
Selama 4 hari ini Darwin sangat sibuk sekali, karena banyak masalah perusahaan yang harus dia urus, akibat kekacauan yang telah dia buat, dia harus meyakinkan beberapa pemegang saham di CSTV agar tetap ingin bekerjasama dengannya. Makanya selama itu dia belum bisa menemui Disha dan Shiva, dia belum bisa memenuhi permintaan Shiva untuk mengajaknya ke festival.
Saat ini dia sedang sarapan pagi bersama keluarganya, namun dia nampak tidak begitu menikmati sarapan paginya karena sang ayah terus saja mengoceh padanya.
"Ini semua gara-gara kamu, Darwin. Seharusnya waktu itu kamu tidak perlu melakukan jumpa pers, sekarang CSTV mengalami banyak kerugian gara-gara kamu. Bahkan nama baik kamu sekarang sudah jelek di media." Pak Ansel masih saja menyalahkan Darwin.
Darwin memilih diam, dia tidak ingin menanggapi perkataan ayahnya.
Bu Selvi mencoba membela putranya, "Seharusnya kita bangga sama anak kita, dia seorang pria sejati, berani sekali mengakui kesalahannya di muka umum. Karena memang anak kita yang salah."
"Selalu aja kamu bela, makanya dia gak pernah mau mendengarkan ucapan aku." Pak Ansel malah menyalahkan didikan istrinya.
Darwin terpaksa angkat bicara, dia tidak ingin mamanya dibentak seperti itu oleh sang papa. "Selama beberapa hari ini aku sudah mencoba meyakinkan para pemegang saham, mereka masih tetap bersedia bekerjasama dengan kita. Dan CSTV juga ratingnya sudah tidak terlalu buruk, aku janji akan membawa CSTV sukses kembali."
"Roy sudah membatalkan perjodohan kamu dengan Zhoya, dia lebih memilih Morgan Xavier menjadi menantunya. Papa tak habis pikir dia lebih memilih seorang aktor dibandingkan dirimu." Pak Ansel mengatakannya dengan nada kecewa.
"Zhoya dan Morgan saling mencintai, mereka memang harus hidup bersama. Dan Morgan memang pria yang pantas mendapatkan Zhoya, dia pria yang hebat, aku bahkan tidak bisa seperti dia." Darwin malah membela Morgan.
Pak Ansel berdecak, bisa-bisanya Darwin merendahkan dirinya sendiri, malah membela Morgan Xavier. "Kamu tenang saja, papa bisa kok dapat menantu yang lebih baik dari Zhoya. Kamu tau kan Lena? Dia adalah putri dari Pak Liam, pemegang saham terbesar kedua di CSTV, Pak Liam pernah bilang sama papa kalau putrinya sangat menyukaimu, hanya kamunya saja yang terlalu cuek pada wanita."
Darwin memang cuek pada wanita, mungkin karena dari dulu dia hanya menyukai satu wanita, yaitu Zhoya. Walaupun sekarang dia sudah mengikhlaskannya dengan sepenuh hati, karena cinta Zhoya hanya untuk Morgan.
"Aku sudah bilang sama papa, aku akan bertanggungjawab sama Disha dan Shiva." Darwin tidak ingin dijodohkan lagi.
"Papa gak akan menyetujuinya, papa yakin wanita miskin itu memanfaatkan anaknya untuk menguras harta kita nanti." Pak Ansel mengatakannya dengan tegas.
"Disha bukan wanita seperti itu, Pah." Darwin memang belum begitu mengenal Disha, namun dia yakin Disha bukan perempuan seperti yang dituduhkan oleh papanya.
Bu Selvi ikut bicara kembali, "Tapi diantara mereka itu sudah punya anak, Pah. Darwin memang harus bertanggungjawab sama mereka, dan mama ingin sekali bertemu dengan cucu kita."
"Kalau begitu ya sudah, papa akan menyewa pengacara hebat agar hak asuh anak itu jatuh ke tangan Darwin. Darwin ayahnya, dia berhak atas Shiva." begitu enteng sekali Pak Ansel mengatakannya.
"Sudah beberapa kali aku bilang aku gak setuju, Pah. Jangan pernah melakukan itu dibelakang aku. Disha yang melahirkan dan membesarkan Shiva, kita gak bisa seenaknya mengambil Shiva darinya. Pokoknya aku akan bertanggungjawab sama mereka." Darwin merasa yakin dengan keputusannya, dia memang belum bilang secara langsung pada Disha tentang niatnya yang akan bertanggungjawab, karena dia yakin jika dia mengatakannya sekarang Disha pasti menolaknya, karena itu dia harus bisa mengambil hati Disha agar mau menerimanya. Sesuai saran dari Morgan.
Setelah berkata begitu, Darwin beranjak dari kursi, dia tidak naf-su makan lagi, gara-gara ucapan papanya.
Darwin tidak sengaja melihat seorang wanita yang sedang berjalan kaki diatas trotoar, matanya membelalak saat menyadari wanita itu adalah Disha. "Itu kan Disha?" gumamnya.
Darwin menghela nafas, dia menjalankan mobilnya dengan pelan mengikuti Disha. Dia menatap iba pada wanita itu. Disha mungkin memilih berjalan kaki dibandingkan harus naik taksi, karena dia harus bisa menggunakan uang gaji dengan sehemat mungkin.
Darwin rasa lebih baik dia menawarkan tumpangan pada Disha, dia yakin Disha pasti mau berangkat bekerja, padahal jarak dari sana ke restoran sangat jauh.
Darwin terkejut saat melihat Disha sedang bersitegang dengan dua orang preman, sepertinya wanita itu ingin menolong seorang siswi SMP dari gangguan para preman. Dia menatap takjub pada Disha, rupanya wanita itu pemberani juga.
Mengagumkan!
Pantas saja dulu Morgan pernah jatuh cinta padanya.
Darwin segera menghentikan mobilnya, dia keluar dari mobil untuk menolong mereka.
"Wah... wah ada yang nantangin nih, bagaimana kalau kita berantemnya di kamar aja, hm? Akan aku buat kamu menjerit nikmat." Preman itu terlihat menarik tangan Disha begitu mendengar ancaman dari Disha yang akan melaporkan mereka ke pihak berwajib.
"Kurang ajar!" Darwin mengatakannya dengan pelan, dia terlihat emosi mendengar perkataan preman itu yang berbicara kotor pada Disha. Dia berjalan dengan cepat menghampiri mereka.
Tanpa diduga, Disha melayangkan tamparan keras pada preman itu.
Plakkk....
Darwin terperangah melihatnya, dia segera berlari takut preman itu menyakiti Disha.
"Brengsek, berani lho nampar gue!" Preman itu terlihat sangat emosi. Dia ingin berbalik menampar Disha.
Beruntung Darwin berhasil menahan tangan itu. Telat sedikit saja tangan kasar itu pasti sudah melukai wajah cantik Disha.
Disha mencoba melindungi wajahnya dengan tangannya sambil menudukan kepala, dia menyadari ternyata ada seseorang di depannya, dia mendongakan kepala. Disha terperangah saat melihat siapa yang menolongnya.
"Da-Darwin?" Disha mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti mengapa Darwin tiba-tiba berada disana.