Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Empat Puluh Delapan


Setelah sampai ke rumah, Zhoya dan Morgan masih saja saling mendiamkan diri. Zhoya yang berusaha untuk bersikap cuek pada Morgan, sementara Morgan yang merasa canggung karena berpikir apa mungkin Zhoya sudah berhasil membuang rasa cinta untuknya.


"Apa kak Morgan mau makan?" Zhoya memulai pembicaraan. Bagaimana pun juga dia statusnya masih menjadi istri Morgan, dia harus menjalankan kewajibannya untuk melayani suami, dalam hal memasak maksudnya.


Iya, tapi kamu yang ingin aku makan_ jawab hati Morgan, pandangannya tak bisa lepas memandangi wajah wanita cantik itu.


"Kak, mau makan nggak?" Zhoya mengulangi pertanyaannya.


"Emm... iya aku lapar sekali, tolong buatkan aku nasi goreng."


Zhoya hanya menganggukkan kepala, dia segera pergi ke dapur untuk membuatkan nasi goreng buat Morgan.


Zhoya memegang dadanya yang berdebar-debar, dia pikir selama 4 hari ini dia bisa mengurangi sedikit saja rasa cintanya untuk pria itu, namun ternyata usahanya sia-sia, yang ada dia sangat merindukan Morgan, namun percuma saja jika dia bilang rindu toh Morgan selalu menolak perasaannya.


Zhoya hanya memasak satu piring nasi goreng saja untuk Morgan karena dia sudah makan bersama Hana di rumah Galvin. Setelah selesai memasak, Zhoya mengantarkan nasi goreng itu untuk Morgan yang sedang duduk dengan santai di meja makan.


"Kok cuma masak satu piring? Kamu nggak?" Tanya Morgan begitu melihat Zhoya hanya membawa satu piring nasi goreng untuknya.


"Aku udah makan bareng kak Hana, kak. Apalagi sekarang aku ngantuk banget, aku tidur duluan ya."


"Tap...."


Ucapan Morgan belum juga selesai, Zhoya sudah main pergi begitu saja, sepertinya Zhoya memang sengaja berusaha menghindari Morgan.


Morgan menghela nafas melihat Zhoya yang pergi meninggalkannya, membuat dia tidak naf-su makan, tapi dia harus menghargai usaha Zhoya yang telah memasak untuknya.


Zhoya masuk ke dalam kamarnya, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, "Kamu harus kuat Zhoy, kamu pasti bisa. Bersikaplah kalau kamu bisa hidup tanpa dia, okay." Zhoya memperingatkan hatinya.


Sementara itu....


Morgan telah selesai makan, dia masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal karena usahanya untuk pulang ke rumah sia-sia. Dia pikir Zhoya akan menyambut kepulangannya dengan senyuman manis, kemudian merengek sangat merindukan Morgan, namun rupanya Zhoya malah bersikap biasa saja padanya.


Morgan terus mondar-mandir di dalam kamarnya, jujur saja dia tidak bisa tidur, dia ingin sekali menyalurkan rasa kerinduan pada wanita itu, menciumnya, memeluknya, dan menjamah seluruh tubuhnya yang indah.


Morgan juga tidak mengerti, mengapa tubuh Zhoya menjadi candu untuknya, padahal jika dia mau dia bisa tidur dengan wanita lain dengan sangat mudah, malah Laura sudah menyerahkan diri untuk disentuh olehnya. Namun dirinya hanya menginginkan Zhoya.


"Seharusnya aku tidak pulang, dia kelihatannya tidak senang bertemu dengan aku." gerutu Morgan.


Morgan tidak sadar dia sudah mondar mandir di kamar selama dua jam, waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, Zhoya pasti sudah tidur terlelap, sementara dirinya masih tersiksa menahan hasratnya yang menggebu-gebu karena tak bisa tersalurkan.


"Hhh... gak bisa, kamu gak bisa cuekin aku kayak gini, bocil." Morgan lebih suka dengan sikap Zhoya yang manja dan terlihat lucu dibandingkan dengan sikap Zhoya yang sekarang, bersikap seperti wanita dewasa dan mencuekan dirinya.


Morgan rasa dia harus menemui Zhoya, dia segera keluar dari kamarnya. Kemudian mengetuk pintu kamar Zhoya.


Tok... Tok... Tok...


"Bocil, kita harus bicara."


Morgan mengetuk pintu kembali.


"Bocil, jangan bersikap cuek sama aku, aku lebih suka dengan sikap kamu yang dulu. Keluar lah, kalau tidak keluar juga, aku yang akan masuk ke kamar kamu."