Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Enam Puluh Enam


Morgan membantu sang mama untuk membaringkan badannya diatas kasur, dia sudah selesai menyuapi Bu Widdy dan memberikannya obat. Kemudian menyelimuti tubuhnya.


"Kapan kamu akan membawa Zhoya kesini? Mama ingin bertemu dengannya." tanya Bu Widdy pada Morgan.


Morgan nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Bu Widdy, karena Zhoya selalu menghindarinya membuat dia kesulitan untuk bertemu dengan Zhoya. "Emm... kebetulan Zhoya sedang sibuk mengurus restoran, nanti Morgan pasti membawa Zhoya kesini."


"Iya, mama sudah melihat wajahnya di album foto pernikahan kalian. Dia sangat cantik, dan kelihatannya dia gadis yang baik. Mama sangat menyesal tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian."


"Yang penting mama baik-baik saja sekarang, mama harus sehat."


Sebenarnya Pak Gara sangat tidak senang mendengar pembicaraan istri dan anaknya yang membahas tentang Zhoya, Bu Widdy tidak tau bahwa pernikahan Zhoya dan Morgan itu hanyalah sebuah sandiwara, namun dia tidak mungkin bilang soal itu mengingat kondisi Bu Widdy yang belum stabil. Jadi dia memilih diam saja.


"Kalau begitu, Morgan pergi dulu, Mah. Jaga diri mama baik-baik." pamit Morgan, dia harus bertemu dengan Zhoya hari ini.


Bu Widdy menganggukkan kepala, "Iya, tolong sampaikan salam mama sama Zhoya."


"Iya, Mah." Morgan tersenyum, padahal hatinya sangat terluka, hubungan dia dengan Zhoya sedang tidak baik-baik saja, malah Zhoya ingin mereka segera bercerai.


Setelah sampai halaman rumah, Morgan mengurungkan niatnya saat hendak membuka pintu mobil begitu melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan kediaman Pak Gara.


Morgan melihat Ervan keluar dari mobil, dia tersenyum miring menatap Morgan, dia sama sekali tidak berdosa telah membuat adiknya kesusahan gara-gara dirinya.


Morgan berjalan begitu cepat menghampiri Ervan, tanpa ba bi bu dia melayangkan tinju pada wajahnya, untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Bugh...


"Arrrggghhh!" Ervan memegang wajahnya yang sakit, hampir saja dia terjungkal, dia menatap tajam pada Morgan.


Morgan langsung menarik kerah baju Ervan, "Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini heuh, setelah apa yang sudah kamu perbuat pada keluarga kami."


Ervan malah terkekeh, "Harusnya aku yang bilang begitu, kamu dan mamamu hanya numpang disini!"


"Numpang?" Morgan menyeringai, dia meninju kembali wajah Ervan.


Bugh...


"Aku yang menebus rumah ini, kalau kamu masih punya muka seharusnya kamu jangan datang lagi ke rumah ini." Morgan mengatakannya dengan penuh amarah.


Ervan semakin terkekeh, dia berkata begitu pelan, "Ah aku sudah bertemu dengan istrimu, istrimu sangat manis dan cantik, membuat aku ingin lagi bertemu dengannya."


Bugh...


Bugh..


Morgan menghajar Ervan lagi.


"Morgan!"


Terdengar suara Pak Gara di belakang Morgan, dia tidak terima melihat Ervan dibuat babak belur oleh Morgan.


Morgan menghela nafas, dia berdiri pasrah begitu Pak Gara berjalan menghampiri mereka berdua.


"Ervan itu kakak kamu, sesalah apapun kakak kamu, kamu tidak pantas menghajar dia seperti ini." bentak Pak Gara.


Ervan menyeringai, dia menatap Morgan seakan sedang meledeknya, begitu lah setiap mereka bertengkar. Ayahnya pasti selalu membela Ervan.


Morgan menghela nafas sebentar, kemudian dia menatap sang ayah, "Lalu bagaimana dengan papa? Selama ini papa sering menghajar aku. Mengapa papa tidak bisa sekali saja berada di pihakku?"


Pak Gara terdiam menatap Morgan.


"Semuanya selalu kak Ervan dan kak Ervan. Sampai aku tidak tau harus berbuat apalagi agar papa mau menerima keberadaan aku!" Setelah mengatakan itu, Morgan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Dia tidak ingin menimbulkan kegaduhan, mamanya tidak boleh melihat mereka bertengkar. Karena itu dia memutuskan untuk segera pergi dari sana.


Morgan masuk ke dalam mobil, dia menyetir mobilnya, dia ingin sekali bertemu dengan Zhoya, walaupun Zhoya terus berusaha untuk menghindarinya, namun dia tidak akan menyerah, dia akan berjuang untuk bisa membuat Zhoya kembali padanya.


Mungkin setelah bertemu dengan Zhoya hatinya menjadi sedikit tenang.


Tanpa diduga, ada seorang anak kecil berlari tepat di depan mobil, beruntung Morgan berhasil menghentikan mobilnya dengan cepat.


Ckiiittt...


Morgan begitu terkejut, bayangkan saja kalau sampai dia telat menginjak rem, mungkin anak kecil itu akan tertabrak oleh mobilnya.


Morgan segera keluar dari mobil.


Dia melihat seorang anak kecil perempuan sedang terduduk di aspal, rupanya anak itu Shiva, anak itu sedang berlari mengejar balon, namun balon itu malah terbang melewati jalan raya, makanya Shiva berlari ke arah yang sama.