
Padahal niat Morgan menyuruh gangster menangkap Damar dan Zoe adalah untuk memberi perhitungan karena mereka sudah menghajar kakaknya, sekaligus dia ingin menyelidiki kecurigaannya pada teman Ervan yang bernama Zoe, dia curiga Zoe teman kakaknya itu adalah pemilik channel youtube Zoe Atx yang menyeberkan berita kebohongan tentang dirinya.
Rupanya dugaannya benar, Ervan lah dalang dari balik menyebarnya berita kebohongan itu. Namun ada fakta yang mengejutkan dari Damar, Damar adalah sahabat terdekatnya Ervan, tentu saja dia sangat tau kebusukan tentang Ervan.
"Apa maksud kamu?" tanya Morga pada Damar, dia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dibalik kecelakaan mamanya dua tahun yang lalu. Walaupun kini mamanya sudah sembuh, namun tetap saja kondisinya tidak seperti dulu, kaki Bu Widdy cacat, harus selalu mengandalkan kursi roda.
"Tapi kamu janji setelah itu lepaskan kami." pinta Damar.
Morgan tidak menjawab iya atau tidak, dia mengepalkan tangannya. "Cepat ceritakan apa yang terjadi sebenarnya tentang kecelakaan mama!"
"Sebelum Ervan kabur membawa uang perusahaan, dia menyuruh aku untuk mencari preman, aku berani bersumpah aku gak tau niat dia apa, aku hanya mencarikan preman saja. Aku juga kaget waktu Ervan menyuruh preman untuk mencelakai mama kamu, pereman itu yang menabrak mobil yang kendarai mama kamu."
Perkataan Damar membuat Morgan emosi, padahal selama ini dia bisa menahan diri walaupun Ervan sudah membuat bangkrut perusahaan papanya, namun kali ini kesalahan Ervan sangat fatal.
"Ervan yang menyebabkan kecelakaan mamamu, Ervan memang tidak pernah menerima keberadaan kamu dan mamamu, Ervan sangat membenci kalian, karena itu dia ingin menghancurkan kalian. Makanya dia membawa kabur uang perusahaan karena dia ingin harta Om Gara hanya untuk dirinya saja."
Morgan masih terdiam menatap sangar pada Damar, emosinya semakin meledak, sampai nafasnya tak beraturan, dia harus menemui Ervan, dia harus memberikan pelajaran padanya.
Morgan mencengkram rahang Damar, "Kamu ingin hidup?" tanya Morgan.
"I-iya." Damar mengatakannya dengan gemeteran.
"Kalau begitu kamu harus beritahu siapa preman yang kamu suruh itu."
"Preman itu bernama Bima, dia anggota Gang The Killer."
Morgan melepaskan cengkraman. Kemudian dia menatap sang ketua gengster, "Tolong urus mereka berdua bersama preman yang mencelakakan mamaku, bang. Nanti serahkan mereka semua ke kantor polisi!"
Bang Rojak mengangguk kepala, " Siap, Gan."
Damar dan Zoe ingin protes, mereka tidak mau tinggal di jeruji besi, namun Morgan tak ingin mendengarkan pembelaan diri mereka.
...****************...
Hari ini Ervan sudah bisa pulang ke rumah, dia sangat lega karena bisa menginjakkan kaki di rumah yang megah itu. Berharap suatu saat nanti dia menjadi pemilik rumah dan perusahaan Xavier Grup.
"Ervan, kamu mau makan nak?" tanya Bu Widdy, dia begitu perhatian pada anak tirinya, padahal keadaannya jauh lebih parah dari Ervan, Ervan masih bisa berjalan, sementara dirinya harus mengandalkan kursi roda.
Ervan sama sekali tak menggubris, dia hanya menatap tajam pada Bu Widdy, dia pikir mama tirinya akan mati hari itu juga, namun sayangnya tidak sesuai rencana.
Ervan pergi meninggalkan Bu Widdy yang sedang bersama Bik Nani, kebetulan Bik Nani sedang menyiapkan makanan untuk makan sore majikannya.
Hati Ervan tidak tenang, dia takut jika Morgan berhasil menemukan Damar dan Zoe, tamat sudah riwayatnya.
Ervan rasa dia harus pergi, namun sebelum dia pergi, dia harus memiliki banyak uang untuk bekalnya nanti. Dengan kondisi jalannya yang tertatih-tatih dia mencoba mengecek ruang kerja Pak Gara, dia bernafas lega karena papanya tidak ada disana.
Ervan masuk ke ruang kerja sang papa, dia mencoba mencari berkas perusahaan atau juga sertifikat rumah papanya, agar bisa dia gadaikan sebelum dia kabur.
Ceklek!
Ervan dikejutkan dengan suara decitan pintu terbuka.
"Sedang apa kamu, Ervan?" tanya Pak Gara yang baru masuk ke ruang kerja. Dia kaget saat melihat Ervan berada di ruang kerja papanya.
Ervan menjadi gelapapan, "Emm... a... aku, aku hanya ingin melihat ruang kerja papa. Kan nanti juga Xavier Grup menjadi milikku." Ervan mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri.
Pak Gara rasa dia harus menjelaskan tentang siapa pemilik Xavier Grup itu, "Xavier Grup telah hancur, kamu yang menghancurkan perusahaan. Dan sekarang bukan milik papa lagi, tapi milik adikmu."
Ervan tercengang mendengarnya, "Adik? Aku ini anak papa lho. Anak sulung papa."
"Gak ada yang bisa papa wariskan sama kamu. Papa gak punya apa-apa, rumah dan perusahaan, semua itu milik Morgan sekarang." Bukannya Pak Gara pilih kasih, namun karena memang benar faktanya semua itu kini milik Morgan.
Ervan cekikikan, "Apa karena mama sudah meninggal makanya papa membuang aku? Ternyata benar kan kata orang ibu tiri itu memang jahat, wanita lumpuh itu hanya menginginkan papa harta saja."
Plakk...
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ervan.
"Jaga bicara kamu, Ervan!"
Tangan Pak Gara bergetar, untuk pertama kalinya dia menampar Ervan.
Ervan menatap tajam pada Pak Gara, dia begitu terkejut saat merasakan pipinya sakit mendapatkan tamparan keras dari Pak Gara.
Pak Gara menghela nafas, dia menyadari ini semua salahnya, dia dulu begitu memanjakan Ervan, dari kecil jika Ervan berbuat salah dia membiarkannya karena tidak ingin memarahi anak kesayangannya itu. "Ini semua salah papa, papa tidak bisa mendidik kamu dengan benar. Papa harap kamu bisa bersikap baik pada Morgan dan mama kamu. Bukan mereka yang numpang disini, tapi kita, kita yang numpang, Ervan."