Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Lima Puluh Tujuh


Besoknya...


Morgan memeluk Bona yang terluka, tubuh Bona banyak berlumur darah. Morgan menangis, dia begitu terlihat panik. "Electra, bertahanlah. Kamu harus kuat sayang."


Bona memegang wajah Morgan, dia nampak begitu lemah tak berdaya berada di pangkuan Morgan. "Maafkan aku Dirly, aku... aku men-mencintai...mu."


Di dalam syuting film itu Bona pura-pura mati, dia memejamkan matanya. Membuat Morgan menangis histeris. "Oh Electra!"


"Cut!"


"Cut!"


Sutradara Devan menyuruh Morgan dan Bona untuk berhenti sebentar syutingnya, dia merasa tidak puas dengan acting Morgan.


Morgan langsung melepaskan Bona, wajah dan tangannya dibersihkan oleh tim penata rias disana.


"Aduh Morgan, ini sudah ketiga kalinya lho kamu berakting kurang menjiwai." Sutradara Devan merasa tidak puas dengan acting Morgan hari ini.


"Maafkan saya, Sutradara. Saya janji akan berusaha berakting semaksimal mungkin." Morgan sama sekali tidak bersemangat berakting hari ini, entah apa yang dia pikirkan, pikirannya tidak tenang.


"Kamu gak seperti biasanya kayak gini lho, Gan." Sutradara Devan menghela nafas, "Hmm... ya sudah kita break dulu sebentar."


Morgan menganggukan kepala, dia duduk di samping Boy untuk beristirahat, meraih minuman yang sudah Boy persiapkan, dia langsung meneguknya.


"Kamu kenapa sih bang? Gak seperti biasanya kamu kayak gini? Sebentar lagi kita akan syuting Hollywood lho di Inggris."


Morgan tak menjawab pertanyaan dari Boy, dia fokus dengan ponselnya, beberapa kali dia mengirimkan pesan pada Zhoya, Zhoya sama sekali tidak membalas pesan darinya.


[Apa kamu sudah makan?]


[Aku menyuruh Bik Nani memasak untukmu]


[Apa kamu sudah tidur?]


[Apa kamu sudah bangun?]


Bahkan pesan darinya pun tidak di read sama sekali.


Zhoya memang menuruti perintahnya untuk tidak menonaktifkan ponselnya lagi, namun percuma saja Zhoya mengaktifkan ponselnya, Zhoya tidak membalas pesannya sama sekali.


Apakah tanpa dia sadari dia telah menyakiti Zhoya?


Drrrrt...Drrrrt...


Morgan begitu senang mendengar ponselnya bergetar, dia pikir pesan itu dari Zhoya, namun rupanya pesan dari Pak Ramzi, Presdir di Avian Group.


Morgan memang harus mengumpulkan banyak uang untuk melunasi hutang ayahnya pada Pak Dean, dia tidak ingin keluarganya dia perlakukan semena-mena oleh Pak Dean. Bagaimana pun perlakuan Pak Gara padanya, baginya Pak Gara tetap lah ayahnya. Dan dia juga ingin segera lepas dari Laura.


...****************...


Siang ini Zhoya sedang berada di kediaman Pak Gara, karena dia tau Pak Gara tidak ada di rumah, makanya dia pergi kesana untuk menjenguk ibu mertuanya. Sebenarnya selama Morgan di kota B, Zhoya sering datang kesana untuk menjenguk sang mama mertua.


Walaupun dia tau Bu Widdy sedang koma, tapi Zhoya ingin merangsang indera pendengaran Bu Widdy dengan bercerita tentang dirinya, memperkenalkan dirinya pada Bu Widdy.


"Dulu Zhoya pernah Sekolah Dasar di Indonesia, namun saat SMP Zhoya pindah ke Amerika, Zhoya sekolah disana. Terus Zhoya kuliah di Jerman, sayangnya hanya sebentar karena Zhoya keburu menikah dengan kak Morgan saat Zhoya mengambil cuti kuliah."


Zhoya bercerita begitu sambil menyeka tangan dan wajah Bu Widdy dengan handuk kecil yang sudah di basahi air hangat.


"Zhoya ketemu kak Morgan di Jerman, saat itu kak Morgan ikut kak Galvin ke Jerman untuk menolong kak Hana dari seorang psikopat. Waktu pertama kali bertemu dengan kak Morgan, dia orangnya sedikit menyebalkan tapi sangat lucu." Zhoya menceritakannya sambil tersenyum.


"Kak Morgan itu orangnya selalu terlihat pura-pura ceria, namun sepertinya hatinya penuh luka. Dia pandai menyimpan rasa sakitnya."


"Kak Morgan sangat menyayangimu, Mah. Karena itu Zhoya harap mama cepat sembuh, kak Morgan pasti sangat bahagia sekali jika melihat mama sembuh."


Zhoya tidak bisa lama di sana, dia takut Pak Gara keburu pulang, karena Pak Gara sudah melarang dia untuk tidak menginjak rumahnya lagi. Dia berpamitan pada ibu mertuanya itu. "Kalau gitu, Zhoya pulang dulu ya Mah." Zhoya menatap Bu Widdy dengan begitu lembut.


Kemudian Zhoya keluar dari kamar Bu Widdy, dia berpapasan dengan Bik Nani.


"Hari ini bibik masak yang banyak untuk Non Zhoya, tolong tunggu sebentar ya, sebentar lagi masakannya matang."


"Harusnya gak usah repot-repot bik."


"Nanti bibik dimarahin Tuan Morgan kalau Non Zhoya menolak masakan dari bibik."


Zhoya pun pasrah saja, dia tidak ingin Bik Nani kena masalah gara-gara dia. Bicara soal Morgan, dia tau dari kemarin Morgan mengirim pesan padanya. Namun dia enggan untuk membalas peran itu. Dia benar-benar tidak ingin berharap terlalu banyak pada pria itu.


"Kamar Tuan Morgan ada di atas, di sebelah kiri. Siapa tau Non Zhoya penasaran sama kamarnya. Ya udah bibik ke dapur dulu."


Zhoya rasa tidak ada salahnya dia ingin tau bagaimana kamarnya Morgan saat Morgan masih remaja, dia naik ke atas tangga, kemudian masuk ke kamar Morgan, kebetulan tidak di kunci.


Zhoya tersenyum melihat betapa rapihnya kamar Morgan, mungkin karena bik Nani sering membersihkannya, dia mengedarkan pandangannya memperhatikan setiap sudut di kamar itu, kemudian dia duduk di atas ranjang.


Zhoya melihat ada album foto di atas nakas, dia penasaran bagaimana foto Morgan dulu, dia membuka Album itu, terlihat foto Morgan saat masih kecil, Morgan dari dulu memang sangat terlihat tampan, apalagi saat dia melihat foto Morgan yang sudah remaja, pantas saja jika banyak wanita yang memuja-mujanya.


Zhoya membuka lembar demi lembar album foto itu, dia tercekat begitu melihat Morgan sedang difoto berdua dengan seorang wanita, difoto itu memperlihatkan mereka seperti sepasang kekasih. Apa mungkin dia mantannya Morgan?


Zhoya terbelalak begitu menyadari siapa wanita yang ada di foto itu.