Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Dua Puluh Tujuh


Morgan memang paling tidak bisa jika harus disuruh memilih satu, makanya dia memutuskan untuk memilih dua-duanya. Dia harus lebih dulu memilih menemui Laura yang lagi sakit, kemudian membantu Zhoya.


Morgan menghentikan mobilnya di basement apartemen, dia menutupi wajahnya dengan masker, kemudian memakai topi, dia harus memastikan dulu kalau tidak ada wartawan yang mengikutinya.


Setelah memastikan tidak ada yang mengawasinya, Morgan pun keluar dari mobil sambil membawa paper bag yang berisi bubur.


Setelah berada di depan pintu apartemen Laura, Morgan segera menekan bell.


Tak lama kemudian, Laura membuka pintu dengan hati yang berbunga-bunga karena pria yang dia tunggu-tunggu dari tadi telah sampai juga.


Morgan nampak terkejut saat melihat Laura yang hanya memakai lingerie saja, bukannya dia lagi sakit?


Laura menarik Morgan ke dalam, dan langsung memeluk pria itu. "Sayang, aku kangen sama kamu."


Morgan melepaskan pelukan Laura, "Aku datang kesini untuk mengantarkan bubur buat kamu. Katanya kamu lagi sakit?"


Laura menggenggam tangan Morgan, kemudian meletakkan telapak tangan Morgan ke dadanya, "Disini yang sakit, hatiku aku sakit banget. Makanya aku ingin hari ini melepaskan rasa sakit itu. Aku ingin kamu jadi milikku."


Morgan melepaskan tangannya, "Maafkan aku, aku gak bisa, Laura."


Laura sangat kecewa dengan penolakan Morgan, "Kenapa? Bukannya kamu dulu sering bermain dengan banyak wanita?"


"Iya, tapi dulu. Sekarang ini status aku sudah menikah."


"Tapi kan pernikahan itu cuma sandiwara. Bisa aja kan si Zhoya juga dibelakang kamu ada main dengan pria lain."


"Zhoya gak mungkin kayak gitu. Walaupun iya aku tidak akan melarangnya, dia boleh bersikap sesuka hatinya."


"Zhoya juga bisa, terus kenapa kamu gak bisa?"


Laura tertawa kecil, "Selingkuh? Kita ini aslinya mau menikah lho, tapi gara-gara cewek itu makanya sekarang hubungan kita menjadi kacau."


Morgan memegang kedua pundak Laura, "Tolong jangan bersikap begini lagi, aku sudah berusaha untuk menjadi pria baik buat kamu makanya aku gak nyentuh kamu. Karena aku ingin melakukannya nanti setelah kita menikah, aku ingin berusaha merubah diri aku."


Laura pun terpaksa menganggukan kepala, dia berhambur memeluk Morgan, sebenarnya dia sangat kecewa karena usahanya untuk menggoda Morgan malah gagal, "Tapi kamu janji ya jangan pernah menyentuh istri kamu itu."


"Iya, aku janji. Tapi tolong jangan bohongi aku kayak gini lagi, jangan berpura-pura sakit lagi."


"Maafkan aku, sayang."


Morgan melepaskan pelukan, dia melihat jam yang bertengger di dinding, sudah jam 2 siang, dia harus pergi untuk membantu Zhoya. "Ya sudah, aku buru-buru sekali, aku harus pergi."


"Lho mau kemana?"


Morgan tak mungkin menjawab akan pergi ke restoran untuk membantu Zhoya, "Maafkan aku, aku harus pergi. Ada urusan penting."


Morgan langsung pergi begitu saja, tanpa menggubris apapun yang diucapkan Laura.


"Arrghh...." Laura mengacak-acak kasur yang sudah dia taburi banyak bunga itu, dia tidak mengerti mengapa Morgan sama sekali tidak bernaf-su melihat penampilannya.


Begitu sampai basement, Morgan masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke restoran.


Ckiiiitt...


Morgan menghentikan mobilnya di depan restoran, dia segera keluar dari mobil, lalu berjalan menuju restoran, dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam begitu melihat ternyata di dalam ada Zhoya yang lagi membereskan restoran, dibantu oleh Darwin. Sepertinya kehadirannya tidak diinginkan oleh Zhoya.