Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Empat Puluh Enam


Morgan terpaksa harus menaiki tangga itu, walaupun dengan penuh perjuangan karena dia sangat kesulitan menaiki tangga tersebut, tapi demi bertemu dengan Zhoya, dia harus melakukannya, hingga akhirnya dia sampai ke balkon kamarnya Zhoya, dia mengintip di balik jendela, namun rupanya dia tidak melihat Zhoya berada disana.


"Kemana dia? Mengapa dia tidak ada dikamarnya?" Morgan bertanya kepada dirinya sendiri.


Padahal dia sudah bersusah payah menaiki tangga lipat itu. Tapi ternyata Zhoya tidak ada dikamarnya.


"Apa mungkin dia tidak ada dirumah?"


Morgan mencoba menelpon Galvin, siapa tau Zhoya berada di rumah sepupunya itu.


"Ada apa, Gan?" tanya Galvin begitu mengangkat telepon dari Morgan.


"Apa Zhoya lagi ada disana?"


"Oh ada, dia lagi nonton drakor bareng Hana. Memangnya kenapa?"


"Ahhh... nggak, gue kebetulan ada urusan mendadak disini, sekalian gue mau mampir ke rumah, eh ternyata pasword kunci rumahnya di ganti sama Zhoya."


"Nah iya pas gue pulang kerja, tau-taunya Zhoya sudah ada di rumah, katanya janjian sama Hana mau nonton drakor bareng, sampai gak bisa diganggu sama sekali, gue dicuekin dari tadi."


"Oh ya udah, nanti gue kesana."


"Asiap, gue tunggu bro."


Klik!


Morgan menghela nafas sambil mematikan panggilan telepon, dia terpaksa harus turun lagi melewati tangga itu sambil terus mengumpat, rupanya Zhoya tidak ada di rumahnya, padahal dia hanya memiliki waktu sebentar, Morgan harus ada lokasi syuting lagi besok. Sementara perjalanan menuju ke kota B itu memakan waktu 6 jam.


Begitu sampai di rumah Galvin, dia langsung disambut oleh Galvin di depan rumah.


"Nah kebetulan lu datang, temenin gue main game yuk!" ajak Galvin.


Tentu saja Morgan menolak, karena tujuan dia datang kesana bukan bermain game tapi bermain dengan Zhoya diatas ranjang.


"Gak bisa Vin, gue mau jemput Zhoya pulang."


"Wah sayang sekali, Zhoya itu kalau sudah nonton drakor, dia gak bakalan bisa diganggu, sama kayak Hana. Percaya deh sama gue. Gue aja malah di usir sama mereka."


Namun Morgan tak ingin menyerah, dia masuk ke ruang khusus tempat menonton film, dia harus membujuk Zhoya untuk pulang ke rumahnya.


Zhoya nampak kaget saat melihat Morgan masuk ke dalam ruang khusus nonton film itu, "Kak Morgan, kenapa ada disini? Bukannya belum waktunya pulang?"


"Emm... aku ada urusan penting sama kamu, lebih baik kita pulang." ajak Morgan, dia meraih tangan Zhoya.


Namun Zhoya melepaskan tangan Morgan, "Aduh gak bisa kak, ini tuh episode terakhir, aku harus menontonnya sampai selesai, nanggung."


"Tapi ini penting lho."


"Ini juga lebih penting kak, lebih baik kak Morgan keluar. Aku jadi gak fokus nontonnya."


Morgan tercengang mendengarnya, rupanya drakor lebih penting dibandingkan dirinya, padahal dia bela-belain pulang untuk bertemu dengan Zhoya.


Morgan baru sadar kalau Zhoya itu memang si bocil labil, makanya dia malah bersikap biasa aja ketika melihatnya, apalagi saat melihat Zhoya fokus kembali menonton drakor.


"Astaga, sedih banget kak." Zhoya malah menangis kembali menghayati drama itu.


"Hmm... iya sepertinya bakalan sad ending nih drama." ucap Hana, dia juga ikut menangis.


Zhoya malah mencuekan Morgan, membuat Morgan kesal, dia terpaksa keluar dari ruangan itu, dia malah di tarik Galvin, disuruh menemaninya main game.


"Udah lah, kita ngalah saja, mending main game." ucap Galvin sambil terkekeh.


Morgan terpaksa main game bersama Galvin, sayangnya dia tidak fokus dengan gamenya, karena hasrat yang masih begitu menggebu ingin segera mengulangi malam panasnya bersama Zhoya.


"Ini bukan masalah mengalah atau tidak, tapi gue bisa gila kalau begini."


Galvin terkekeh, dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Morgan, "Aishhh...dasar pengantin baru, jadi itu alasan lu buru-buru pulang kesini?"


Morgan tak menjawabnya,karena tebakan Galvin memang benar.


"Cewek itu kalau nonton drakor lupa segalanya. Baiklah, kalau lu menang, gue bakalan bantu lu biar Zhoya bisa ikut pulang bareng lu."


"Serius lu?" seru Morgan.


"Serius lah." Galvin juga seorang pria, dia sangat tau bagaimana tersiksanya menahan hasrat jika tidak disalurkan.


Demi hanya ingin bisa bercinta kembali dengan Zhoya, sampai dia harus melalui banyak rintangan. Namun Morgan tidak boleh menyerah, dia harus berusaha keras untuk menang melawan Galvin.