Morgan Sang Casanova

Morgan Sang Casanova
Lima Puluh Lima


"Benarkah? Siapa namanya?" Morgan jadi penasaran dengan cerita Zhoya itu tentang karyawannya Zhoya di restoran yang tanggal lahirnya sama dengan Disha.


"Namanya..."


Drrrrt...Drrrrt...


Zhoya tak melanjutkan perkataannya begitu mendengar ponsel Morgan bergetar, Morgan langsung mengangkat telepon dari Boy.


"Ada apa Boy?"


"Bang kok kamu belum sampai juga kesini?"


"Sebentar lagi aku berangkat, aku sudah minta izin sama Sutradara Devan kalau aku akan datang telat kesana."


"Kebiasaan kamu bang, kalau aktor lain gak akan diizinin pastinya."


"Sorry." Morgan hanya terkekeh.


"Tadi aku bertemu dengan Laura katanya dia mau balik ke ibu kota, dia nanyain kamu sudah balik belum kesini, aku jawab belum."


Morgan melirik Zhoya, dia jadi tidak enak hati pasti Zhoya berpikir yang enggak-enggak tentang dirinya, apalagi volume handphonenya lumayan tinggi. "Emm... Baguslah, biarkan aja dia pergi."


Zhoya menghela nafas mendengar pembicaraan Morgan dengan Boy, rupanya Laura ada di kota yang sama dengan Morgan. Menjadi istri seorang aktor terkenal itu cobaannya memang berat.


"Udah dulu ya Boy, aku lagi makan nih."


Klik!


Morgan mematikan ponselnya, dia memandangi Zhoya yang kelihatan tidak bersemangat makan, pasti Zhoya pikir dia telah berbuat macam-macam dengan Laura.


"Selama di kota B aku hanya bertemu dengan Laura sekali, itu juga hanya sebentar, karena aku buru-buru sekali ingin segera pulang."


"Hmm... tidak apa-apa, lagian dia calon istri kak Morgan." Zhoya pura-pura baik-baik saja walaupun hatinya cemburu.


Zhoya langsung menatap Morgan, dari tatapan Morgan dia tau Morgan berkata jujur apa adanya.


"Aku jadi penasaran soal pasword rumah kak Morgan, apa itu tanggal lahir mantan kakak? Apa dia wanita yang sudah membuat kakak patah hati?"


"Untuk apa bertanya seperti itu?" Morgan tidak ingin membahas soal Disha.


"Hanya ingin bertanya saja, untuk memastikan hati aku."


"Maksud kamu?" Morgan tidak mengerti dengan apa yang Zhoya ucapkan.


"Kenapa kakak tidak ingin menjawabnya?" Zhoya malah balik nanya.


Morgan menghela nafas, tidak ada gunanya juga dia berbohong pada Zhoya. "Emm... iya, pasword itu adalah tanggal lahir mantan aku."


Jawaban dari Morgan begitu membuat hati Zhoya sakit, sepertinya Morgan begitu sangat mencintai mantan kekasihnya itu, sampai Morgan memakai pasword rumahnya dengan tanggal kelahiran sang mantan.


Morgan menyesali kebodohannya yang belum sempat mengganti password rumah. "A-aku... aku memakai pasword itu sudah lama, jauh sebelum kita menikah. Dan maafkan aku, aku belum sempat mengganti passwordnya."


"Apa kak Morgan masih mencintainya?"


Morgan enggan untuk membahasnya, "Itu semua masa lalu, untuk apa kita membahasnya?"


Justru jawaban dari Morgan membuat hati Zhoya semakin sakit, Morgan tidak bisa menjawab iya atau tidak, apa mungkin Morgan selama ini masih mencintai mantan kekasihnya? Apa tidak ada sedikit saja ruang hati yang tersisa untuk Zhoya?


"Baiklah, kalau kak Morgan tidak ingin membahas tentang masa lalu kak Morgan. Sekarang aku ingin tau bagaimana perasaan kak Morgan padaku. Apakah ada perasaan sedikit saja untukku?"


Zhoya tau saat ini ada Laura diantara mereka tapi karena dia tau Morgan tidak mencintai Laura makanya Zhoya masih berusaha untuk mencuri hati Morgan. Namun jika diantara mereka ada wanita yang sangat dicintai oleh Morgan, itu artinya Zhoya harus mundur. Karena itu dia ingin tau tentang perasaan Morgan padanya.


Morgan nampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Zhoya, karena dia sendiri pun belum bisa memahami perasaannya sendiri. "Aku..."