Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 22


Darwin masih menyerang area inti Disha, desa-han Disha membuat gairahnya semakin menggebu-gebu.


Darwin semakin liar memainkan lidahnya, bergerak masuk ke dalam, terbayang sudah bagaimana sempitnya milik Disha, membuat sang joni merontak-ronta ingin segera masuk dalam lubang surgawinya.


"Owh..." Disha mencengkram seprai, seketika tubuhnya menegang, merasakan ada yang mendesak ingin keluar di area intinya.


Disha menggelinjang, tubuhnya bagaikan tersengat aliran listrik begitu merasakan gelombang keluar dari miliknya.


"Ahhh... Ahhh!" Dia mengerang dengan penuh rasa nikmat, sampai tubuhnya bercucuran keringat.


Darwin tersenyum dengan penuh rasa puas karena sudah mengantarkan Disha mencapai puncak kenikmatannya, dia melihat Disha sangat menikmatinya, Disha sama sekali tidak merasakan takut sekarang, mungkin karena dilakukan dengan cara yang berbeda, apalagi sekarang ini wanita itu sudah syah menjadi istrinya.


Darwin membuka celananya, sehingga terlihat jelas senjata Darwin yang besar, panjang, dan berurat.


Disha bergidik ngeri melihatnya, sampai dia menelan saliva dengan bersusah payah.


Darwin merangkak naik memposisikan dirinya berada diatas Disha, dia mencium bibirnya dengan penuh rasa cinta, lalu menatapnya dengan lembut, "Jangan takut, aku tidak mungkin membiarkan kamu dalam kesakitan."


Disha menganggukkan kepalanya dengan pelan, dia menarik nafas dalam-dalam saat merasakan ada yang bergerak masuk ke dalam dengan begitu pelan.


"Arrghh!" Disha sedikit meringis merasakan senjata Darwin menyeruak masuk ke dalam. Mungkin karena ini kedua kalinya mereka melakukannya lagi, makanya milik Disha masih terasa sempit, dan terasa sedikit perih.


Dalam sekali hentakan senjata Darwin memenuhi milik Disha, dia mengusap keringat yang bercucuran di dahi Disha, lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Disha membalas ciuman Darwin, dia memeluk punggung pria itu, rasa sakit yang dia rasa rupanya hanya sebentar, kini telah berganti dengan rasa nikmat saat Darwin mulai menggerakkan miliknya.


Kemudian Darwin melahap buah dada Disha, membuat Disha mendesah manja, Disha menenggelamkan kepalanya di dada Darwin yang bidang, menghirup dalam-dalam aroma wangi pria tersebut.


Tak terbayangkan sebelumnya, ternyata bercinta rasanya senikmat ini, seakan Disha di bawa terbang mencapai nirwan kenikmatan.


Darwin begitu gagah memompa tubuhnya, apalagi sekarang pria itu menaikan tempo kecepatannya, membuat keduanya mengerang.


"Ahhh...ahhh...ahhh..."


Dan akhirnya mereka telah sampai menuju puncak pelepasan, Darwin menyemburkan ca-iran kental ke milik Disha, lalu tubuh Darwin ambruk memeluk tubuh Disha yang berada di bawahnya.


Mereka saling menatap, lalu tersenyum, dan saling bercumbu. Darwin belum mau mencabut miliknya, karena akan ada ronde ke dua, ketiga setelah ini.


Darwin memegang wajah Disha, memandangnya dengan lembut, "Aku mau lagi, boleh kan?"


Disha tersipu malu, kenapa Darwin harus bertanya seperti itu, dia menganggukan dengan pelan. Darwin telah berhasil membawa Disha keluar dari rasa takutnya.


"Selama tiga hari aku akan mengurung kamu di kamar, kita harus melakukannya dengan berbagai macam gaya."


Disha mengerutkan keningnya, "Emang dalam begituan ada macam-macam gaya? Gaya apa aja?"


"Em... Gaya..." Darwin lupa lagi, dia segera bangkit membawa ponselnya di atas nakas, untuk melihat pesan dari Morgan. Rupanya dia berguru pada Morgan sang casanova, walaupun kini dia telah menjadi mantan casanova.