Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Lima Puluh Sembilan


Beruntung Zhoya sudah pergi dari kediaman Pak Gara, telat lima menit saja pasti dia akan bertemu dengan ayah mertuanya yang kejam itu.


Betapa terkejutnya Pak Gara saat melihat anak kesayangannya telah pulang ke rumah. Dengan wajah tanpa berdosa, Ervan menyapa papanya. "Hai Pa!"


Namun Pak Gara masih kecewa dengan Ervan, dia menatap tajam pada anak sulungnya itu, "Untuk apa kamu pulang kesini? Belum puas kamu sudah menghancurkan perusahaan?"


"Aku minta maaf Pah, tadinya aku ingin mencoba membuka perusahaan bareng teman aku, ternyata dia nipu aku, dia membawa semua uangnya."


"Itu uang gak sedikit lho, triliunan. Ervan!"


"Iya, Pah. Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."


Pak Gara menghela nafas, "Gara-gara kamu, adik kamu harus menanggung semua ini."


"Ya bagus lah, bertahun-tahun lho dia numpang di rumah ini bersama wanita itu."


"Bagaimana pun juga mereka adik dan mama kamu, gak pantas kamu bicara begitu."


"Terserah papa saja. Aku mau liburan ke Bali bareng teman-teman aku. Karena itu aku minta uang sama papa, gak banyak kok, cuma 10 juta Pah."


Pak Gara sebenarnya masih marah pada anak kesayangannya itu, namun tetap saja dia tidak bisa menolak permintaan Ervan. Dia meronggoh saku celananya, lalu membawa ponsel untuk mentransfer uang ke rekening putranya. "Sudah papa transfer, setelah dari Bali kamu harus pulang, jangan kabur-kaburan lagi. Tapi dalam urusan uang kamu selalu minta, kapan dewasanya kamu."


Ervan hanya terkekeh melihat total transferan ke rekeningnya, dia memang sering menelpon papanya jika butuh uang selama 8 bulan terakhir ini. Mungkin karena dia terbiasa hidup dimanja makanya dia sama sekali tidak merasa bersalah pada keluarganya. Toh kini perusahaan papanya masih baik-baik saja.


"Ya sudah aku pergi dulu, Pah. Tolong sampaikan salam pada adik iparku."


"Apa kamu sudah bertemu dengannya?"


"Emm... baru aja dia pergi."


Pak Gara geram sekali mendengarnya. "Jadi dia berani diam-diam datang kesini?"


"Saat aku periksa latar belakang istrinya Morgan, dia adalah anak dari pengusaha brand Adva di Amerika. Dan ayahnya juga seorang aktor terkenal yang memiliki banyak restoran disana, di beberapa negara di Eropa juga. Bukan kah mereka sangat kaya?"


Pak Gara hanya diam, dia memang sudah tau masalah itu. Namun tetap saja tidak akan mengubah kalau saat ini dia memiliki hutang pada Pak Dean, dia tidak mungkin merusak harga dirinya untuk meminjam uang pada keluarga Zhoya. Apalagi Morgan bilang dia akan melunasi hutang itu atau menikahi Laura setelah bercerai dengan Zhoya.


Setelah Ervan pergi, Pak Gara langsung memanggil Bik Nani. "Bik Nani!"


"Ada apa, Tuan?" tanya Bik Nani, dia segera keluar dari dapur begitu mendengar Pak Gara memanggilnya.


"Apa benar Zhoya datang kesini?"


"I-iya, Tuan." Bik Nani menjawabnya dengan terbata-bata.


"Berani sekali dia menginjakan kaki ke rumah tanpa sepengetahuanku." Pak Gara sangat geram.


"Non Zhoya hanya ingin menjenguk Bu Widdy, Tuan. Saya rasa Non Zhoya sangat menyayangi Bu Widdy, tadi saya tidak sengaja melihat Non Zhoya membersihkan badan Bu Widdy."


Pak Gara pun diam, dia tidak menyangka Zhoya datang ke rumah untuk mengurus istrinya. "Hmm... ya sudah, tolong buatkan saya coklat panas."


"Baik, Tuan."


...****************...


Besoknya....


Hari ini adalah grand opening Restoran Tirai Bambu, pastinya seluruh karyawan harus hadir disana. Mereka akan menjamu para tamu penting dengan berbagai macam menu makanan dan minuman dari restoran tersebut, sebagai ajang memperkenalkan juga bagaimana lezatnya makanan disana.


Sebagai seorang CEO, Zhoya sangat sibuk sekali, dia mengatur para karyawan sesuai tugasnya masing-masing.


Saat Zhoya masuk ke dalam dapur, dia memperhatikan Disha yang sedang sibuk memasak bersama chef yang lainnya. Disha memang terlihat seperti wanita baik-baik, sederhana, dan dewasa. Mungkin itu lah yang Morgan sukai dari Disha. Sesuatu yang tak ada di dalam diri Zhoya.


Walaupun hatinya sakit melihat Disha, dia tetap harus bersikap profesional. Dia harus berusaha bersikap ramah kepada semua keryawan.


Zhoya yakin Morgan tidak akan datang ke acara grand opening ini. Karena dia sadar dia sama sekali tidak ada artinya untuk Morgan.


"Nona, bisakah anda mencicipi masakan kami?" ucap Disha sambil tersenyum manis.


"Emm... oh iya, boleh."


Sementara itu...


Morgan telah menyelesaikan syuting dengan baik, makanya dia bisa beristirahat sore ini.


Sudah beberapa kali ponselnya bergetar, namun bukan dari orang yang diharapkan, melainkan dia mendapatkan pesan dari Laura.


[Sayang, aku kangen.]


[Sayang, kenapa gak angkat telepon aku?]


[Sayang, aku mencintaimu. Kapan kita bisa ketemu?]


Morgan enggan untuk membalas pesan dari Laura. Sebenarnya dia sangat muak karena wanita itu terus memanggilnya sayang.


Entah mengapa Morgan jadi merindukan Zhoya, bukan merindukan tubuhnya, melainkan merindukan hari-hari yang dia lalui bersama Zhoya, namun entah mengapa akhir-akhir ini hubungan mereka menjadi merenggang seperti ini.


Morgan sangat merasa kehilangannya. Zhoya yang biasanya bersikap manja padanya, Zhoya yang selalu bersikap ceria, Zhoya yang selalu mengirim pesan untuk menyemangatinya jika dia bekerja. Semua itu tidak ada lagi.


"Boy, sekarang hari apa?"


Kebetulan sekarang ini Morgan sedang ngopi bareng Boy di kursi sofa.


"Hari Kamis, kenapa memangnya bang?"


Morgan terbelalak, dia baru ingat kalau hari ini akan diadakan grand opening di restorannya Zhoya.


"Boy, antarkan aku ke bandara." Morgan harus segera hadir diacara grand opening restoran milik Zhoya itu. Sekalian dia ingin sekali bertemu dengan Zhoya, jujur saja dia sangat merindukan wanita itu.


Morgan tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, akhir-akhir ini dia tidak bisa tidur nyenyak karena sering memikirkan wanita itu. Apakah mungkin tanpa dia sadari dia telah mulai mencintai Zhoya?