Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Bonchap 11


Hati siapa yang tidak meleleh begitu mendengar pernyataan cinta dari Darwin, membuat jiwa Disha terenyuh, apakah benar pria itu mencintainya? Setelah berpisah dengan Morgan, dia hampir sudah lupa bagaimana rasanya dicintai oleh seorang pria, membuat dia dilanda kebimbangan.


Disha tidak tau harus menjawab iya atau tidak, sementara dirinya sendiri tidak tau bagaimana perasaannya pada Darwin, dia tidak tau apa yang dia inginkan dari pria itu, Disha melepaskan tangannya yang sedang dipegang oleh Darwin,


"Aku... aku... bingung, aku..." Disha benar-benar belum siap menjawab pertanyaan Dari Darwin.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, nanti saja setelah kamu siap kamu boleh menjawabnya." Darwin paham betul apa yang dirasakan oleh Disha, sangat tidak mudah bagi Disha untuk menerimanya.


Disha mendongakkan kepala, menatap Darwin yang sedang tersenyum padanya. Jantungnya berdetak begitu kencang saat Darwin mencondongkan badannya membuat wajah mereka sangat dekat sekali.


"Yang penting mulai hari ini, aku akan menujukkan bagaimana rasa cinta aku ke kamu."


Hampir saja Disha tidak berkedip menatap kedua bola mata Darwin, dia menelan salivanya, mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak boleh terhipnotis oleh pesona pria itu.


Darwin menahan tawa melihat Disha gugup seperti itu, dia pun menegakkan badannya kembali. Wanita itu selalu saja membuatnya gemas, rasanya ingin sekali memeluknya, mencium bibirnya, namun dia tidak boleh melakukannya, dia harus menahan diri sekuat mungkin.


...****************...


Benar saja, selama satu minggu ini Darwin selalu memberikan perhatian pada Disha dan Shiva. Bukan hanya memberikan makanan dan mainan untuk Shiva, Darwin juga sering memberikan Disha bunga dan makanan kesukaannya.


Bahkan setiap hari Darwin selalu menyempatkan diri untuk mengantar-jemput Shiva ke sekolah, sekalian mengantarkan Disha ke restoran.


Selama satu minggu ini Darwin tidak pulang ke kediaman Pak Ansel, karena dia malas berdebat dengan papanya, Pak Ansel hampir tiap hari meneleponnya, memarahinya karena lebih memilih Disha dibandingkan dengan Lena.


Hari ini kebetulan ada pertemuan dengan Pak Liam, Pak Liam ingin berbicara berdua dengan Darwin, membuatnya gugup, pasti Pak Liam sangat kecewa sekali padanya karena dia telah menolak dijodohkan dengan Lena.


Tepat pukul 5 sore, Darwin pergi ke restoran yang sudah dijanjikan oleh Pak Liam, mereka berdua bertemu di ruang khusus VVIP, agar bisa berbicara sebebas mungkin.


Darwin sedikit menundukkan kepalanya, dia dan Pak Liam saling mengenal dengan begitu baik, ada kalanya bermain golf bersama dengannya. Bukan hanya sebatas patner kerja saja, "Maafkan saya Om, saya pasti sudah mengecewakan Om Liam. Saya harap Om masih mau bekerjasama dengan perusahaan kami."


Om Liam tak langsung menjawab, dia menyeruput dulu minuman yang sudah tersedia disana,.dia meletakkan gelas diatas meja, kemudian dia menatap Darwin dengan tatapan serius, "Sejujurnya Om sangat kecewa sama kamu, tapi bagaimana pun juga Om memiliki seorang putri, Om tidak mungkin tega memisahkan kamu dengan putri kamu."


Darwin mendongakkan kepalanya, menatap Om Liam dengan mata berkaca-kaca, dia tidak menyangka Om Liam akan mengerti dengan posisinya sekarang. "Sekali lagi, maafkan saya Om."


"Lena kemarin sudah kembali ke Australia, Om sudah bicara pada Lena agar Lena bisa berlapang dada menerima keputusan kamu, dia bilang dia akan belajar melupakan kamu. Dan untuk masalah pekerjaan, kamu tau sendiri kan Om adalah orang yang sangat profesional, lagi pula sekarang ini CSTV sudah mengalami perkembangan yang lumayan baik. Semoga CSTV bisa sukses kembali"


Darwin menatap sendu memandangi Pak Liam, "Makasih Om, terimakasih sudah memahami aku, dan terimakasih Om masih mau bekerjasama dengan CSTV."


Pak Liam hanya tersenyum, dia menganggukkan kepalanya.


Darwin bisa bernafas lega, dia sudah bisa menyelesaikan masalahnya dengan Pak Liam. Pak Liam adalah orang yang sangat bijak, makanya dia bisa mengerti dengan posisi Darwin saat ini.