampak sumringah, menghirup sebentar aroma bunga tersebut, Zhoya pasti sangat menyukainya.


Rasa sakit pada wajahnya akibat pukulan dari Ervan sama sekali tidak dia rasakan. Baginya Zhoya adalah obatnya, dia bisa sembuh jika sudah bertemu dengan Zhoya.


Morgan langsung mencari keberadaan Zhoya sambil memangil namanya. "Zhoy, aku pulang." Katanya dengan penuh semangat.


Namun tidak ada sambutan dari Zhoya, dia hanya melihat ada makanan yang sudah Zhoya sajikan di meja makan.


Morgan tersenyum melihatnya, dia memang sangat lapar karena belum sempat makan lagi setelah sarapan pagi bersama Zhoya. Namun dia ingin makan bersama Zhoya.


Morgan mencoba mencari Zhoya kembali, mungkin saja Zhoya berada di kamar, dia naik ke lantai atas melewati anak tangga satu persatu, membuka pintu kamar Zhoya, "Zhoya!"


Namun rupanya Zhoya tidak ada dikamarnya juga.


Timbul rasa khawatir di hatinya, dia segera mencari Zhoya ke setiap sudut rumah sambil memanggil nama sang istri.


"Zhoy..."


"Zhoya!"


"Zhoya!"


Morgan merasa frustasi, bahkan di sekitar halaman rumah pun dia tidak melihat Zhoya.


Morgan segera menelpon Galvin, siapa tau Zhoya ada di rumah Galvin.


Begitu teleponnya terangkat, dia langsung menanyakan Zhoya pada sahabatnya itu, "Vin, apa Zhoya ada dirumah lu?"


"Gak ada, Gan. Zhoya hari ini gak mampir ke rumah." Galvin memang tidak tau kalau Omnya sudah menyuruh bodyguard untuk menjemput paksa Zhoya.


Morgan menjadi cemas memikirkannya, saat ini dia sedang berada di ruang khusus untuk mengecek CCTV, dia shock melihat Zhoya yang di bawa paksa oleh 4 orang pria berbaju hitam membawanya ke dalam mobil. "Vin, Zhoya di culik Vin."


"Apa? Zhoya di culik?" Galvin terkejut mendengarnya, dia sangat gelisah begitu mendengar perkataan Morgan.


Morgan menjadi kehilangan akal, dia sangat mencemaskan Zhoya, sampai nafasnya terasa begitu sesak di dada. "Iya, Vin. Gue... gue harus lapor polisi."


Galvin teringat ucapan Om Roy yang bilang akan menjemput paksa Zhoya, padahal Galvin sudah berusaha menjelaskan semuanya pada Om Roy agar Om Roy harus bersabar dulu menunggu Morgan mengklarifikasi semuanya. Rupanya Om Roy tidak mendengarkan saran darinya.


"Lu tunggu sebentar, gue sekarang ke rumah lu. Jangan dulu lapor polisi." pinta Galvin.


...****************...


Morgan dan Galvin melihat CCTV yang merekam kejadian di depan rumah, saat Zhoya di bekam oleh Albert lalu dibawa ke dalam mobil.


"Zhoya bukan diculik Gan, tapi dia ini Albert, bodyguardnya Om Roy." Galvin menunjuk Albert di video itu.


Morgan terperangah mendengarnya, rupanya Zhoya dibawa paksa pulang oleh Om Roy. Wanita yang dia rindukan kini rupanya sudah tidak ada disini.


"Sebentar ya, gue telepon Om Roy dulu." Galvin segera menelpon Om Roy dengan meloadspeakerkan hpnya agar Morgan mendengarnya, Morgan juga harus tau apa Zhoya sedang bersama Om Roy atau tidak.


"Kenapa, Vin?" tanya Om Roy begitu mengangkat telepon dari Galvin.


"Apa Om membawa Zhoya pergi?" tanya Galvin, to the point.


Morgan hanya diam, dia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Om Roy.


"Iya, Om membawa Zhoya pulang. Om dari dulu juga tidak menyetujui Morgan menikah dengan Zhoya, Om ingin Zhoya mendapatkan pria yang pantas. Bukan pria seperti Morgan."


Kata-kata Om Roy begitu menusuk hati Morgan. Namun dia sadar diri, dia memang memiliki masa lalu yang kelam, walaupun sekarang dia sudah berubah, dia ingin menjadi pria yang lebih baik.


Galvin tidak menyangka Om Roy akan berkata seperti itu, dia langsung menormalkan speaker telepon, agar Morgan tidak mendengar suara Om Roy lagi. Dia merasa tidak enak hati pada Morgan.


Galvin sedikit menjauhkan jaraknya dari Morgan, dia ingin bisa lelusa bicara dengan Om Roy. "Morgan itu bukan pria yang seperti Om pikirkan. Dia pria yang baik, bertanggungjawab, dan juga pekerja keras. Malah aku sangat kagum dengan kesuksesan dia tanpa mengandalkan kekayaan ayahnya." Galvin mencoba membela sahabatnya itu.


"Tapi Om sudah mendapatkan calon yang pantas untuk Zhoya. Kamu juga akan menjadi seorang ayah, Galvin. Kamu pasti akan paham maksud Om, Om hanya ingin yang terbaik untuk putri Om."


"Tapi Om..."


"Om ingin Morgan dan Zhoya segera bercerai, setelah itu Zhoya akan menikah dengan Darwin, Darwin adalah pria baik, berasal dari keluarga yang baik. Om harap kamu mengerti dengan keputusan Om."


Klik!


Om Roy pun mematikan telepon.


Galvin berjalan mendekati Morgan kembali, dia harap Morgan tidak mendengar percakapannya dengan Om Roy.


"Emm... Zhoya mungkin masih dalam perjalanan menuju Amerika. Biar nanti gue bicara pelan-pelan sama OM Roy dan Tante Kia..."


Morgan memotong pembicaraan Galvin, "Gak usah, Vin. Biar ini jadi masalah gue. Gue akan mencoba bicara sama Om Roy nanti, setelah gue bisa membuktikan kalau gue gak salah."


Morgan tidak ingin merepotkan Galvin, saat ini Galvin harus fokus dengan istrinya yang sekarang ini usia kandungnya semakin membesar. Hana pasti butuh sekali perhatian darinya. Apalagi Morgan ingin mencoba bersikap gentle, dia harus berani datang sendiri bertemu dengan Om Roy.


...****************...


Setelah Galvin pergi, Morgan duduk di tepi kolam. Dia memandangi foto pernikahannya bersama Zhoya. Dia sama sekali tidak tau kalau dia akan jatuh cinta sedalam ini padanya. Rasanya begitu menyesakkan, kini dia sudah tidak bisa bertemu lagi dengan Zhoya.


Morgan menghirup nafas dalam-dalam, berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak jatuh. Namun tetap saja air mata tiba-tiba berjatuhan begitu saja.


Benar kata Zhoya, pria juga boleh menangis, saat ini dia menangis karena sangat merindukan wanita yang begitu dia cintai.


Sialnya saat dia berusaha keras untuk menghapus air matanya, buliran air mata malah terus berjatuhan tiada henti.


Morgan menutup wajahnya dengan lengan, hatinya benar-benar sakit sekarang ini. Tak ada penyemangatnya lagi.


Zhoy, aku harap kamu baik-baik aja disana. Tunggu aku, aku pasti akan datang untuk menjemputmu.